Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Nugroho Temukan Bayi Ada Kertas Ujiannya

Bayi yang ditemukan Nugroho saat dirawat di Inkubator (Foto: Hms Polda Sulbar)

Mamuju, Katinting.com – Entah mimpi apa Nunggroho semalam. Pemilik rumah yang berada di jalan poros trans Sulawesi, tepatnya di Desa Bambu, Kecamatan Mamunyu. Pasalnya, pagi itu sekiran 15 menit sebelum jam tujuh, ia menemukan tas kecil berisi bayi berjenis kelamin perempuan di depan jalan menuju Rumahnya. Minggun pagi (02/04).

“Saya berniat untuk berolaraga pagi, kebetulan rumah saya agak diatas bukit, saat saya berjalan kebawah tepi jalan saya melihat tas hitam di tepi jalan rumah. Awalnya saya mengira tas anak saya. Saat saya di dekat tas saya melihat perut bayi kerana pada saat itu, tas agak terbuka sedikit,” kata Nunggroho ketika di temui di Mapolres Mamuju.

Lanjut ia mencaritakan, saat mengetahui tas itu berisi bayi, Nunggroho merasa kaget lalu berlari kedalam rumahnya untuk memanggil istrinya serta mengambil Hp.

“Saat itu saya langsung ambil Hp untuk mengabadikan tempat bayi dan pada saat itu yang di saksikan istri saya dan dua anak saya,” ujarnya.

Usai mengabadikan gambar Nunggroho bersama istrinya langsung mengambil anak tersebut untuk dibawah kedalam rumahnya.

“Kebetulan istri saya dan saya dari kesehatan sehingga kami langsung bertindak cepat untuk anak itu. Saat istri saya bersihkan anak tersebut, tali pusarnya putus namun belum di ikat, itu sangat berbahaya karena kalau dibiarkan bisa pendarahan,” jelas Nunggroho.

Selain memberikan anak tersebut, Nunggroho berama istrinya berupaya menyelamatkan anak terebut dengan memberikan Asi.

“Kebetulan ada tetangga saya mempunyai anak kecil, sehingga saya minta untuk memberikan Asi, usai mendapatkan Asi anak itu langung menangis, pada hal saat pertama saya temukan hanya bergerak saja tidak mengeluarkan suara,” ungkapnya.

Tidak ingin kondisi bayi memburuk, Nunggroho bersama warga membawa bayi bertubuh kecil tersebut ke Puskesmas Bambu untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

“Ternyata saat di periksa di Pustu anak itu tergolong berat badannya rendah atau dalam bahasa medisnya (BBLR) sehingga harus di inkubator, karena Puskesmas bambu tidak ada, jadi dirujuk ke RSUD Mamuju,” kata Nunggroho.

Ia memperkirakan andai saja anak tersebut terlambat 3 sampai 4 jam tidak ditindaki maka nyawanya bisa melayang.

“Kalau saya lihat anak itu dilahirkan 3 atau 4 jam sebelum saya temukan karena ari-arinya maih segar dan berlumuran darah,” paparnya.

Nunggroho menambahkan dalam tas yang digunakan untuk menempatkan bayi tersebut terdapat sebuah sarung untuk membungkus anak itu, serta ada dua kertas hasil ujian Bahasa Inggris dan Biologi bertuliskan kelas 9 A.

Tasnya, tas ransel di gendong. Saya liat di tas itu ada sarung dan kertas dua lembar hasil ujian Bahasa Inggris dan Biologi kelas 9 A, ada namanya (tidak ingin disebutkan).

“Saya melapor dipolisi ini agar anak tersebut bisa tertangani serta di urus oleh Negara. Ini juga agar menjadi pelajaran masyarakat tidak menyelantarkan anaknya begitu saja,” tutupnya. (Srf)

Share:

Redaksi

Media Informasi Rakyat