
Laporan : *Mahfudz di Topoyo, Mamuju Tengah
Mateng, Katinting.com – Sekira pukul 09.40, Jumat (05/06), Tanpa sengaja penulis mengkepoi status kontak WhatsAap, dan mata penulis tertuju gambar bergerak di status Kepala Dinas Sosial Mamuju Tengah, Asmira Djamal, dengan caption, “Dua Tahun Hidup Dalam Tenda”.
Tidak membuang waktu, penulis segera menghubungi, guna mendapatkan informasi detil informasi gambar dan alamatnya, entah mengapa penulis tiba tiba tergerak, ingin ketempat orang dalam video pada status Kadinsos Mamuju Tengah.
Tidak kurang dari 30 menit kemudian, tepatnya pukul 10.25 Wita, penulis mendapatkan balasan dari Kadinsos Mamuju Tengah, nama dan alamat detil orang dalam video tersebut, termasuk kemudian keinginan beliau meminta tolong kepada sopirnya, untuk mengantar penulis, tapi penulis menyampaikan bahwa kalau alamatnya lengkap, dan penunjuk arahnya tepat, maka tak sulit menemukannya, sehingga penulis bergegas menuju kelokasi.
Diperjalanan penulis mencoba menghubungi kembali Ibu Kadinsos Mamuju Tengah, memastikan arah titik koordinat, dan alhasil respon Kadinsos Mamuju Tengah pun juga begitu cepat, sehingga penulis mulai paham arah kemana penulis harus tuju, dan tepat pukul 11.30 Wita penulis tiba di Desa Salupangkang I, dan di perbatasan Desa Tangkau – Desa Salupangkan I, penulis berhenti sejenak bertanya pada warga, penulis mesti lewat mana mengakses rumah ibu yang ada dalam gambar vidio status WA dari Kadinsos Mamuju Tengah, dan ternyata warga cukup mengenalnya, sehingga mudah mengarahkan penulis lewat mana masuk kerumah tempat berdiam ibu dalam video tersebut.
Tepat pukul 11.35 Wita, penulis menemukan alamat dari tempat tinggal ibu yang ada dalam video, kemudian penulis ketahui namanya Nurhayati, sungguh penulis tak percaya, pemandangan didepan mata, atas apa yang penulis saksikan, satu kata Miris, benar benar kemiskinan melekat pada hidup keluarga Nurhayati dengan dua anaknya yang masih Balita (Bayi Lima Tahun) seorang suami yang tak punya pekerjaan tetap.
Saat bertemu dengan penulis, Nurhayati sedikit sungkan, tapi penulis menjelaskan maksud dan tujuan hingga mengapa penulis bisa menemukannya, barulah kemudian kesungkanannya penulis dapat reda, sehingga pertemuan penulis dengan Nurhayati cair.
Tepat disamping gubuknya, penulis diterima olehnya, dari balik sobekan tarpal bekas, penulis bisa melihat dua anaknya, yang pertama sekira dua tahun bernama Adelia kelamin perempuan dan yang satu masih bayi berusia kurang lebih satu bulan, jenis kelamin laki-laki bernama Alimuddin, sedang terlelap tidur didalam gubuk dengan atap terpal bekas.
Ia bercerita bahwa telah mendiami lokasi itu kurang lebih dua tahun, dengan kondisi yang pun juga jauh dari disebut gubuk, karena hanya berdiri diatas batang pohon kayu, lalu dibuatkan galagar, lantainya dari papan bekas, sementara dindingnya dari tarpal bekas yang sdah koyak, atapnya juga dari tarpal bekas yang sudah koyak.
“Saya disini sudah dua tahun, anak pertama saya, lahir disini,” ujar Nurhayati lirih kepada penulis.
Dan lebih membuat penulis perih, dalam dua tahun itu, dirinya beserta suaminya hanya mengandalkan hidup dari bantuan orang-orang berempati disekitarnya, mereka tak terdata dalam sistem pengaman jaminanan sosial apapun namanya, termasuk kemudian paling santer Bantuan Lansung Tunai (BLT) Dana Desa.
“Jadi kami tidak pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah, ini saja kami tak punya rumah, kami hanya numpang membangun gubuk diatas lahan milik orang lain,” ungkap Nurhayati.
Tentu penulis menganggapnya, inilah mereka yang sesungguhnya orang-orang yang benar miskin, karena memang tak punya akses terhadap sumber daya alam yang bisa menopang hidup keluarganya untuk lebih baik.
Perempuan asal Siwa, Kabupaten Wajo, Sulsel ini, kepada penulis menuturkan tentu pengalaman hidupnya dalam kemiskinan dan ketiadaan harta ini, diterimanya dengan lapang dada, baginya mungkin itu adalah takdir hidup bersama keluarganya.
“Karena yang pasti, siapa yang tak ingin hidupnya lebih baik, bisa mendapatkan kebutuhan makanan yang cukup, bisa mendapatkan kebutuhan sandang untuk keluarganya, tapi kami pasrahkan saja kepada Tuhan, atas apa yang terjadi pada kehidupan kami, sudah kami terima, bila ada yang membantu kami, tentu kami berterima kasih, dan selama kurang lebih dua tahun ini, kami memang menyambung hidup dari bantuan tetangga,” bebernya kepada penulis, dengan wajah sedih yang begitu dalam penulis tangkap.
Ia pun menyampaikan di gubuk yang ditinggalinya itu, sunggu merasakan keprihatinan, sebab jika hujan deras melanda wilayah tersebut, tak jarang rasa was-was menerpanya, takut jika gubuknya tersebut terseret air, karena derasnya air dari sekitar tebing disekitarnya.
“Bahkan, kalau airnya cukup banyak, gubuk saya ini sering terendam, sehingga saya dan suami biasa was-was, takutnya gubuk kami yang sudah reot ini, terbawa air,” ujarnya.
Sebab diburu waktu Sholat Jumat, maka penulis sebelum beranjak dari kediaman Nurhayati, penulis mengajukan pertanyaan, apa keinginannya saat ini, lalu Ia berharap di tengah kemiskinan yang menderanya, Ia masih memiliki harapan besar, kiranya bisa lepas dari penderitaannya, bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak huni, yang bisa Ia gunakan untuk buka usaha warung kecil, dan berdiri diatas tanah yang menjadi milikinya sendiri, sehingga tak perlu lagi berharap bantuan makan dan sandang dari orang orang sekitarnya.
“Tentu harapan saya, bisa punya rumah, bisa punya penghasilan yang layak agar kami bisa beli pangan yang cukup, pakaian untuk anak-anak, bisa punya lahan sendiri, agar tak mengharap lagi bantuan dari tetangga maupun pemilik lahan tempat kami menumpangkan gubuk kami saat ini,” harapnya kepada pemerintah atau orang orang yang berempati.
Terpisah, Kepala Dinas Sosial Mamuju Tengah, Asmira Djamal, mengungkapkan bahwa saat menemukan keluarga tersebut, Ia lansung berkoordinasi dengan pihak instansi yang menanganani bantuan perumahan bagi warga miskin.
“Dan saat ini pihak terkait, segera membicarakannya, semoga bantuan rumah layak huni untuk keluarga ini bisa terealisasi” singkat Asmira. (*)







