Mamuju, Katinting.com — Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulawesi Barat (Sulbar) akan melaksanakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio mulai 23 Juli 2024, dengan target anak usia 0-7 tahun. Kegiatan ini berlangsung selama 12 hari dengan cakupan minimal 95 persen.
Pada Senin (15/7), Dinkes Sulbar menggelar advokasi dan sosialisasi di Grand Maleo Hotel Mamuju untuk mendukung pelaksanaan imunisasi IPV-2 dan PIN Polio. Vaksin IPV-2 (Inactivated Poliovirus Vaccine) dosis kedua ini bertujuan memperkuat perlindungan anak dari bahaya polio.
dr. Indahwati Nursyamsi, Kabid P2P Dinkes Sulbar, menekankan bahwa imunisasi adalah upaya kesehatan masyarakat yang paling cost-effective dan berdampak positif bagi kesehatan ibu dan anak. “Imunisasi melindungi individu dan masyarakat dengan menciptakan herd immunity,” ujar dr. Indahwati.
Indonesia, yang dinyatakan bebas polio oleh WHO pada 2014, tetap berkomitmen untuk mempertahankan status tersebut dan berkontribusi pada eradikasi polio global pada 2026. Namun, Indonesia masih dikategorikan wilayah risiko tinggi penularan polio oleh WHO, dengan 32 provinsi atau 84 persen wilayah Indonesia masuk dalam kategori tersebut.
Dinkes Sulbar akan melaksanakan empat poin utama dalam PIN Polio, diantaranya; pelaksanaan PIN Polio bersama 26 provinsi lainnya mulai 23 Juli 2024, menargetkan seluruh anak usia 0-7 tahun tanpa memandang status imunisasi sebelumnya, menggunakan vaksin nOPV yang diberikan dengan cara di tetes dan menargetkan cakupan minimal 95 persen.
Dokter Spesialis Anak Mamuju, Sri Hadzriati, menegaskan pentingnya imunisasi dalam mencegah polio, mengingat belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini.
“Imunisasi polio telah menurunkan angka kejadian penyakit polio sekitar 99 persen,” jelasnya.
Ketua Komisi Fatwa MUI Sulbar, H. Syamsumarlin, menyatakan bahwa imunisasi adalah proses untuk meningkatkan kekebalan tubuh sesuai dengan kaidah keagamaan.
Sementara itu, dr. Indahwati juga menyoroti peran penting PKK dan Posyandu dalam mendukung program imunisasi.
“PKK dan Posyandu adalah barisan terdepan untuk pelayanan kesehatan di desa,” tuturnya.
Dengan upaya bersama ini, diharapkan Sulbar dan seluruh Indonesia dapat mempertahankan status bebas polio dan melindungi anak-anak dari penyakit yang dapat dicegah ini.
(*)






