banner 728x90

‘BOM’ Waktu Konflik Warga dan Perusahaan Sawit, Masyarakat Tagih Janji Bupati Matra

banner 728x90
Foto warga yang bersengketa dengan perusahaan sawit (ist)

Foto warga yang bersengketa dengan perusahaan sawit (ist)

Matra, Katinting.com – Konflik lahan berkepanjangan yang melibatkan antara masyarakat dan perusahaan perkebunan kelapa sawit di Mamuju Utara (Matra), menjadi ‘bom’ waktu bagi kabupaten yang berada di ujung utara Sulawesi Barat ini. Konflik yang sewaktu-waktu bisa meledak dan menimbulkan korban jiwa, menuntut pemerintah segera bertindak agar ada penyelesaian yang konkrit segera terwujud.

Kelompok Tani (Poktan) Tuo Marendeng yang terlibat konflik dengan PT. Unggul Widya Teknologi Lestari (UWTL), meminta para pemangku kebijakan di Matra memiliki niat serius untuk menyelesaikan konflik yang mereka hadapi, sebelum terjadi benturan fisik antara kedua belah pihak yang bisa berakibat fatal.

Ketua Kelompok Tani Tuo Marendeng Abdul Jabar, menyampaikan bahwa sebelumnya Pemkab Matra telah memiliki niatan untuk mempertemukan pihaknya dengan pihak Kementrian Agraria, namun hingga saat ini hal itu belum terealisasi tanpa alasan yang jelas.

“Kami Sudah dijanjikan oleh Pemkab, akan mengajak perwakilan masyarakat yang bersengketa ke Kementrian Agraria di Jakarta, namun sampai saat ini belum terwujud. Kami berharap niatan itu bisa segera direalisasikan agar kami bisa segera mendapat kepastian. Kasihan nasib kami telah bertahun-tahun terkatung-katung,” keluhnya, Jumat (12/08).

Ditambahkan, bahwa sesungguhnya pihaknya juga sangat berkeinginan bertemu langsung pimpinan PT. UWTL tanpa merepotkan Pemkab Matra, namun demikian harapan tersebut tidak dapat direalisasikan karena minimnya biaya yang mereka miliki.

“Dalam waktu dekat ini, kami pasti akan menghadap dengan bapak Bupati Matra, untuk mempresure penyelesaian sangketa kami, dengan meminta mengajak perwakilan kami bertemu Kementrian Agraria dan pimpinan PT.UWTL di Jakarta,” tegasnya.

Sangketa lahan antara Tuo Marendeng denga PT.UWTL sendiri sudah berlangsung hampir puluhan tahun, dengan luas areal yang disangketakan sekira 700 hektar terletak di Desa Kasano Kecamatan Baras. Sebelumnya sudah ada beberapa upaya penyelesaian seperti pembentukan Pansus DPRD, dan beberapa kali pertemuan mediasi, namun tak pernah menghasilkan penyelesaian yang konkrit.

Beberapa kali juga massa Tuo marendeng berhadap-hadapan dengan massa perusahaan dengan golok terhunus dan yaris terjadi bentrok, saat massa Tuo Marendeng melakukan upaya reklaiming dilokasi sangketa. Untungnya bentrok tak sampai terjadi disebabkan ketatnya pengawalan dari pihak kepolisian. (Joni)

Bagikan
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.