Mamuju, Katinting.com — Di tengah riuhnya arus informasi digital, sebuah upaya merajut identitas pesan kesehatan muncul dari sudut Sulawesi Barat. Seminar nasional yang berpadu dengan Musyawarah Daerah (Musda) II Perkumpulan Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia (PPPKMI) Provinsi Sulawesi Barat membuka ruang itu di Auditorium Poltekkes Kemenkes Mamuju, Sabtu (18/7/2026). Tema yang diusung, “Edukasi Kesehatan Zaman Now: Branding dan Media KIE di Era Digital”, menjadi benang merah diskusi tentang bagaimana komunikasi kesehatan harus mengejawantah dalam rupa yang mudah dikenali, menarik, dan menggerakkan perubahan perilaku.
Promkes Siola — sebuah model penguatan branding kesehatan yang digagas Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat — menjadi sorotan. Wawan Iskandar, Tenaga Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku DKPPKB Sulbar yang juga menjadi moderator, memaparkan inti konsep itu: menyatukan bahasa visual dan strategi melalui prinsip “1 Desain, 1 Postingan, 1 Media, dan Hashtag Seragam”. Dengan format demikian, pesan kesehatan diharapkan berwajah tunggal, mudah diingat, dan menjangkau publik lebih luas lewat kebiasaan konsumsi konten daring.
Narasi praktis datang dari dr. Indrianti Idrus yang akrab dipanggil dr. Eche, konten kreator kesehatan dan salah satu narasumber seminar. Ia memberi apresiasi atas inovasi Promkes Siola, menilai pendekatan ini relevan untuk era media sosial karena membangun identitas visual yang konsisten sekaligus memudahkan kolaborasi antar-pemangku kebijakan—Provinsi dan kabupaten—dalam menyusun kalender konten terstruktur dan terencana. Menurutnya, konsistensi visual dan pesan adalah kunci agar edukasi tak sekadar tersiar, tapi juga menetap dalam ingatan dan mendorong tindakan.
Kepala DKPPKB Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, melalui perwakilan Plt. Kasubag Keuangan dan Aset Rendi Rivaldi, menegaskan pentingnya transformasi promosi kesehatan seiring perubahan teknologi dan perilaku masyarakat. “Promosi kesehatan saat ini tidak cukup hanya menyampaikan informasi. Dibutuhkan strategi branding yang kuat, konten yang menarik, dan identitas komunikasi yang seragam agar pesan kesehatan lebih mudah diterima dan mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat,” ujarnya. Ia menambahkan, peningkatan kapasitas tenaga promosi kesehatan merupakan investasi strategis yang sejalan dengan Panca Daya ke-3 Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat—membangun sumber daya manusia unggul dan berkarakter demi visi “Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera”.
Forum ini juga menjadi arena konsolidasi organisasi. Musda PPPKMI yang berbarengan dengan seminar berfungsi menyusun arah program dan kepengurusan ke depan, memperkuat peran tenaga Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku dalam mendukung transformasi layanan kesehatan primer: pencegahan penyakit, percepatan penurunan stunting, pengendalian penyakit menular, dan peningkatan kesadaran hidup bersih dan sehat. Ketua Tim Kerja Promkeskomtan DKPPKB Sulbar, Muh Saleh, hadir bersama anggota timnya untuk memperkuat kapasitas tim-provinsi dalam merespons tantangan komunikasi publik di era digital.
Para peserta memperoleh penguatan pada strategi branding kesehatan, pemanfaatan media digital, penyusunan konten edukasi yang efektif, serta urgensi kolaborasi lintas profesi untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat. DKPPKB Sulbar berharap hasil seminar dan Musda melahirkan inovasi KIE yang adaptif terhadap teknologi sehingga pesan-pesan kesehatan dapat menjangkau masyarakat lebih luas, cepat, dan berdampak pada peningkatan derajat kesehatan.
Di ujung sesi, gema harapan terucap: dengan kerapatan komunikasi, ketegasan identitas, dan kerja sama antarlevel pemerintahan serta organisasi profesi, budaya hidup sehat dapat tumbuh bukan hanya sebagai program, tetapi sebagai napas kolektif masyarakat Sulawesi Barat. (*/FA)






