
Mamasa, Katinting.com – Sekira hampir sembilan bulan proses belajar mengajar di Sekolah ditiadakan akibat pandemi covid-19. Kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring.
Di Kabupaten Mamasa, proses belajar mengajar sejumlah sekolah dilakukan secara daring dan luring hal itu dilakukan guna menghindari penyebaran Covid-19 yang masih terus mewaba hingga kini.
Metode belajar online yang dianjurkan oleh pemerintah tidak semua sekolah dapat melakuka hal tersebut. Lantaran sejumlah wilayah tidak dijangkau jaringan internet secara maksimal. Para guru yang berada di wilayah itu harus menyiasati agar proses belajar mengajar tetap dilakukan.
Salah satunya yang dilakukan sejumlah siswa SDN 005 Rantebuda, Desa Tondok Bakaru, Mamasa dengan memanfaatkan perpustakaan Desa sebagai tempat belajar selama pandemi Covid-19. Secara bergantian setiap dua kali seminggu proses belajar mengajar dilakukan diperpustakan Desa.
Salah satu guru di sekolah itu Andarias, mengatakan proses belajar mengajar ini dilakukan dengan manfaatkan perpus desa lantaran sejumlah siswa di wilayah itu tidak terjangkau internet sehingga proses belajar tidak bisa dilakukan secara online.
“Tempat tinggal para siswa sebagaian tidak terjangkau internet ditambah lagi sebagian besar dari mereka tak punya handphone hingga solusi yang tepat yakni memanfaatkan fasilitas yang ada,” ujarnya Selasa, (17/11) sore.
Perpustakan Desa sengaja dipilih, lantaran fasilitas penunjang belajar mengajar seperti ketersedian buku-buku dan fasilitas lainya sehingga dianggap cocok untuk melakukan proses belajar menagajar.
Agar proses belajar menagajar tetap menerapkan protokol kesehatan, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil mulai dari 4 sampai 5 orang. Kelompok ini kemudian diberikan materi pelajaran secara bergiliran.
“Agar penerapan protokol kesehatan tetap diterapkan siswa kami bagi dalam beberapa kelompak kecil. Jadi kelompok yang sudah dibagi diberikan materi pelajaran secara bergantian,” tuturnya.
Andarias, guru SDN 005 Rantebuda mengatakan, alam dipilihnya sebagai tempat belajar-mengajar siswanya karena dianggap tidak membosankan. Selain itu, udara yang segar di kawasan hutan pinus juga akan membuat siswa betah untuk belajar.
Sebelumnya Kepala Desa Tondok Bakaru Matheus Daniel Daensaratu’ mengatakan perpusatakan Desa sengaja dibangun dengan harapan bisa mendorong minat baca bagi pemuda dan anak-anak di desa.
“Syukur perpustakaan desa sudah dibagun sebelum Covid-19 sehingga saat bisa dijadikan tempat belajar bagi sejumlah siswa karena metode proses belajar di sekolah belum bisa dilakukan,” ungkapnya.
(Zulkifli)






