“Ayo duduk Del, mau minum apa, ayo, Saya buatkan, dingin atau panas” tawar Dahniah.
“Tidak usah repot repot deh Mba Nia, aku mampir hanya sebentar..” tolak Adeliah.
“Tapi sebentar atau lama, kalau namanya tamu, disini harus dijamu loh Mba Del, jadi Saya buatkan yang dingin saja ya, biar enak seruputnya nanti” karena tak bisa menolak lagi, akhirnya Ia mengangut menyetujui tawaran Dahniah, lalu Dahniah segera balik badan menuju ruang dalam, dan menghilang dibalik kain gorden pembatas ruang tamu dengan ruang tengah.
Tak cukup dari lima menit, Dahniah, sudah muncul, dengan membawa nampan diatasnya berisi segelas minuman dingin, dan setoples kerupuk sebagai cemilan pendamping.
“Yuk Mba Adel, silahkan dinikmati, ala kadarnya loh, biar tenggorokannya agak enakan” mempersilahkan Adelia meminum minuman yang dibawahya dan mencicipi cemilan pendamping.
“Makasih Nia, sudah merepotkan kamu…”
“Tidak kok, biasa saja Mba Del”
Lalu Dahniah lanjut mencecar pertanyaan ke Adelia…
“Mba Adel darimana sih, tumben mampir ke gubuk saya loh” tanya Dahniah sembari merendah.
“Hehehe… rumah yang nyaman dan bagus koq dibilang gubuk” balas Adelia.
“Kan ini bukan istana Mba Del, makanya aku bilang gubuk, tapi ah sudahlah, pertanyaan Saya, koq tumben mampir, belum dijawab, malah menyanggah soal gubuk” cerca Dahniah.
Sembari diam sejenak, lalu menghela nafas dan membuangnya…
“Anu.. Mba Nia… Rico…” ujar Adelia.
Tapi begitu nama Rico disebut Adelia, Dahniah terkejut bukan kepalang dalam hati, beruntung Ia bisa menguasai emosi jiwanya, maklum Dahniah kan sudah kecantol berat ke Rico. Ditengah Ia menyembunyikan kerisauannya serta cemburunya, Ia mencoba mengajukan pertanyaan sesederhana mungkin, agar Adelia yang diketahuinya memang masih menyukai Rico, dan belum punya kejelasan akhir hubungan, tak menaruh curiga atas sikapnya kemudian dan pertanyaannya.
“Loh kenapa dengan Rico Mba Del, bukannya, selama ini komunikasi Mba dengan Abang Rico, baik baik saja Mba” tanyanya ke Adelia. Dan Adelia hanya menggeleng dan menjawab cukup singkat.
“Tidak Mba Nia…”
Namun berselang beberapa tarikan nafasnya, Adelia melanjutkan, “Kami sedang tak baik baik saja, Saya sudah kurang lebih dua bulanan tak pernah berkomunikasi dengan Rico juga bertemu dengannya, karenanya Saya kesini mau minta tolong” beber Adelia.
Batin Dahniah, mulai dirasuki rasa tak nyaman atas penjelasan tamunya, karena takut, jika kemudian Rico jatuh kembali kepelukan Adelia, sementara Ia pun dalam beberapa bulan, memang sedang merajut asmara dengan pria itu.
“Haruskah Saya membantunya, mempertemukan dengan Rico, lalu bagaimana dengan hubungan Saya dengan Rico nantinya” kuatirnya dalam batin.
Dahniah merasakan sangat, kecamuk batinnya, Ia diperhadapkan pada kejujuran dan melindungi perasaannya, disatu sisi Ia pun juga belum sanggup jika Adelia mengetahui seberapa jauh hubungan mereka.
“Aku mencintai pria yang engkau cintai Del” bisik Dahnia kembali membatin, menambah kekalutan.
Beruntung Adelia usai menyeruput minuman yang disuguhkan oleh Dahniah, asyik dengan ponselnya, sehingga Ia tak memerhatikan raut kecamuk dari perasaan yang dialami oleh Dahniah pada wajah Indonesia sangat.
Tapi seperti menemukan kekuatan, akhirnya, Dahniah, menyampaikan kepada Adelia, bahwa dirinya akan membantunya berkomunikasi dengan Rico, tapi dengan satu syarat, bahwa Ia tak berjanji apakah yakin Rico akan menerima tawarannya.
“Saya hanya membantu Mba Adel, sebagai teman sekolah ya Mba” ujar Dahniah kepada Adelia.
“Iya deh Mba Nia, terima kasih sebelumnya, Saya merasa lega sekarang, Mba Nia, sekalipun kemudian tak memberi banyak harapan pasti, paling tidak Mba mau bantu Saya” kata Adelia kepada Dahniah.
(Pasti udah tahu kan, setelah Adelia dapat secercah harapan… ngabisin minum, lalu pamit pulang, dan Dahniah mencari cara, tuk menyampaikan keinginan Adel ke Rico, jadi nda usah tegang amat ya… hihihi)
Bersambung…
(Pembaca kami ingatkan, untuk memberikan saran dan kritik pada cerita ini, saran terbaik akan mendapatkan voucher data bulanan, untuk satu bulan dari penulis…)






