Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Pendidikan Karakter yang Humanis Bagi Siswa Milenial

Kebutuhan Dasar Siswa Milenial

Pola pendekatan pendidikan yang humanis bagi siswa milenial harus menyasar tepat pada kebutuhan dasar mereka sebagai manusia Pendidikan yang memiliki 3 bagian (trikotomi) kehidupan, yaitu tubuh, jiwa dan roh.  Kurikulum pendidikan kita baru menyentuh bagian kognitif siswa. Sementara pada bagian afektif, perilaku dan jiwa mereka kadang sering diabaikan. Padahal mereka sangat membutuhkan sentuhan psikologis, perhatian dan kasih sayang karena sekolah adalah rumah kedua bagi seorang siswa.

Teori Hierarki kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow menyatakan bahwa setiap manusia memiliki lima (5) kebutuhan dasar. Saya merekomendasikan 3 dari 5 kebutuhan dasar itu agar diterapkan di dunia pendidikan antara lain:

  1. Kebutuhan rasa aman dan perlindungan,
  2. Kebutuhan rasa cinta, yaitu kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki, memberi dan menerima kasih sayang, kehangatan, persahabatan, dan kekeluargaan.
  3. Kebutuhan akan harga diri dan perasaan dihargai oleh orang lain serta pengakuan dari orang lain.

Tri Pusat Pendidikan sebagai Pawang Nilai Budaya

Istilah Tri Pusat Pendidikan dipopulerkan oleh Bapak Pendidikan Nasional, yaitu Ki Hajar Dewantara. Istilah ini menerangkan bahwa pendidikan berlangsung di tiga lingkungan, baik di keluarga, sekolah, dan masyarakat. Penjelasan mengenai Tri Pusat pendidikan, saya jabarkan dengan menggunakan analogi peran para pemain dalam permainan sepak bola:

  1. Guru sebagai motor penggerak nilai budaya dalam dunia pendidikan (Striker)

Guru dituntut agar bisa menjadi fasilitator dan teladan bagi siswanya. Guru harus lebih bersahabat mendekati siswa sebagai kawan, mendengar siswa sebagai seorang konselor, mengajari siswa dengan cinta dan kasih sayang. Guru harus aktif merangkul para siswanya untuk mengetahui lebih dalam karakter siswa yang belajar dalam kelas, mengawasi di dalam dan luar sekolah. Seorang striker akan berusaha sekuat tenaga menggiring bola menuju ke gawang, sama halnya dengan seorang guru yang diharapkan mampu menuntun para siswa mencapai nilai maksimal secara angka, berkarakter, dan berjiwa santun. 

  1. Orangtua sebagai pintu pertahanan nilai budaya dalam keluarga (Kiper)

Keluarga sebagai fondasi akhlak dan karakter bagi anak-anak diharapkan mampu menjadi pintu gerbang pertahanan nilai dalam keluarga. Sekolah hanya mampu mengawasi siswa selama mereka berada di sekolah. Namun, para orang tua punya kendali penuh atas pergerakan anak-anak mereka di rumah. Orang tua mengajarkan nilai-nilai, tata krama, sopan santun, dan kebiasaan-kebiasaan baik. Penjaga gawang yang baik akan menjaga gawangnya dengan penuh kewaspadaan agar tidak mudah kebobolan. Demikian pula para orang tua harus mampu menjaga anaknya dari berbagai pengaruh buruk yang dapat merusak karakter mereka. 

  1. Masyarakat sebagai pertahanan pendukung (Back)

Lingkungan masyarakat sebagai laboratorium kehidupan yang sesungguhnya bagi anak. Anak-anak belajar mengelaborasi hal-hal baru yang ditemuinya di masyarakat. Dukungan masyarakat terhadap dunia pendidikan diharapkan memberi kontribusi positif bagi keberlangsungan proses belajar mengajar yang lebih humanis di sekolah.

Tujuan Akhir Pendidikan Nasional yang Berkarakter

Presiden Joko Widodo dalam setiap sambutannya di setiap kesempatan menyampaikan bahwa negara Indonesia memiliki banyak keragaman budaya, adat istiadat, suku dan bahasa. Jokowi menggagas konsep perubahan karakter bangsa dengan istilah “revolusi mental” yang telah diterapkan sejauh ini dalam kurikulum pendidikan nasional.

Namun untuk menjamin pendidikan nasional yang mampu menghasilkan manusia Indonesia yang berkarakter mulia, berbudi luhur,berakhlak yang baik, perlu dijaga konsistensi pendidikan karakter sejak dini pada setiap satuan pendidikan. Sistem pendidikan Nasional harus dirancang lebih humanis dan tepat sasaran pada kebutuhan siswa ataustudentneeds.

(*)

Halaman: 1 2
Sebelumnya
Share:

Redaksi

Media Informasi Rakyat