Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

SAQBE Forum 2026, Bahas Cara Sulbar Lepas dari Ketergantungan Satu Komoditas

Mamuju, Katinting.com – Selama ini, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat masih banyak bertumpu pada satu komoditas: sawit.

Untuk mengurangi ketergantungan itu, Pemerintah Provinsi Sulbar sudah menyiapkan 16 juta bibit kakao, dengan harapan provinsi ini bisa kembali dikenal sebagai penghasil kakao seperti dulu, di samping juga menyiapkan bibit kopi.

“Kita bahkan pemerintah daerah ini sudah mempersiapkan bibit kakao, 16 juta bibit kakao, kita mau kembalikan bahwa Sulawesi Barat ini adalah penghasil kakao, termasuk bibit kopi. Karena pertumbuhan ekonomi kita ini masih bertumbuh pada satu sektor bahkan satu komoditas yaitu sawit. Kita ingin potensi lain ini juga memberikan kontribusi pertumbuhan,” kata Sekretaris Daerah Sulbar, Junda Maulana.

Pernyataan ini disampaikan Junda saat membuka Sandeq Business, Investment and Economic (SAQBE) Forum 2026 yang digelar Bank Indonesia Perwakilan Sulbar di Ballroom Grand Maleo Hotel Mamuju, Senin (29/6/2026).

Forum ini mengangkat tema “Percepatan Hilirisasi Komoditas Unggulan untuk Meningkatkan Nilai Tambah, Stabilitas, dan Daya Saing Ekonomi Sulawesi Barat”, dan menghimpun gagasan dari pemerintah, pelaku usaha, akademisi, hingga organisasi nonpemerintah (NGO).

Menurut Junda, rekomendasi yang lahir dari forum ini akan menjadi bahan penting bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan ekonomi yang lebih tepat sasaran ke depan.

Soal kondisi ekonomi saat ini, Junda menyebut Sulbar masih cukup stabil di tengah tantangan global, termasuk dampak dari konflik di Timur Tengah. Inflasi tercatat di angka 1,99 persen, masih dalam kisaran target, sementara pertumbuhan ekonomi mencapai 5,3 persen.

Tapi menurutnya, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan itu benar-benar dirasakan masyarakat secara merata, bukan cuma jadi angka di atas kertas.

“Yang menjadi tantangan kita ke depan adalah bagaimana pertumbuhan ekonomi yang kita miliki ini betul-betul dinikmati oleh masyarakat kita. Oleh sebab itu forum ini akan melahirkan gagasan-gagasan untuk bagaimana pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” jelasnya.

Selain kakao dan kopi, Junda menyebut sektor perikanan dan komoditas pertanian lain juga jadi fokus hilirisasi, supaya produk-produk ini tidak lagi dijual mentah sebagai bahan baku saja, tapi diolah lebih dulu sehingga nilainya naik.

“Komoditas kita unggulkan di komoditas kakao, kemudian komoditas kopi, komoditas pertanian lainnya ini kita bisa kita olah, termasuk di sektor perikanan kita akan mengolah, ini contoh-contohnya ini dari proses hilirisasi industri kecil olahan ini,” ujarnya. (*/Zk)

Share:

Redaksi

Media Informasi Rakyat