oleh

Malam Purnama Penuh Gairah (Part.6)

banner 728x90

Oleh : Fhatur Anjasmara

 

Matahari sudah agak meninggi saat dering telpon Saya berdering, Saya coba melihat di layar HP, ternyata panggilan dari Hasyim. Segera Saya mengangkatnya dan menyapa sahabat Saya yang satu ini, ternyata Dia mengajak Saya untuk bermalam minggu di puncak Marano, di Kecamatan Kalukku, kemudian Saya pun mengiyakan ajakannya, tidak kurang dari enam orang sesama penyuka suasana alam, akan berangkat ke Marano.

Selepas di hubungi oleh Hasyim, Saya pun berpikir mengajak Aline, mumpung di rombongan nanti, juga ada Rere dan Linda di mana Rere adalah pacar Hasyim, sementara Linda pacar dari Maskur, sehingga Aline tidak sendiri dalam pendakian ini.

Melalui panggilan telpon, Saya mengajak Aline, apakah dirinya berminat ikut malam minggu di atas puncak gunung Marano, tentu tak ada penolakan, Aline melalui sambungan telepon, lansung mengiyakan dan menyampaikan segera bersiap siap, karena ternyata Aline juga penyuka traveling naik gunung saat masih kuliah di Ambon.

Sesuai kesepakatan, rombongan akan berkumpul di rumah Hasyim, mulai pukul 12.30, paling lambat star ke Marano, pukul 13.30, karena kondisi akses menuju ke sana, cukup berat, agar tidak kemalaman di jalan, di pilihlah waktu semasih saing, untuk berangkat.

Dan tepat pukul 13.30, ternyata semua yang ikut on time, sehingga di waktu yang di sepakati, kamipun berangkat, dari Kota Manakarra, mengendarai satu unit hartop yang sengaja di sewa oleh Hasyim, kemudian satu unit kendaraan trail, sebagai cadangan, di kendarai oleh Maskur, mengantisipasi sesuatu hal, sehingga motor trail bisa di gunakan buat mobile dari dan ke Marano.

Kurang lebih setengah jam, rombongan telah tiba di jalan akses utama naik ke puncak Marano, Hasyim sempat bertanya kepada warga sekitar, apakah jalur pendakian Marano cukup aman saat ini, seusai mendapatkan informasi, bahwa jalur pendakian aman, maka Hasyim pun mengajak semua rombongan untuk star.

Dengan penuh hati hati, Hasyim yang memegang kemudi hartop maupun Maskur yang ikut di belakang kami dengan mengendarai motor trail, bersama Linda, roda kendaraan mereka mengunyah jalan berbatu dan sesekali becek, menuju puncak Marano. Sementara Aline dan Rere terlihat bahagia dengan perjalanan ini, karena cuaca cukup bersahabat tidak juga panas, tidak juga hujan.

Saya yang duduk tepat di belakang agak kekiri dari punggung Aline, jelas dapat memperhatikan gurat samping wajah Aline, yang begitu bahagia, karena ikut dalam perjalanan ini, sesekali baik Rere maupun Aline teriak kecil mengeluarkan kecemasannya, saat roda mobil hartop sulit melintasi jalan berlumpur.

Akan tetapi di tengah perjalanan menuju puncak, Aline menggeser posisi duduknya agak ke belakang, masih dalam posisi memunggungi Saya, namun agak rapat di depan Saya, setelah merasa nyaman dengan posisi barunya, Aline tiba tiba merebahkan tubuhnya sedikit ke arah Saya, Saya berpikir akan baring ternyata Aline menggampai tangan Saya, dan meminta Saya memeluk dirinya dari belakang.

Pemandangan ini membuat Saya sedikit kikuk, apa lagi Saya memberitahukan Hasyim bahwa Aline hanya teman kenalan biasa, namun apa yang di saksikan Hasyim dan Rere atas sikap Aline, membuat keduanya juga lansung mengerti dan hanya mendehem sembari melirik Saya di spion senteral.

Wajah Saya sedikit bersemu malu, melihat sikap Aline yang tidak terduga, tapi ditengah kebingungan Saya atas sikap Aline, Saya lansung paham, apa yang Aline butuhkan dalam perjalanan, yakni kenyamanan, sehingga segera Saya merespon sikap dia, dan tangan Saya tidak lagi hanya satu lengan memeluknya, tapi kedua lengan Saya sudah memeluknya.

Guncangan kendaraan hartop yang kami tumpangi, tentu memberikan sensai berbeda lagi, sebab sekali, guncangannya menggeser posisi lengan Saya yang memeluk Aline bergeser ke atas ke bagian tonjolan dadanya, namun Aline justru mengabaikan kondisi itu, malah Aline makin nyaman dalam pelukan Saya, sehingga aroma tubuhnya pun juga tertangkap tajam dalam pelukan Saya, tak ada lagi rasa canggung, yang ada cuman rasa nyaman dalam pelukan Saya, Aline bahkan sesekali menyandarkan kepalanya dengan mahkotanya yang tergerai lurus, membuat sesekali menutupi wajah Saya, tapi Aline tetap menikmati suasana perjalanan yang kian menantang itu.

Bahkan saat memasuki alur pendakian terakhir yang tanjakannya cukup curam, Aline malah semakin melesatkan tubuhnya dalam pelukan Saya, sembari mengeluarkan teriakan kecil mengemaskan, penanda bahwa adrenalin Aline sedang terpacu di perjalanan ini. Sehingga rasa sungkan yang awalnya menghinggapi Saya, juga sudah Saya buang jauh jauh, semuanya menjadi terbiasa, pelukan, merasai aroma mahkota Aline, hingga kekenyalan tonjolan depan Aline, semua menjadi biasa sepanjang perjalanan kami.

Rere dan Hasyim pun juga mulai memahami suasana Saya dan Aline, sehingga mereka bersikap layaknya, bahwa seolah Aline di antara mereka, adalah kawan lama, yang baru bersua kembali dalam pendakian puncak Marano kali ini.    Bersambung…..

(Penulis hanya berharap, semoga yang identic dengan Aline dan Rere, tak cukup merasa dengan cerita ini, sebab ini hanyalah fiktiv belaka, buka kisah nyata….sampai ketemu di episode panas berikutnya… )

Bagikan
banner 728x90

Komentar