Mamuju, Katinting.com – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Sulawesi Barat memperingati Hari Kanker Paru Sedunia dengan menyerukan pentingnya deteksi dini kanker paru kepada masyarakat.
Dalam kegiatan edukasi yang digelar di aula rumah sakit, dr. Dewi Kartikaningsih, Spesialis Paru, menyampaikan fakta mencengangkan terkait kanker paru yang kini menjadi penyebab kematian kanker tertinggi di dunia.
RSUD Sulawesi Barat mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama melawan kanker paru dengan mengenali gejala, menghindari faktor risiko, dan melakukan skrining rutin. Karena semakin dini terdeteksi, semakin besar peluang untuk sembuh.
Menurut dr. Dewi, berdasarkan data global tahun 2020, terdapat lebih dari 2,2 juta kasus baru kanker paru dan hampir 1,8 juta kematian akibat penyakit ini. “Kanker paru menyumbang sekitar 18 persen dari seluruh kematian akibat kanker, menjadikannya tantangan serius yang harus ditangani bersama,” ungkapnya.
Ironisnya, sebagian besar pasien kanker paru datang ke fasilitas kesehatan saat penyakit sudah berada di stadium lanjut. Hal ini disebabkan gejalanya yang sering diabaikan atau dianggap sepele, seperti batuk yang tak kunjung sembuh, batuk berdarah, sesak napas, hingga nyeri dada dan infeksi saluran napas berulang.
“Padahal jika kanker paru ditemukan pada stadium awal, peluang untuk sembuh dan keberhasilan terapi akan jauh lebih tinggi,” terang dr. Dewi.
Dr. Dewi mengajak masyarakat, khususnya kelompok berisiko tinggi, untuk melakukan skrining paru secara berkala. Skrining ini penting untuk menemukan potensi kanker sebelum gejala muncul. “Langkah preventif ini bisa menyelamatkan banyak nyawa,” ujarnya.
Dijelaskan pula bahwa rokok baik aktif maupun pasif masih menjadi penyebab utama kanker paru. Perokok aktif memiliki risiko hingga 30 kali lebih besar, sedangkan perokok pasif tetap memiliki risiko 20–30 persen lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak terpapar asap rokok.
Selain itu, paparan asbes di lingkungan kerja, polusi udara, serta penyakit paru kronik juga termasuk faktor risiko yang tidak boleh diabaikan.
“Bahkan, lima persen dari kematian akibat kanker paru disebabkan oleh polusi udara, terutama di wilayah perkotaan yang padat kendaraan,” tambahnya.
Dalam peringatan ini, dr. Dewi juga menekankan pentingnya kolaborasi antara dokter spesialis paru, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam melawan kanker paru.
“Tema global tahun ini adalah ‘Revolutionizing Lung Cancer Care: From Diagnosis to Treatment’, yang menjadi pengingat bahwa deteksi dini harus menjadi prioritas,” katanya.
Ia berharap, momentum Hari Kanker Paru Sedunia ini bisa membuka mata masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan paru, menjauhi rokok, dan melakukan pemeriksaan sejak dini. (*/Anhar)






