Mamuju, Katinting.com – Instalasi Farmasi Provinsi Sulawesi Barat, di bawah naungan Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB), menggelar penyediaan serta distribusi logistik Program Tuberkulosis (TBC) yang kini mengalir ke 12 kabupaten/kota di Sulawesi Barat. Langkah tegas ini menargetkan ketersediaan obat tanpa celah di fasilitas kesehatan primer maupun rujukan.
Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan benteng pertahanan krusial dalam menghadapi dinamika kebijakan pembiayaan nasional yang sering bergeser. Logistik yang disiapkan mencakup obat anti-TBC (OAT) lini pertama seperti rifampisin, isoniazid, pirazinamid, dan etambutol; lini kedua untuk kasus resisten seperti levofloxacin serta sikloserin; plus non-OAT pendukung seperti alat tes dan masker. Semua disesuaikan dengan data kebutuhan kabupaten berdasarkan laporan kasus tahunan, memastikan layanan optimal, berkesinambungan, dan patuh standar Kementerian Kesehatan.
Inisiatif ini selaras dengan Panca Daya Pembangunan Sulawesi Barat serta Visi Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera, digagas Gubernur Suhardi Duka dan Wakil Gubernur Salim S. Mengga. Di mana kesehatan menjadi pilar utama kemakmuran, penguatan logistik TBC diharapkan memutus rantai penularan yang masih merenggut ratusan nyawa tiap tahun di provinsi ini.
Kepala Dinas Kesehatan P2KB Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, menegaskan pengelolaan logistik sebagai pilar tak tergoyahkan keberhasilan program. “Di era ketidakpastian anggaran, ketersediaan obat yang aman, mencukupi, dan tepat waktu adalah senjata utama. Kami nol toleransi terhadap kekosongan stok yang bisa fatal bagi pasien,” tegasnya saat memantau distribusi di Instalasi Farmasi, Jumat (9/1/2026).
dr. Nursyamsi menambahkan, “Pengobatan pasien harus lancar tanpa hambatan. Hanya begitu, tingkat kesembuhan bisa tembus 90 persen dan pencegahan penularan ke keluarga serta masyarakat tercapai.” Ia menyoroti koordinasi terintegrasi dengan pemerintah kabupaten sebagai kunci, mengantisipasi lonjakan kasus musiman akibat mobilitas penduduk.
Melalui strategi ini, Sulawesi Barat bertekad transformasi layanan TBC menjadi lebih efektif dan berkelanjutan. Harapannya, eliminasi TBC sebagai beban kesehatan publik tak lagi mimpi, tapi realitas yang dirasakan warga dari Mamuju hingga Polewali Mandar. (*/Fhatur Anjasmara)






