oleh

Perempuan Penuh Candu

banner 728x90
Sketsa dua perempuan, Sumber Gambar Internet

(PART 9)

Oleh : Fhatur Anjasmara

 

Kota Makassar saat itu sedang ramai, meskipun kemudian masih masa Pandemi Covid-19, namun warga yang sudah terkurung nyaris setahun, tak mengindahkan, keinginannya untuk lepas sambut tahun di ibu Kota Makassar, yang juga menjadi ibukota dari Sulawesi Selatan.

Malam itu, Adelia bersama beberapa orang rekan gengnya, sedang makan malam disalah satu resto di pantai Losari, selepas bersama gengnya menikmati awal malam, jelang pergantian malam sambut tahun. Ia memilah tempat agak kepojokan tapi tetap mudah terlihat oleh kepala pelayan di resto itu, sehingga untuk membuat pesanan lebih mudah.

Saat baru saja Adelia menuntaskan pesanannya pada secarik kertas menu dan menyerahkan ke pelayan resto, Ia dikejutkan oleh suara yang lazim baginya.

“Hai Mba Adel, lagi bersantai ya, wah dengan teman teman gengnya rupanya…” demikian ucapan dari suara yang menyapanya dan semakin mendekatinya. Dan Ia menoleh kekiri, dimana orang menyapanya, sudah ada dan cukup rapat dengannya.

“Wah kamu Nia, kirain siapa tadi ?, kagetin saja” sembari memeluk dan sun pipi dengan perempuan rekan satu sekolahnya itu.

“Yuk gabung saja di mejaku, sama teman teman, nda apa apa koq, lagian juga Mba Nia cuman sendiri” ujar Adelia menawar ke Dahniah.

Tanpa pikir panjang, akhirnya Dahnia menyetujui permintaan Adelia membersamai meja yang lebih awal dipesan oleh Adelia. Tapi, itu juga ada alasannya, karena Ia berkesempatan bisa mengorek cerita yang membuat dirinya penasaran selama ini.

Sembari mereka menunggu pesanan mereka, Dahnia dan Adelia menyempatkan bercerita hingga tak lupa mengambil kesempatan menanyakan apa kabar Rico, tentu pertanyaan Dahniah, bukan untuk mengorek hubungan baik Rico dengan Adelia, tapi untuk memastikan kebenaran dari cerita Rico, bahwa benar tak lagi berkomunikasi dengan Adelia dan benar benar telah memustuskannya.

“Kalau Rico, apa kabarnya Mba Del…??”

Mendapatkan pertanyaan demikian dari Dahniah, Adelia tiba tiba merunduk, namun untuk memastikan agar Adelia tetap nyaman, Ia segere meminta maaf jika pertanyaannya lancang.

“Saya minta maaf Del, kalau pertanyaan Saya lancang loh, cerita saja, kalau ada hal yang mengganjal hati Adel” pinta Dahniah.

Namun reaksi yang ditunjukan oleh Adelia, tiba tiba menggenggam tangan Dahnia, dan berucap…

“Atas semua kesalahan Saya, maka hubungan Saya dengan Rico, jadi tumbal, Saya menyayangi Rico, karenanya Saya tak ingin membiarkannya merawat lukanya, dengan menahannya, saat pamit untuk mengakhiri hubungan kami, Saya membiarkannya pergi, saat datang meminta pamit, pilihan itu Saya pilih agar dia tak terluka, Saya telah membuat kesalahan yang terpaksa harus Saya pilih saat itu, tapi meski Saya berharap Rico mendengar dulu penjelasan Saya, sebelum pergi, tapi belum sempat Saya jelaskan, Rico memilih untuk pamit” ujar Adelia, tapi dari sudut matanya, tertangkap bulir air mata sedang terbentuk, ditenga sedang berbicara.

Dahniah makin penasaran, sehingga mengajukan pertanyaan ditengah juga sedang membujuk Adelia untuk sabar.

“Maksudnya Del, kesalahan apa sih, dan mengapa harus terpaksa kesalahan itu Adel lakukan ??, ya sabar ya Del” Dahniah kepada Adelia.

 

“Kita pindah duduk yuk dari sini, kita ketaman resto ini, biar pesanan kita, diantar ke taman, Saya pamit dulu sama rekan geng Saya, nanti Saya nyusul” tawar Adelia ke Dahniah, dan Dahniah lansung beranjak dari tempatnya menuju ketaman.

Ditaman resto, mereka menepi disalah satu sudut taman, dengan siraman cahaya sedikit remang dari ruang dalam resto, mereka duduk tanpa alas hanya beralaskan rumput jepang, yang biasa ditanam dilapangan bola.

“Oke disini, sepertinya lebih rilex ya Del..” Dahnia ke Adel.

“Iya Nia, agak lebih nyaman bercerita ketibang didalam tadi, dan tak didengar oleh meja sebelah, berbeda didalam, jaraknya, masih terdengar” sembari Adelia tersenyum sipu.

 

“Lanjut Del, tadi pertanyaan Saya tidak dijawab yang didalam, yang ada kata paksa paksanya gitu, emang kenapa sih loh” tanya Dahnia.

“Gini, Nia, tapi tolong jangan cerita ke orang orang ya ?, mungkin ini takdir Saya lahir kedunia ini, sebagai anak pungut” hela Adel bercerita, makin membuat penasaran Dahnia.

“Anak pungut, aku bingung nih, langsung saja Del, jelasin, tidak usah buat teka teki begitu, kepala Saya pening ikut alurnya” protes Dahnia.

Mendengar protes dari Dahnia, Ia pun mulai menyederhanakan penjelasannya.

“Sebenarnya ini, entah aib siapa yang Saya cerita, apakah aib orang tua Saya atau aib diri Saya sendiri, berawal dari suatu waktu tak sengaja menguping pertekaran Mama dan pria yang menjadi Ayah Saya, penyebab pertekarannya, karena Mama, diduga punya pria lain, dan Ayah Saya mengetahui kelakuan Mama diluar, sehingga memicu pertengkaran.” Adelia menghela nafas, lalu meneruskan ceritanya, “…dipertekaran itu, Ayah tanpa sengaja memaki Mama, perempuan jalang, dan menyebut nama Saya, bahwa semoga Saya tak seperti Mama, dan mereka tak tahu kalau Saya nguping pertengkaran mereka” ungkap Adelia dengan mata mulai sembab.

Ia terhenti sejenak, karena pelayan yang mengantar pesanan mereka baru saja mendekat, dan selepas mempersilahkan pelayan, meletakkan pesanan mereka, Adelia melanjutkan pembicaraannya.

“Dalam pertengkaran itu, Ia menekankan kepada Mama, jangan sampai Saya, kena karmanya, akibat ulah Mama, Ayah mengatakan ke Mama, meski Adelia (Saya) bukan anak kandungnya mereka, tapi Ia tak ingin Saya bernasib sama seperti Mama, dimana Saya dan Kak Katara serta Mama hanya dipungut dari tempat prostitusi, tentu Saya syok saat itu” kenang Adelia, disisi lain, Dahniah mengerutkan kening, menyimak apa yang baru saja, disampaikan oleh Adelia.

“Apa Rico tahu soal ini ya Del, bahwa kamu bukan anak dari pria yang menjadi ayah kamu saat ini” cecarnya ke Adelia.

Sembari mempersiapkan jawaban atas pertanyaan Dahniah, Ia melepas pandangnya kesudut halaman dari Resto tempatnya bersama Dahniah, tampak gurat kesedihan menebar diseluruh permukaan wajahnya, kemudian beringsut sedikit kearah meja didepannya, Adelia mengambil gelas berisi minuman yang dipesannya, sementara Dahniah, begitu melihat Adelia mengangkat gelasnya, Ia pun juga ikut mengangkat gelas di depannya, lalu menyeduh isinya, sembari memolototin wajah Adelia..

 

“Dahniah, Ia tak tahu, kalau aku bukan anak dari Ayah yang diketahuinya sebagai Ayah dari Saya, karena Saya tak pernah bercerita ini kepada Dia, Ia justru kesal dan marah saat itu, ketika menemukanku dalam kamar, bersama seorang pria, dan itu adalah kesalahan besar yang terpaksa harus Saya lakukan, Saya tak punya kuasa menolaknya kala itu” tutur Adelia.

“Pria itu adalah rekan kerja Ayah, dan Ayah memerangkap Saya demi masa depan perusahaan miliknya, Dia menjual Saya kepada rekan bisnisnya, agar pria yang Rico dapatkan bersama Saya dikamar tidur Saya malam itu, mau memberikan setengah dari saham atas investasi perkebunan yang dimilikinya kepada Ayah, Saya tak bisa menolak keadaan itu, terlebih kemudian Mama juga mengetahui soal rencana Ayah itu” beber Adelia yang mulai terisak.

“Astaga… sejauh itu persoalan yang kamu hadapi dan beban yang pikul Del, kenapa tak kamu ceritakan ke Rico apa yang sebenarnya terjadi saat itu ??” tanya Dahniah..

 

“Tak mungkin Saya cerita, sebab Rico juga tak memedulikan Saya lagi, selepas peristiwa malam itu, untuk ketemu saja begitu sulit, tapi Saya tahu, Rico terluka kala itu, namun Rico pun juga tak tahu kalau Saya terluka juga dari semua kemelut itu” kisah Adelia ke Dahniah, sembari terisak…. Ia mencoba menyeka bulir air matanya, yang mulai jatuh kepipinya. Ia melepas kacamata minus diwajahnya, untuk memberi ruang pada tisu, meresapkan air matanya.

Bersambung……

 

Bagikan
banner 728x90

Komentar