Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Angka Stunting di Bontang Turun Jadi 17,44 Persen, Pemkot Soroti Rendahnya Partisipasi Posyandu Tahun Lalu

Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris. (Dok. Prokopim/Sastro)

Katinting.com, Bontang – Pemerintah Kota Bontang mencatat penurunan angka stunting yang cukup signifikan pada tahun 2025. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) dan data dari aplikasi e-PPGBM, prevalensi stunting di Bontang kini berada di angka 17,44 persen, turun dari tahun sebelumnya.

Hal ini diungkapkan Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, saat membuka Rapat Koordinasi Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting serta Pelatihan Pengisian Data Aksi Bangda, Selasa (5/8/2025) di Auditorium 3 Dimensi.

“Ini penurunan yang perlu kita syukuri, tapi juga perlu dikawal ketat. Jangan sampai angka ini menurun hanya di atas kertas karena pengumpulan data yang belum sepenuhnya valid,” ujarnya.

Dari 10.056 balita yang menjadi sasaran penimbangan, tercatat 1.754 anak mengalami stunting. Capaian ini didorong oleh meningkatnya cakupan penimbangan balita yang hampir menyentuh 100 persen pada Mei 2025.

Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan belum usai. Ia menyoroti rendahnya partisipasi masyarakat ke posyandu di tahun-tahun sebelumnya, yang menyebabkan akurasi data sempat diragukan. Hal ini dikhawatirkan berdampak pada efektivitas intervensi yang dilakukan pemerintah.

“Kalau posyandu sepi, banyak anak tidak terdata. Artinya, bisa jadi masih ada kasus stunting yang tak tersentuh bantuan atau program. Ini yang harus kita waspadai bersama,” tegasnya.

Rapat koordinasi ini turut membahas pentingnya evaluasi manajemen data, mulai dari metode pencatatan hingga pelaporan. Validitas data menjadi kunci dalam menentukan arah kebijakan penanganan stunting di masa depan.

Selain itu, ia juga menekankan bahwa enam pilar utama strategi percepatan penurunan stunting, seperti pemenuhan gizi anak, peningkatan layanan kesehatan dasar, hingga akses air bersih, harus tetap menjadi prioritas yang dijalankan secara konsisten.

“Angka boleh turun, tapi anak-anak yang sehat dan berkembang optimal adalah tujuan akhirnya,” pungkasnya. (Re)

Share: