banner 728x90

Pendidikan Karakter yang Humanis Bagi Siswa Milenial

1 komentar 704 views

Ibrahim Barsilai Jami

Oleh : *Ibrahim Barsilai Jami

Pendidikan berada pada level tertinggi dari seluruh nilai peradaban manusia. Manusia yang belajar adalah manusia yang beradab. Nilai kemanusiaan manusia dapat diukur dari peradaban yang dihidupinya. Pendidikan ibarat air yang mengalirkan molekul dan energi kehidupan, menyegarkan jiwa yang dahaga dan memuaskan hasrat insani manusia. Jika membaca adalah jendela dunia, maka pendidikan adalah jembatan menuju dunia ilmu yang penuh warna. Pendidikan berada pada rangking pertama dalam proses pembentukan karakter manusia yang hidup dalam suatu kebudayaan.Seperti yang pernah diutarakan oleh Tokoh Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara berikut ini:

Pendidikan dan pengajaran di dalam Republik Indonesia harus berdasarkan kebudayaan dan kemasyarakatan bangsa Indonesia, menuju ke arah kebahagiaan batin serta keselamatan hidup lahir (KiHadjar Dewantara, 1889-1959)

Mendidik Manusia Yang Berbudaya

Negeri kita terkenal di seluruh dunia sebagai negara yang sangat santun dan berbudaya. Saya pernah berbincang dengan beberapa orang asing yang berkunjung ke Indonesia. Mereka mengatakan bahwa orang-orang Indonesia sangat sopan, santun dan baik hati. Pujian ini membuat saya bangga sebagai orang Indonesia karena kita memiliki kekayaan dan keragaman budaya yang begitu luar biasa.

Lalu bagaimana penerapan nilai-nilai budaya tersebut bisa berpengaruh terhadap karakter siswa yang menerima pelajaran di sekolah?

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia merilis dimensi pendidikan karakter meliputi:

  1. Etik (Olah rasa); Individu yang memiliki kerohanian yang mendalam, beriman, dan bertaqwa.
  2. Literasi (Olah pikir); Individu yang memiliki keunggulan akademik karena hasil pembelajaran dan pembelajar sepanjang hayat.
  3. Estetik (Olah rasa); Individu yang memiliki integritas moral, rasa berkesenian dan berkebudayaan.
  4. Kinestetik (Olahraga) ; Individu yang sehat mampu berpartisipasi aktif sebagai warga negara.

Empat poin dimensi Pendidikan karakter diatas bila diterapkan akan menghasilkan output yang berkualitas, sumber daya pendidikan yang cerdas dan pola perilaku serta akhlak yang terpuji. Namun, pada prakteknya tidaklah selalu demikian. Setiap sekolah memiliki karakteristik tersendiri yang dipengaruhi oleh daya serap siswa yang beragam. Hal ini merupakan hambatan tersendiri bagi guru untuk menyampaikan pelajaran di kelas.

Memang Sejauh ini telah dilakukan integrasi kurikulum pendidikan antara Intrakurikuler (mempelajari mata pelajaran umum berdasarkan kurikulum). Kokurikuler (kegiatan untuk memperdalam kompetensi dasar pada kurikulum) dan Ekstrakurikuler (kegiatan untuk mengasah bakat dan minat anak serta keagamaan). Namun hasilnya belumlah maksimal. Hal ini berpengaruh pada pola perilaku siswa di sekolah. Menurut saya, Penyerapan ilmu pengetahuan secara tekstual hanya akan mencerdaskan seseorang secara kognitif, tanpa menstimulasi batinnya secara menyeluruh.

Degradasi Nilai Budaya

Beberapa orang tua mengatakan bahwa anak zaman sekarang terkesan kurang santun? Yup, biasanya pernyataan “anak zaman sekarang kurang santun” ini diucapkan oleh orang yang lebih tua, yaitu generasi babyboomers (yang lahir tahun 1960-an) dan generasi X (lahir tahun 1970-an), kepada generasi Y atau generasi milenial (yang lahir akhir tahun 1980-an, 1990 hingga 2000-an) yang lebih muda. Maklum, generasi milenial kayaknya sudah mulai melupakan etika sopan santun dari leluhur kita, salahsatunya seperti mlaku bungkuk (berjalan sambil membungkuk). Namun, seiring perkembangan teknologi dan informasi, kebiasaan baik ini mulai bergeser dengan cara pandang milenium yang dianggap lebih modern. Teknologi mulai menggerus banyak nilai budayadi tengah masyarakat kita.

Ada banyak contoh kasus degradasi nilai moralitas dan budaya dalam dunia pendidikan kitayang menyedot perhatian publik yang selalu diberitakan media massa, bahkan barubaru ini, seorang guru di Kalukku, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, dianiaya oleh orang tua murid hingga babak belur dan harus dilarikan ke rumah sakit.Lalu haruskah kita membiarkan tindakan tak etis tersebut terus berulang terjadi di dunia akademik? Siapa yang paling bertanggung jawab? Atau sistem pendidikan kita yang harus dirombak ulang agar lebih humanis?

Bagikan

Pencarian Terkait

banner 900x90
Satu Respon
  1. IBee Martin8 bulan ago

    Terima kasih atas bantuannya Bapak Pimpinan Katinting.com

Tinggalkan pesan "Pendidikan Karakter yang Humanis Bagi Siswa Milenial"