Pasangkayu, Katinting.com – Produksi sarang burung walet dan porang diharapkan memenuhi standar kualitas ekspor sehingga memberikan nilai tambah bagi petani.
Untuk itu dilaksanakan bimbingan teknis akselerasi ekspor komoditas sarang burung walet dan porang di Kabupaten Pasangkayu yang dihadiri langsung anggota komisi IV DPR RI, Dr. H Suhardi Duka, Kepala Karantina Pertanian Mamuju yang membawahi wilayah Sulbar, Agus Karyoni via daring dan puluhan kelompok tani walet dan porang. Senin, 17 Oktober 2022.
Dalam sambutannya, Kepala Karantina Pertanian Mamuju, Agus Karyono menyampaikan, tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan pemahaman kepada para petani utamanya petani sarang burung walet dan porang, terkait budidaya dan pemprosesan sehingga memenuhi persyaratan ekspor.
Katanya, Bimtek yang dilaksanakan merupakan lanjutkan dari bimtek yang serupa pada tahun 2021 lalu, yang mana terkait tata cara kelola budidaya walet.
“Komisi IV DPR RI merupakan mitra kami, sehingga kami minta dukungannya bapak Suhardi Duka, agar pembangunan pertanian di Sulbar ini bisa berjalan sesuai dengan apa yang kita rencanakan, harapannya menjadi petani milenial yang mandiri maju dan mandiri,” kata Agus Karyono.
Suhardi Duka menyampaikan, suatu negara ingin menjadikan produknya menjadi unggulan, bahkan sampai ke tingkat pasar dunia. Dan tidak ada satu negara berdiri sendiri, pasti ada pesaingnya yang ingin lebih baik.
“Setiap negara ingin menang dalam persaingan itu. Bagaimana untuk menang? bisa dengan berbagai cara termasuk dengan meningkatkan kualitas, lebih sehat, lebih meningkatkan nutrisi produknya,” kata Suhardi Duka.
Lanjut pria yang akrab disapa SDK ini, bisa juga merusak produk negara saingannya. Makanya ada karantina pertanian supaya melindungi produk kita, dan juga melindungi rakyat kita dari produk bangsa lain. Sebut saja penyakit PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) pada sapi, itu dulu sudah ada, dan saat ini itu merupakan penyakit yang masuk kembali ke Indonesia yang merusak, sehingga karantina pertanian menjadi benteng untuk melindungi.
Masih kata SDK, komoditas sarang burung walet mempunyai nilai ekspornya sangat tinggi dan ditingkat lokal harganya rendah dibawah. Padahal untuk meningkatkan nilainya itu bisa dikerjakan sendiri. Seperti membersihkan bulu yang melekat. Olehnya itu dibutuhkan kesabaran sedikit untuk memberikan nilai tambah, bisa dengan menggunakan teknologi.
“Komoditas sarang burung walet dan porang itu merupakan salah satu unggulan di Sulbar, selama ini datang pembeli langsung atau hanya dikirim ke Surabaya baru kemudian di ekspor. Ini menjadi tantangan kita semua, sehingga bagaimana komoditas ini bisa kita ekspor sendiri dari Sulbar sehingga memberikan nilai tambah,” ucap SDK.
Menurutnya, nilai tambah itu berupa harga maupun kualitas yang lebih baik. Selama ini sarang yang kotor di kirim ke pulau jawa, itu kisaran harga 10 juta sampai 15 juta, jika kualitas ekspor bisa harganya naik 2 atau 3 kali lipat perkilonya.
Lanjut, Porang juga kita harapkan harganya ditingkat petani bisa semakin membaik. Karena sempat di banned sama negara cina dan baru dibuka kerang ekspornya pada Mei lalu 2022.
Mantan Bupati Mamuju dua periode ini mengatakan, kita sebagai petani jangan latah, harus cerdas. Karena awal-awal itu untung tapi kalau sudah sizenya besar, dipasaran biasanya harganya rendah. begitu hukum ekonominya, kalau permintaan tinggi harganya rendah.
“Yang juga bagus itu hortikultura sangat bagus, seperti bawang merah bisa sampai 10 ton per hektar jika dikelolah dengan baik, harganya pun bagus,” sebut SDK.
Jadi memang kita Indonesia ini harus meningkatkan kualitas pertanian kita, meningkatkan produktifitasnya. Menjadi produk pertanian menjadi salah satu produk Indonesia, punya SDK.
Kita diambang resesi, dan salah satu produk yg bisa menjadi pertahanan adalah produk pertanian. Yang penting pertanian dengan cara modern dengan dukungan teknologi, bukan lagi cara tradisional, kuncinya.
(Anhar)






