Polewali Mandar, Katinting.com – Lahan hijau Instalasi Kebun Benih (IKB) di Minake, Mamasa, dan Rea Timur, Polewali Mandar, kini berdenyut penuh harap. UPTD Balai Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBTPH) Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (TPHP) Sulawesi Barat sedang menggelar perbanyakan calon benih jagung komposit serta produksi jagung pakan. Upaya ini jadi pondasi krusial bagi swasembada jagung dan beras di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka dan Wakil Gubernur Salim S. Mengga, di tengah tekanan cuaca ekstrem yang kerap menggagalkan panen petani kecil.
Kepala UPTD BBTPH Sulbar, Nasaruddin, Jumat (9/1/2026), menegaskan komitmennya bersama “super tim” untuk maksimalkan lahan IKB. “Kami tingkatkan produksi benih jagung komposit dan jagung pakan secara masif,” tegasnya, menyoroti potensi lahan idle yang selama ini terbengkalai.
Lebih detil, Kepala Dinas TPHP Sulbar, Hamdani Hamdi, ungkap panen calon benih varietas Lamuru dan Bisma telah dirintis sejak Oktober 2025 di IKB Minake, Mamasa, serta Balai Benih Hortikultura (BBH) Rea Timur, Polewali Mandar. “Saat ini, calon benih dalam tahap pemeliharaan pascapanen: penjemuran dan penyortiran ketat,” jelasnya. Proses ini krusial, sebab benih berkualitas rendah berpotensi gagal di ladang petani—sebuah kritik diam-diam terhadap distribusi benih abal-abal yang masih marak.
Tanpa hambatan uji laboratorium, Hamdani optimis akhir Februari 2026, BBTPH akan hasilkan Benih Dasar (BD) jagung komposit siap edar ke petani. “Distribusi langsung ke yang membutuhkan, tanpa birokrasi bertele-tele,” tambahnya, meski ia tak sentuh isu kritis: bagaimana benih ini tahan banjir atau kekeringan yang makin ganas di Sulbar?
Tak berhenti di situ, BBTPH gali potensi IKB Batupanga, Kecamatan Luyo, Polewali Mandar, untuk produksi jagung pakan capai 5 ton. Hasilnya langsung disalurkan sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD) via retribusi jasa usaha—langkah cerdas yang tak hanya pupuk swasembada, tapi juga isi kas daerah. Namun, pertanyaan menggantung: cukupkah 5 ton ini redam ketergantungan impor pakan ternak?
Upaya ini jadi ujian nyata bagi klaim swasembada Sulbar. Di saat petani bergulat harga benih melonjak dan lahan menyusut, inisiatif BBTPH layak diapresiasi—tapi harus dibuktikan dengan distribusi merata, bukan sekadar angka di kertas.
(*/Fhatur Anjasmara)






