Mamuju, Katinting.com – Hembus angin sepoi, menyeruak di antara dahan pepohonan di sekitar kantor gubernur Sulawesi Barat, mengantar derap langkah bilangan anak muda, memasuki ruang kantor Gubernur Sulawesi Barat yang berdiri megah dibilangan Jl. Pattana Endeng, Simboro Mamuju.
Satu tekad yang mereka bawa, dalam tujuan mereka menghadap Wakil Gubernur Sulbar siang kemarin. Mereka pun sudah ditunggu Wagub Sulbar di ruang kerjanya. Mereka tiba di sebuah ruangan yang dihiasi lukisan-lukisan tradisional Mandar, menjadi saksi bisu pertemuan hangat antara Salim S. Mengga sang Wagub yang ramah dan para pemuda dari Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Mamasa.
Rabu siang itu (28/05), terasa berbeda. Bukan hanya karena hangat yang menyergap, tapi juga oleh semangat yang menggebu dari mata para pemuda itu. Mereka datang dengan satu misi, menjadikan Mamasa, tanah kelahiran mereka yang dikelilingi gunung dan lembah, sebagai mercusuar pariwisata Sulawesi Barat.
“Mamasa bukan sekadar kabupaten,” ujar Salim, suaranya lirih tapi penuh keyakinan, “Ia adalah mutiara yang selama ini tersembunyi, menunggu untuk ditemukan.
Wagub yang akrab disapa Jenderal Salim, itu memandang sekeliling, seolah menggambarkan pemandangan yang ada di benaknya, jalan-jalan yang mulus menuju air terjun yang memesona, homestay-homestay yang memadukan modernitas dan kearifan lokal, serta tangan-tangan terampil warga yang menganyam ekonomi kreatif dari tenun dan kopi.
Di seberang meja, Akbar, Ketua PC PMII Mamasa, menyambut antusias.
“Gunung-gunung kami, lembah-lembah hijau, dan budaya yang hidup, semua adalah kanvas yang menunggu untuk diukir menjadi mahakarya,” katanya, matanya berbinar.
Pertemuan itu bukan sekadar formalitas. Ia adalah pertemuan dua generasi: yang satu membawa kebijakan dan wewenang, yang lain membawa mimpi dan tenaga. Mereka berbicara tentang infrastruktur, tentang festival budaya, tentang peternakan sapi yang bisa menjadi ikon, tentang pendidikan yang mempersiapkan generasi mendatang.
Dan ketika pertemuan usai, ditengah hangat penuh keakraban. Yang tersisa adalah langkah-langkah pasti menuju sebuah Sulbar yang tak lagi hanya dikenal sebagai “daerah sebelah”, tapi sebagai rumah bagi mutiara-mutiara yang siap bersinar. (*/Fhatur Anjasmara)






