Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Topografi Laut Berbahaya & Muncul Hewan Predator, BPBD Mamuju Tengah Minta Warga & Keluarga Korban Tidak Melakukan Pencarian Mandiri

Breafing sebelum dimulainya pencarian korban tenggelam. (dok ist)

Mamuju, Katinting.com – Memasuki hari ketiga, Kamis (06 pencarian terhadap pemuda dari Desa Tinali, Kecamatan Budong – Budong, Mamuju Tengah, Sulbar, yang hilang terseret air laut, Tim SAR Gabungan dari berbagai unsur, belum menemukan petunjuk keberadaan korban Wawan Kurniawan (16).

Belum ditemukannya, korban terseret air laut, pada hari ketiga pencarian Kamis kemarin, hingga pukul 16:30, membuat pencarian ditunda, dan pencarian kembali akan dilakukan pada hari ini, Jumat (07/03).

Baca juga; Korban WK Belum Ditemukan, Diduga Terseret Ke Valung Dalam, Sigit Dwihastono; Hasil pantauan sonar, ada penampakan buaya cukup besar

Penundaan pencarian hari ketiga kemarin, juga berbarengan dengan keluarnya himbauan dari BPBD Mamuju Tengah, kepada warga dan keluarga korban untuk tidak melakukan pencarian mandiri, mengingat topografi laut yang berbahaya bagi keselamatan pencari, juga didalam laut sekitar area hilangnya korban, tertangkap sonar SAR Mamuju adanya hewan predator berupa buaya air asin yang cukup besar.

Karena dua alas an itu kemudian, warga dan keluarga korban tidak melakukan pencarian mandiri tanpa koordinasi dengan tim SAR Gabungan, demi menghindari hal yang tidak diinginkan.

“Jadi topografi laut disekita titik awal hilangnya korban Wawan Kurniawan itu, ditemukan kondisi laun memiliki valung yang variative kedalamannya, mulai hanya 5 meteran bahkan ada yang hingga melebihi kedalaman 100 meteran” ungkap Kepala BPBD Mamuju Tengah, Sigit Dwihastono.

Selain kondisi topografi laut yang membahayakan manusia yang tidak memiliki keahlian tersendiri, juga ada yang lebih awas mesti diwaspadai, yakni serangan buaya air asin, tampak diwilayah itu.

“Nah ini yang mesti kita lebih awas, sehingga kami tidak mengizinkan pencarian mandiri, sebab sonar SAR Mamuju, menangkap adanya pergerakan hewan pembunuh mematikan, yakni buaya yang cukup besar disekitar area itu” beber Sigit.

Karenanya, tim SAR Gabungan cukup hati hati dalam proses pencarian ini, sehingga pencarian diarea korban hilang terseret air laut, dilakukan dengan cukup hati hati, dan berbagai design pencarian diterapkan dalam proses pencarian.

“Kami tentu akan melakukan berbagai upaya secara maksimal, agar korban dapat ditemukan kembali, dengan kondisi dua hal tersebut diatas, dan besok Jumat (07/03 pencarian keempat akan dimulai kembali” pungkas Sigit. (Fhatur Anjasmara)

Share:

Redaksi

Media Informasi Rakyat