Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Dihadang Kemarau & Irigasi Jebol, Ribuan Hektar Sawah Potensial di Tommo, Terancam Tak Bisa Produksi

Penampakan dinding beton irigasi yang jebol di Tommo, dan mengancam ribuan hektar sawah potensial alami kekeringan. (dok Fhatur Anjasmara)

Mamuju, Katinting.com – Di tengah upaya pemerintah dalam peningkatan perluasan areal tanam baru untuk program penyiapan cadangan pangan masa depan, menghadapi krisis iklim, di Tommo, 525 hektar sawah tak bisa produksi, dan ribuan hektar lainnya terancam tak bisa produksi.

Sawah seluas 525 hektar tak bisa produksi di Tommo, yang benar benar tak bisa produksi di picu oleh jebolnya jaringan tersier irigasi di wilayah itu, mengakibatkan sawah mengalami kekeringan yang kemudian diperparah kemarau, sehingga hamparan ratusan hektar sawah tak bisa digarap.

Kerusakan jaringan tersier irigasi di Tommo, dimulai awal Mei tahun 2024 lalu, namun hingga kini, belum ada perhatian maksimal dari pemerintah, dalam penanganan kerusakan jaringan tersier irigasi.

“Dan dampaknya kepada kami petani di wilayah ini, karena sawah kami tak punya sumber air, yang sebelumnya hanya mengandalkan jaringan irigasi, tapi irigasinya jebol, sawah kami kekeringan” ungkap Mahmud salah seorang penggarap sawah di Tommo.

Ia menuturkan sudah pernah ada perbaikan, tapi tidak maksimal, jadinya irigasi tetap tak berfungsi, akibatnya, petani tetap tak bisa menggarap sawahnya.

“Terlebih diperparah oleh ancaman kemarau yang menghadang saat ini, sehingga sawah benar benar kering, dan sulit digarap” tutur Mahmud.

Petani lainnya, Lukas, juga menyampaikan bahwa tidak kurang dari 2 petak sawahnya saat ini mengalami kekeringan, karena suplai air yang satu satunya dari irigasi, tidak mengalir ke sawahnya, akibat kerusakan jaringan irigasi.

“Sawah dua petak kekeringan, air tidak ada yang mengalir ke sana, sejak irigasi rusak, ini tentu membuat kami panik” ujar Lukas.

Karenanya berharap kepada pihak terkait, ini dapat segera memberikan solusi atas persoalan kekeringan di picu oleh rusaknya jaringan irigasi yang menjadi satu satunya saluran distribusi air ke sawah, agar irigasinya segera diperbaiki.

“Kalau irigasi tidak diperbaiki secara maksimal, ini makin membuat kami tidak menggarap sawah” harap Lukas.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, saat dihubungi Senin (22/07), memberikan penjelasan, kalua pihaknya telah menyampaikan persoalan tersebut ke pihak Balai Besar Wilayah Sungai, beberapa waktu lalu, dan rencananya hari ini Senin 22 Juli 2024, pihak BWS akan meninjau langsung ke lapangan.

“Benar bukan hanya ratusan hektar, tapi ribuan hektar lahan sawah potensial akan terancam kekeringan di sana, dan kami sudah sampaikan ke pihak BWS, tapi baru hari ini berkesempatan melakukan peninjauan” jelas

Ia menuturkan jika irigasi tersebut saat ini sedang proses pengalihan ke Dinas PUPR Sulbar, sehingga kerusakan ini, masih menjadi tanggungjawab pihak Balai BWS.

“Irigasi ini masih kewenangan balai, baru sementara proses pengalihan ke PUPR Prov Sulbar” pungkas (Fhatur Anjasmara)

Share:

Redaksi

Media Informasi Rakyat