
Majene, Katinting.com – Kohati Himpunan mahasiswa Islam (HmI) cabang Majene, menggelar bazar dan silaturahmi sekaligus diskusi dengan mengangkat tema, ‘Bukan untuk memperjelas hubungan kanda & dinda, melainkan memperjelas arah perjuangan Kohati’, disalah satu cafe di Majene, Rabu (26/2) malam.
Ketua Panitia pelaksana, Tiara Mandasari dari komisariat Sospol Unsulbar menuturkan, tema yang diusung tersebut, terkait dengan indikasi beberapa waktu lalu sempat geger di media sosial mengenai video, “Buaya HmI penghambat ‘proses’-nya kohati”.
“Nah, pertanyaannya apakah benar, demikian? Apakah proses Kohati yang terhambat dikarenakan Buaya HmI itu sendiri?” tanya Tiara.
Vina berharap, diskusi pada kegiatan ini dapat menjawab berbagai macam persoalan isu-isu keperempuanan umumnya, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan persoalan kohati khususnya.
Selain itu, dalam diskusi ini juga para kader membuka kembali ingatan tentang sejarah perjuangan perempuan sampai pada cikal bakal terbentuknya salah satu bagian integral dari HmI, yakni Korps HmI-wati yang memiliki peran strategis dalam menguak kasus-kasus keperempuanan.
“Sehingga, kita #menolaklupa bahwa tujuan terbentuknya Kohati ini tidak lain yaitu untuk terbinanya muslimah berkualitas insan cita,” sebutnya.
“Harapan kami semoga kita sebagai kader tidak lupa, bahwa kita memiliki tanggung jawab bersama dalam menyikapi segala ketimpangan yang terjadi dalam problem sosial, utamanya ketidakadilan terhadap kaum perempuan. Lebih baik berbuat sedikit, daripada tidak ada sama sekali. Karena merelealisasikan tujuan HmI, yakni mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahuwat’ala, merupakan PR kita bersama,” harap Tiara.
Kohati Komisariat Fisip Unasman Polman, Firdha Mutmainnah juga berharap diskusi yang dihadiri sekira 40 peserta dari berbagai komisariat ini, tidak menjadi relasi kebencian antar kaum.
“Sebab jika kita ingin memperjelas arah perjuangan kohati, kita mesti mulai dari landasan atau pondasi. Jika pondasi kita atas dasar kebencian dan rasa iri terhadap laki-laki, maka semua itu akan cepat rubuh. Penindasan, ketimpangan ataupun bias gender lahir bukan dari jenis kelamin tertentu,” ungkapnya.
Firdha, sapaan akrabnya juga berpendapat, segala penyelesaian terhadap konflik adalah tanggung jawab kepada semua yang hadir dalam diskusi tersebut.
“Mengutip perkataan Pramodya Ananta Toer ‘segala yang terjadi di kolong langit adalah tanggung jawab semua yang berpikir’. Jadi mari kita selaku orang berpikir mengambil tanggung jawab atas segala penindasan yang terjadi dalam lingkup keperempuanan, terlepas anda laki-laki atau perempuan,” pungkasnya.
(Firda/Zul)






