Mamuju Tengah, Katinting.com – Dalam satu tahun terakhir, beberapa titik di wilayah Mamuju Tengah, masih menjadi bulan bulanan langganan banjir luapan dari sungai sekitarnya, jika terjadi intensitas hujan yang tinggi di sekitar hulu dari masing masing sungai di wilayah Bumi Lalla Tassisara.
Beberapa wilayah Mamuju Tengah, kala hujan dibagian hulu sungai yang melintasinya, airnya meluber hingga ke pemukiman dan lahan produksi warga, mulai dari Desa Lemo lemo, Kecamatan Pangale, Desa Lara, Desa Salubiro, Kecamatan Karossa, Desa Pangalloang, Tabolang di Kecamatan Topoyo dan Desa Batusitanduk, Desa Tobadak di Kecamatan Tobadak
Semua sungai yang melintas di wilayah pada desa di atas adalah sungai dengan jumlah debit air yang besar saat banjir, sehingga badan sungai tak dapat menampung, dan masuk ke pemukiman warga pada wilayah yang dilintasi alur sungai.
Baca juga : https://katinting.com/curah-hujan-meningkat-di-hulu-banjir-kepung-mamuju-tengah-di-3-titik/
Kondisi air sungai membanjiri pemukiman warga saat debit air sungai meningkat, mendapat perhatian dari aktivis pemerhati lingkungan Sulawesi Barat Mustafa Rahman, Kamis (20/10). Ia mengemukakan bahwa tata kelola bantaran sungai yang terabaikan salah satu pemicu utama banjir di beberapa titik di Mamuju Tengah setiap saat.
“Tentu ini tidak lepas dari pola salah urus bantaran sungai yang ada di Mamuju Tengah, yang selama ini terabaikan, akibatnya warga menjadi korban dampak dari salah urus bantaran sungai, dengan terpapar banjir yang setiap saat melanda wilayah pemukiman mereka” terang Mustafa.
Labih detil Ia menjelaskan, bahwa seandainya semua bantaran sungai yang ada di Mamuju Tengah, dijaga dan di tata kelola dengan baik, berdasarkan prinsip pengelolaan lingkungan, maka wilayah Mamuju Tengah yang selama ini, menjadi langganan banjir luapan sungai, mestinya sudah tidak kita saksikan hari ini.
“Dan ini menjadi tugas pemerintah kabupaten yang melekat di Dinas Lingkungan Hidup yang ada di kabupaten, tapi pertanyaan kemudian, dengan melihat beberapa wilayah menjadi bulan bulanan banjir, maka patut kita bertanya, sebenarnya DLH di Mamuju Tengah sudah kerja apa ?” jelas Mustafa sembari bertanya.
Katanya, bisa kita saksikan abainya pemerintah daerah ini terhadap pengelolaan tata kelola bantaran sungainya, di mana beberapa bantaran sungai di Mamuju Tengah, kita bisa temukan tanaman sawit hanya berjarak tidak lebih dari 50 centimeter dari bibir sungai.
“Sudah tentu akar sawit ini, tidak punya fungsi menahan laju terjadinya erosi tebing sungai, karena mudah digerus air, tapi kalau yang di tepi sungai itu adalah tanaman keras, punya akar yang mampu menancap ke bawah tanah, maka ini potensi membantu kita menahan laju erosi pinggir sungai, dan tentu ini menjadi kewenangan DLH mengontrol keseimbangan pengelolaan lingkungan” Kata Mustafa.
Untuk itu, Ia menyampaikan saran, kiranya Pemkab Mamuju Tengah, segera memastikan tata kelola bantaran sungai di Mamuju Tengah, berjalan dengan baik, harus ada sikap tegas dari pemerintah atas pelanggaran pemanfaatan bantaran sungai.
“Ketegasan pemerintah Mamuju Tengah, tentu akan dirasakan kelak untuk jangka panjang, terhadap pengelolaan lingkungan di Bumi Lalla Tassisara” pungkas Mustafa.
(Fhatur Anjasmara)






