Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Demi Sayap Batik Air Kembali ke Mamuju, Gubernur Suhardi Duka Bertaruh Kata Menegosiasi Maskapai

Jakarta, katinting.com – Langit Mamuju terasa lebih sunyi belakangan ini. Sejak seminggu lalu, landasan Bandara Punggawa Malolo, Tampa Padang di Mamuju, tak lagi disambut deru mesin Batik Air yang biasa menghubungkan ibukota Sulawesi Barat dengan Makassar. Kepulan debu dari roda pesawat pun menghilang, digantikan oleh pertanyaan warga, Kapan kita bisa terbang lagi?

Di lantai tinggi Lion Air Tower, Jakarta, Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka melangkah tegas. Wajahnya yang biasa tersenyum ramah kini tampak berkerut, garis-garis lelah terlihat jelas di bawah sorot lampu ruang rapat. Di depannya, duduk Ary Azhari, Direktur Lion Air, dengan dokumen operasional terbentang di meja. Udara terasa berat, tapi kedua tangan itu harus bersepakat, Mamuju tak boleh terjepit.

“Ini bukan sekadar jadwal penerbangan yang kosong, Pak. Ini tentang ibu yang harus berobat, pedagang yang mengirim barang, anak-anak yang pulang kuliah,” ujar Suhardi, suaranya parau namun penuh keyakinan.

Baca juga: Batik Air Hentikan Rute Mamuju-Makassar, Pemprov Sulbar Siapkan Subsidi untuk Wings Air

Ary Azhari mengangguk pelan. Di matanya, ada pengakuan, langkah seorang gubernur yang datang langsung, bukan sekadar mengirim utusan, adalah bentuk keseriusan yang langka.

Dialog pun berlansung di balik pintu tertutup, pertemuan itu bukan sekadar formalitas. Di ruang ber-AC yang dingin, deretan angka dan grafik okupansi dipaparkan. Maskapai mengeluh, rute Mamuju-Makassar kerap sepi, tak sebanding dengan biaya operasional. Tapi Suhardi tak menyerah.

“Kami siap membantu. Pemprov akan mengarahkan ASN dan instansi vertikal untuk memakai Batik Air saat dinas,” tegasnya.

Ary Azhari tersenyum tipis. “Kami apresiasi langkah Bapak. Tapi bisnis penerbangan butuh kepastian jangka panjang.”

“Maka kita buat skema bersama. Sulbar dan Sulsel akan duduk lagi, cari formula agar penerbangan ini tetap hidup,” balas Suhardi.

Di sudut ruangan, Asisten II Bidang Pembangunan Junda Maulana berbisik pada Kadis Perhubungan Madda Rezki “Ini ujian buat kita semua.”

Janji di ujung meja, dua jam kemudian, kesepakatan tercapai. Batik Air akan kembali mengudara, setidaknya dalam waktu dekat. Tapi semua tahu, ini bukan kemenangan final. Masih ada pekerjaan rumah, bagaimana memastikan kursi pesawat tak kosong melayang ?, Bagaimana membuat rute ini tak sekadar hidup, tapi juga bernafas lega ?

“Ini soal akses, soal harga mati,” ujar Suhardi pada rombongannya usai rapat.

“Mamuju bukan kota kecil. Dia punya denyut nadi yang harus terus terhubung.”

Di Bandara Punggawa Malolo, Tampa Padang, kabar ini mungkin akan disambut dengan haru. Tapi di balik layar, perjuangan belum usai. Seperti pesawat yang butuh landasan pacu untuk lepas landas, upaya Suhardi Duka butuh dukungan lebih dari sekadar janji.

Sementara itu, langit Mamuju masih menunggu. Dan sayap-sayap Batik Air anak maskapai Lion Air itu, dengan segala cerita di baliknya, bersiap untuk kembali membelah langit Sulbar. (*/Fhatur Anjasmara)

Share:

Redaksi

Media Informasi Rakyat