Mamuju, Katinting.com – Suara tabuhan rabana mengalun rancak, diiringi lantunan marawis yang memecah kesunyian malam. Tepuk tangan bergemuruh dari ratusan pasang tangan, memenuhi ruangan saat malam penutupan Seleksi Tilawatil Quran & Hadis (STQH) XI Sulawesi Barat. Lampu sorot mengaliri wajah-wajah penuh haru, ada yang berbinar menanti pengumuman, ada pula yang sudah basah oleh air mata kekalahan.
Wakil Gubernur Sulbar, Salim S. Mengga, duduk tenang di barisan depan. Di sampingnya, Plh. Sekprov Sulbar Herdin Ismail dan sejumlah pejabat dari enam kabupaten menyimak setiap detik acara. Suasana kian memanas ketika Ketua Dewan Hakim naik ke podium, membawa secarik kertas berisi nama-nama pemenang.
“Dan Juara Umum STQH XI Sulawesi Barat… diraih oleh Kafilah Kabupaten Polewali Mandar”
Sorak-sorai pecah. Delegasi Polman berpelukan, sementara Pasangkayu dan Mamasa, yang berada di posisi kedua dan ketiga, tersenyum lapang. Di sudut ruangan, seorang peserta dari Majene memeluk mushafnya erat, berbisik, “Lain kali, aku akan kembali.”
Wakil Gubernur Salim S. Mengga kemudian berdiri, menyapa mereka yang belum meraih kemenangan. Suaranya rendah tapi menggema,
“Jangan kecil hati. Di sini, kalian bukan hanya berlomba, tapi belajar, ini tempat belajar kalian.”
Matanya berbinar saat melanjutkan,
“Mengaji dan menghafal Al-Quran itu mulia, tetapi yang lebih utama adalah memahami dan mengamalkannya.” Imbuh Wagub.
Hadirin terdiam, seakan setiap kata yang terucap menyentuh relung hati. Seorang ibu di barisan belakang mengangguk pelan, sambil memegangi bahu anaknya yang masih mengenakan syal kafilah.
“Bawa pulang semangat ini. Tanamkan nilai-nilai Qurani di tengah masyarakat kita,” pesan Salim, sebelum mengakhiri sambutannya dengan doa penutup,
“Bismillahirrahmanirrahim… STQH XI Sulawesi Barat resmi ditutup. Semoga keberkahan acara ini menjadi syafaat bagi kita semua.” pungkas Salim.
Lantunan terakhir yang tak pernah usai, di luar gedung, langit Mamuju dipenuhi bintang. Suara rabana masih terdengar sayup-sayup, seiring kelompok marawis yang beranjak pulang. Seorang peserta dari Mamasa memandang piala di tangannya, juara ketiga bukanlah kekalahan, melainkan janji untuk bangkit lebih tinggi.
“STQH akan datang, saya akan lebih siap,” ujarnya, sebelum menyimpan piala itu ke dalam tas, bersama selembar sertifikat dan tekad yang tak tertulis.
Malam itu, STQH mungkin telah berakhir. Tapi semangat untuk menjaga Al-Quran dalam hati, tak akan pernah padam. (Fhatur Anjasmara)






