Katinting.com, Bontang – Kasus dugaan eksploitasi terhadap anak di bawah umur di Kota Bontang kembali mencuat setelah ditemukannya seorang anak yang menolak melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan memilih untuk bekerja demi mendapatkan penghasilan.
Kondisi ini memicu perhatian berbagai pihak, termasuk dari jajaran legislatif. Anggota Komisi A DPRD Kota Bontang, Arfian Arsyad, menyayangkan situasi tersebut dan menilai bahwa hal ini merupakan bentuk ancaman serius terhadap masa depan generasi muda.
“Ketika ada anak di bawah umur yang memilih bekerja dibandingkan sekolah, kita patut curiga bahwa ada tekanan ekonomi atau bahkan potensi eksploitasi yang harus segera ditindaklanjuti,” ujar Arfian saat dikonfirmasi, Rabu (9/7/2025).
Menurutnya, pemerintah harus segera turun tangan untuk memastikan bahwa hak anak untuk mendapatkan pendidikan tetap terpenuhi. Ia menilai, dalam kasus ini, perlu ada intervensi dari Dinas Sosial dan Dinas Pendidikan, termasuk pendekatan langsung ke keluarga dan lingkungan sekitar anak.
Politisi Partai Gelora itu menegaskan bahwa pendidikan adalah hak dasar anak yang dijamin undang-undang. Jika sampai ada anak yang lebih memilih bekerja di usia sekolah, hal itu menunjukkan adanya persoalan struktural yang tidak bisa dibiarkan.
“Anak seharusnya tidak dibebani dengan tanggung jawab mencari nafkah. Tugas mereka adalah belajar dan bermain, bukan bekerja. Kalau dibiarkan, ini bisa jadi bentuk eksploitasi yang melanggar hukum,” tegasnya.
Arfian juga mendorong agar Kota Bontang segera memperkuat sistem perlindungan anak, termasuk memperluas jangkauan petugas lapangan dan meningkatkan sosialisasi tentang pentingnya pendidikan dasar.
Selain itu, ia mengimbau agar masyarakat tidak ikut membiarkan praktik-praktik yang mempekerjakan anak di bawah umur, karena hal tersebut hanya akan memperkuat lingkaran kemiskinan dan memperburuk kualitas sumber daya manusia di masa depan.
“DPRD akan mendorong agar ada pendampingan terhadap anak-anak dalam situasi rentan seperti ini. Jangan sampai satu generasi dikorbankan karena tekanan ekonomi,” pungkasnya. (Re)






