oleh

Kapro CV Sipatokkon Bantah Pernyataan Warga soal Dugaan Penggunaan Pasir Laut pada Proyek RTH Pantai Pasangkayu

banner 728x90

Pasangkayu, Katinting.com – Proyek RTH (ruang terbuka hijau) di pantai Pasangkayu diduga mengambil pasir sekitar pantai tanpa kordinasi Dinas Lingkungan Hidup Pasangkayu.

Kadis LH Pasangkayu, Mujahid, Kamis, 15 September 2022, mengaku bahwa pihak kontraktor tidak ada penyampaian soal itu.

“Tidak ada kordinasi dengan dinas LH, dan memang dilarang ambil pasir di pantai apalagi untuk komersil,” kata Mujahid yang ditemui di ruang kerjanya.

Lanjut dia, jika hal itu benar, berpotensi merusak lingkungan, karena bisa berdampak pada abrasi pantai.

Proyek ini bernilai Rp3.020.000.000 yang dikerjakan CV Sipatokkon. Ini pernah disorot media pada 2 Agustus 2022 karena mengambil pasir laut.

Dalam berita itu disebutkan, bahwa seorang warga bernama Nurdin melihat langsung alat berat menggali pasir pantai untuk timbunan alas.

Untuk memastikan itu, media ini melakukan konfirmasi kepada Nurdin, Kamis, 15 September 2022. Kata dia, benar ada galian tapi bukan di bibir pantai melainkan di areal tanggul.

“Dia (kontraktor) menggali di bagian dalam tanggul. Rencananya mau diisikan kayu dengan jumlah banyak, namun kami tolak,” jelas Nurdin.

Ia juga menyayangkan pihak kontraktor karena tidak menyiapkan akses jalan menuju pantai untuk para nelayan di sana.

Pihak kontraktor yang dikonfrmasi oleh media, membantah hal itu. Kapro CV Sipatokkon, Kisman mengatakan bahwa yang dia gunakan bukan pasir pantai.

“Warga di sana itu (sekitar pantai) ada yang pro ada yang tidak. Tinggal kita bijak mendengar omongan dari luar. Itu terlalu dibesar-besarkan, jadi kami merasa dirugikan,” kata Kisman.

Lanjut dia, selaku rekanan tidak berani menggali pasir pasir pantai. Pasir yang digunakan itu merupakan sisa galian pondasi lalu diratakan.

Menurut dia, sebelum proyek ini, ada pembongkaran rumah. Tapi, pembersihan dan pemerataan tidak masuk item pekerjaan.

“Tidak ada anggaran pemerataan bekas pembongkaran bangunan rumah warga, sehingga inisiatif kami untuk meratakan bekas bangunan itu,” tambah Kisman.

Timbunan digunakan itu sebagian bongkahan bangunan dan pasir di lokasi eks bangunan rumah warga. Selebihnya, material didatangkan dari Bambamone.

Persoalan lain yakni tidak terdapat papan proyek. Namun, alasan Kisman, sudah tumbang diterjang angin.

Arham Bustaman

Bagikan

Komentar