Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Kades Bumi Etam Soroti Hilirisasi agar Potensi Desa Tak Berhenti di Hulu

Katinting.com, Sangatta – Upaya memajukan desa-desa di Kabupaten Kutai Timur terus digalakkan, namun sejumlah persoalan mendasar masih menghambat laju kemandirian ekonomi desa. Meski potensi pertanian, perikanan, hingga budaya tersebar luas di berbagai wilayah, ketiadaan hilirisasi dan kepastian pemasaran membuat banyak desa tetap bergantung pada bantuan luar. Penilaian ini disampaikan oleh Laurentius Martin, Kepala Desa Bumi Etam Kecamatan Kaubun sekaligus tokoh masyarakat pesisir Teluk Sangkulirang, saat memaparkan tantangan pengembangan desa di Kutim.

Martin menegaskan bahwa pondasi utama kemandirian desa bukan hanya terletak pada pembangunan fisik atau program pelatihan, tetapi pada kemampuan desa menciptakan Pendapatan Asli Desa (PADes) yang berkelanjutan. Untuk itu, desa harus memiliki master plan yang terukur dan mampu menghimpun pemasukan tanpa terus-menerus mengandalkan dukungan eksternal.

“Sebenarnya untuk memajukan desa itu, ujung-ujungnya desa harus menjadi desa yang mandiri. Dan desa yang mandiri itu paling tidak desa yang memiliki pendapatan asli desa yang bisa mengakomodir kepentingan masyarakat,” ujarnya saat diwawancarai di Hotel Royal Victoria Sangatta Utara, Sabtu (29/11/2025).

Ia menjelaskan bahwa banyak desa hanya fokus pada pembangunan di sisi hulu, seperti peningkatan produksi pertanian atau pelatihan UMKM, tetapi tidak menyiapkan hilirisasi sebagai penguat nilai tambah. Tanpa dukungan pasar dan jalur distribusi yang jelas, produk hanya menjadi hasil mentah yang sulit memberikan manfaat ekonomi signifikan bagi warga.

Martin mencontohkan sejumlah komoditas unggulan seperti kakao, kelapa, dan hasil laut yang dimiliki desa-desa di Kutai Timur. Meski produksinya melimpah, ketidakjelasan jalur pemasaran menyebabkan komoditas tersebut sulit dipasarkan ketika panen raya tiba. Akibatnya, produk menumpuk tanpa pembeli dan nilai ekonomi pun stagnan.

“Hasilnya dipanen besar-besaran, tapi masyarakat sulit menjual. Potensi ekonomi mandek pada produksi saja, tidak ada sarana dan prasarana untuk menyerap hasil,” katanya.

Kondisi ini, lanjut Martin, menambah beban bagi petani karena produk seperti kakao dan buah memiliki batas waktu kesegaran yang singkat. Tanpa hilirisasi, biaya penyimpanan dan risiko kerusakan justru meningkat, sehingga masyarakat tidak mendapatkan keuntungan yang layak dari kerja keras mereka.

Sejumlah pemerhati pembangunan desa menilai bahwa hilirisasi adalah jalan penting untuk mengubah potensi menjadi pendapatan nyata. Desa perlu membangun unit pengolahan, menggandeng mitra industri, dan memanfaatkan pasar digital agar produk lokal memiliki nilai tambah dan daya saing. Selain itu, keberadaan master plan yang terencana menjadi kunci agar pengembangan desa tidak berjalan sporadis.

Dengan berbagai tantangan tersebut, pesan Martin menjadi pengingat bahwa potensi besar yang dimiliki desa hanya akan menjadi catatan tanpa strategi hilirisasi yang kuat. Desa-desa di Kutai Timur dinilai perlu memperkuat rantai pemasaran agar produksi dapat mengalir hingga ke pasar dan berbuah kesejahteraan bagi masyarakat. (ADV).

Share: