oleh

Malam Purnama Penuh Gairah (Part. 5)

-Hiburan, Humaniora-192 Dilihat
banner 728x90

Oleh : Fhatur Anjasmara

 

Waktu baru saja menunjukan pukul 16.30 sore, saat Saya tiba di parkiran kosan, setelah memastikan tak ada yang tertinggal di dalam kabin mobil, Saya lansung turun, menuju kamar , pelan pelan saat mendekati pintu, rasa penat dan lelah mulai menghampiri, sehingga begitu pintu terbuka, Saya lansung masuk, dan menutupnya dari dalam, kemudian menghidupkan kipas angin, lalu segera membanting tubuh Saya di atas kasur empuk di kamar kosan.

Tak butuh waktu lama sepertinya untuk terlelap melepas penat dan lelah seharian menyelesaikan tugas di tempat kerja, karenanya, Saya baru terbangun setelah di kuping Saya terdengar lamat lamat suara tarhim jelang adzan Mahgrib dari Masjid depan kosan, dan Saya melirik jam penunjuk waktu di atas meja, benar saja, waktu sudah menjelang Mahgrib, karena sudah pukul 18.11, Saya pun segera bangun menuju kamar kecil, membersihkan tubuh, untuk persiapan berjamaah di Masjid depan kosan Saya.

Selepas sholat Mahgrib Saya kembali ke kamar, Saya mencari keberadaan telpon genggam Saya, yang ternyata berada di dalam saku tas kecil berdempetan kunci mobil, segera Saya mengeluarkannya, lalu mencoba menghubungi nomor telpon Aline.

Tidak butuh waktu lama berdering, karena mungkin saja Aline sudah menyimpan nomor Saya, sehingga hanya tiga kali berdering, lansung nyambung dan sebelum Aline memulai percakapan, Saya pun mendahuluinya.

“Haiiiii… Aline, maaf apa Saya mengganggu….??” Tanyaku.

“Hehehehe.. mengganggu ??, Tidak koq kak, malah senang di telpon sama kak Irvan..” sahutnya dari seberang.

Kemudian Saya mengajaknya untuk makan malam bareng, di salah satu Rumah Makan dengan menu ikan bakar. “Aline apa mau ya, kita makan malam bareng di luar, kalau Aline tidak keberatan” ajak Saya.

“Tidak keberatan kak, malah Aline pikir kakak tidak akan pernah telpon Aline untuk ajak makan malam, justru Aline senang, gimana kak, Aline jemput pakai mobil Aline, atau kak Irvan jemput Aline pakai mobil kakak…” cecar Aline penuh semangat.

Mempertimbangan etika dan harga diri, maka Saya sampaikan ke Aline, bahwa biar Saya yang menjemputnya “Silahkan saja Aline siap siap, 10 menit kemudian, Saya sudah ada di depan kosan Aline, untuk menjemput Aline” pintaku yang di barengi dengan segera menutup telpon lalu siap siap ke tempat kosan Aline untuk menjemput.

Tepat 10 menit kemudian, Saya sudah tiba tepat di depan tempat kosan Aline, tak berapa lama juga, Aline sudah keluar dari halaman kosannya, menghampiri kendaraan Saya, sedikit menurunkan kaca, segera kusapa Dia, yang malam itu, tampil dengan kaos oblong sebagai dalaman, lalu di luarnya mengenakan sweter rajutan, dengan bawahan jeans ketat yang cukup menampakkan bulatan pangkal pahanya

“Masuk yuk…” tawarku ke Aline yang membungkuk sedikit mengintip melalu sela kaca mobil yang Saya turunkan, hanya memastikan benar kah Saya yang sedang di belakang kemudi.

Kemudian Aline segera membuka pintu mobil Saya, dan begitu Ia sudah duduk manis di kursi samping Saya, kendaraan kupacu ke arah Pantai Manakarra, ke salah satu Rumah Makan yang menyediakan menu ikan bakar. Dalam perjalanan ke Rumah Makan, kami tak tak banyak bicara, kami hanya menikmati suasana jalan di depan kami, yang sedikit agak ramai, seperti biasa menjelang akhir pekan.

Sesampainya di Rumah Makan, kami lansung memesan ikan sesuai selera kami masing masing, kemudian kami serahkan ke pelayan di Rumah Makan itu, lalu kami mengambil tempat di deret yang agak ke pojokan, yang agak jauh dari semburan AC, sehingga dingin dari pendingin AC tak begitu mengganggu kami.

Sembari menantikan matangnya menu yang di pesan, Saya melirik kea rah Aline, yang sedang asyik memainkan ponselnya, ada keinginan kuat saat itu, menelusuri tiap lekuk wajahnya hingga setengah tubuhnya, tak lepas dari penelusuran pandanganku “Cantik…” gumamku.

Karena merasa di awasi oleh Saya, Aline tiba tiba bertanya, membuyarkan penelusuranku pada lekuk wajahnya.

“Kenapa kak, koq awas begitu pandangannya ke Aline..??” sergahnya, membuatku salah tingkah.

“Tidak apa apa, hanya pangling saja, melihat Aline, tak menyangka bisa bersamamu makan malam saat ini” balasku asal, menutupi salah tingkahku karena kepergok.

Sebelum Aline melanjutkan pembicaraan, terhenti, karena pelayan Rumah Makan sudah tiba membawa satu nampang berisi pesanan menu makan malam kami, sehingga saat pelayan sudah berlalu dari meja kami, Saya segera mempersilahkan Aline untuk mulai menyantap makan malamnya.

Setelah menu yang kami pesan ludes, kami santap, Saya pun segera ke kasir untuk membayar menu pilihan kami, lalu Saya mengajak Aline meninggalkan Rumah Makan, begitu Aline duduk manis di samping Saya, dan usai memasang seatbelt, Saya lalu menoleh ke Aline….

“Aline… mau lansung pulang atau mau jalan jalan dulu… kalau mau jalan jalan, ayuk, mumpung besok kan libur..” ajakku ke Aline

Tak butuh berpikir, Aline lansung mengiyakan ajakan Saya.

“Iya kak, jalan jalan saja dulu, kayaknya masuk arteri muter muter, seru ya kak..?” seloroh Aline menerima ajakan Saya.

Sehingga Saya pun segera mengarahkan kemudi mobil Saya ke arah selatan Kota Manakarra, tepatnya masuk arteri, dan kurang dari dua menit dari Rumah Makan, kendaraan Saya sudah masuk arteri, di bawah temaram lampu di tengah gradual jalan yang membelah arteri, membuat suasana dan pemandangan di arteri sungguh luar biasa suasananya.

“Sering ya Aline masuk sini kalau malam..???” tanya Saya ke Aline, mencairkan kebisuan puteran roda ban..

Aline kemudian mengambil posisi agak memuter posisinya, menghadap ke Saya, kemudian membalas Saya.

“Kalau sering, tidak sih, kalau sesekali iya, pas lagi butuh suasana kayak gini, maka biasa keluar menuju masuk arteri, kenapa kak ?” tanyannya balik.

“hummmm tidak, Saya perhatikan Aline betah saja sepertinya kalau masuk arteri, mang kalau kesini sendiri nyetir mobilnya ?” selidikku, berharap ada jawaban lain.

“Malah Aline tidak bawa mobil kak, Aline minjam motor teman di kosan, sekalian ajak mereka, main ke sini” tanggapnya atas pertanyaan selidik Saya.

“Oh kirain bareng sama prianya, ternyata cuman dengan teman cewek sekosnya..” sekenaku, tapi di tanggapin serius oleh Aline.

Sembari tertawa renyah, melepas seutas senyum manisnya, Aline meluruskan apa yang Saya pikirkan sebelumnya.

“Aline belum pernah masuk arteri malam malam, jalan bareng sama pria kak, sejak Aline bekerja di kota ini..” jelasnya serius sembari menatapku yang sedang fokus ke depan mengendalikan kemudi.

Karena Saya tak begitu percaya penjelasannya, maka Saya mencoba mengubah pertanyaan Saya, ke Aline, seperti pria lainnya, ketika menyelidiki perempuan yang di dekatinya, tentu semata mata memastikan bahwa perempuan tersebut memang sedang sendiri.

“Masa iya, Aline yang punya wajah dan tubuh sesempurna ini, belum punya teman pria, mana ada pria yang mau melewatkan perempuan cantik dan nyaris sempurna seperti Aline…?” tanyaku mengejar jawabannya.

“Serius loh kak, Aline memang saat ini sedang tak punya teman pria yang khusus, kalau teman pria di tempat kerja atau kenalan biasa, iya Aline punya banyak… Aline fokus kerja dulu kak, buat bantu orang tua, biayai sekolah adik adik Aline” bebernya, membuatku berhenti lalu sedikit berpikir, karena perempuan secantik dan seceria ini, juga ternyata bekerja di kota Manakarra ini, juga bukan hanya untuk dirinya, tapi membantu orang tuanya membiayai pendidikan adik adiknya, Saya salut.

“Aline… Saya salut, ternyata Aline juga sedang mengabdi pada orang tua, untuk membahagiakan saudara saudara, semoga sukses selalu ya” ujar Saya kepada Aline memberinya semangat, dan di sambut angukan kepala.

Tidak terasa nyaris sejam kami sudah berada di arteri, sehingga kami putuskan untuk balik pulang, dan Saya segera mengantar Aline kembali ke kosannya. (**)

(Apakah kisah Aline dan Irvan seperti kisah pembaca ?, jangan salahkan tulisan ini, jika kisahnya sama, nantikan saja episode berikutnya)

Bagikan
banner 728x90

Komentar