
*Oleh : Muh.Farrel Islam
Jurusan Sejarah, Offering B 2018
Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang
Ingatlah!, Bahwa suara saya dari alam kubur akan lebih keras daripada diatas bumi
Tan Malaka, namanya akan asing ditelinga masyarakat karena sangat jarang jalan protokol menyematkan nama seorang pemikir sekaligus pejuang ini. Dibandingkan dengan nama masyhur seperti Jenderal Soedirman yang menghiasi jalan-jalan protokol di kota besar, padahal dua sosok ini adalah pahlawan nasional. Kemudian yang membedakan adalah Jenderal Soedirman memimpin perjuangan melalui siasat perang gerilya dan Tan Malaka banyak menyumbangkan ide dan pemikiran serta menginspirasi para tokoh pergerakan dan belakangan saat agresi militer Belanda II Tan Malaka aktif melakukan perlawanan bersenjata hingga menghimpun kekuatan bersenjata untuk melawan agresi militer. Tan Malaka sebenarnya adalah sosok yang beruntung pada masa kolonialisme Belanda, Tan Malaka berkesempatan melanjutkan studinya untuk pendidian guru lanjutan di kota Haarlem, Belanda (1913-1915), namun karena perang dunia II Tan Malaka tidak bisa langsung pulang setelah menyelesaikan studinya, pada masa-masa itulah Tan Malaka banyak mempelajari ideologi komunisme dan sosialisme.
Setelah pulang ke Indonesia pada tahun 1920, Tan Malaka menjadi guru sekolah di sebuah perkebunan Belanda di wilayah Deli, namun dirinya terlibat konflik berkepanjangan dengan pejabat perkebunan, hal ini disampaikan kepada sahabatnya di Belanda bernama Dick Van Wijngaarden melalui surat yang dikirim Tan Malaka bahwa dirinya meminta berhenti mengajar disekolah perkebunan itu. Hal itu terjadi, ditulis Harry A. Poeze dalam Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik 1897-1925 karena pemikiran Tan Malaka bahwa jika buruh terampil maka pekerjaannya akan lebih efektif dan efisien, hal ini dapat dilakukan melalui pendidikan, tetapi pemikiran Tan Malaka ini dicibir oleh petinggi perkebunan bahwa mendirikan sekolah bagi anak buruh perkebunan hanya menghamburkan uang.
Akhirnya pada tahun 1921, Tan Malaka berhenti mengajar disekolah perkebunan itu, Tan Malaka memilih berpetualang ke pulau Jawa tepatnya di Semarang. Di tengah perantauan, dia bergabung dengan PKH (Perkumpulan Komunis di Hindia) kemudian atas bantuan Darsono, salah seorang tokoh Sarekat Islam (SI) merah yang juga merupakan wakil ketua PKH, Tan Malaka kembali menunjukan jati dirinya sebagai seorang guru, dengan menyelenggarakan pendidikan gratis bagi anak-anak rakyat jelata yang kemudian disebut sebagai “Sekolah Rakjat” yang kurikulum pendidikannya serupa dengan kurikulum pendidikan sekolah-sekolah di Uni Soviet. Selain aktif dibidang pendidikan, ternyata Tan Malaka juga aktif menulis pamflet-pamflet dan berpidato untuk mendorong pemogokan kaum buruh, sehingga gerakan agitasi Tan Malaka pun mulai dirasakan oleh pihak keamanan Hindia Belanda, ditulis dalam buku Tan Malaka dan Sjahrir dalam Kemelut Sejarah bahwa Tan Malaka dikenakan hukuman pembuangan ke negeri Belanda pada bulan Maret 1922.
Hukuman pembuangan yang dikenakan pada Tan Malaka itu sebenarnya adalah awal dari kehidupan menyedihkan yang dialami oleh Tan Malaka, terus diburu oleh intelijen dan polisi rahasia di berbagai negara persembunyiannya, hingga kehidupannya menjadi tertutup bahkan hingga akhir hayatnya Tan Malaka tidak pernah menikah. Harry Poeze yang menulis biografi Tan Malaka menyebutnya sebagai revolusioner kesepian (een eenzame revolutioner).
Tuan rumah tidak akan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya
Meskipun disebut sebagai revolusioner yang kesepian ternyata banyak tokoh pergerakan yang menjadi pengikut dan mengagumi Tan Malaka, sebut saja Mohammad Yamin yang mendirikan Persatuan Perjuangan pada 1946, Persatuan Perjuangan dibentuk untuk mengimbangi politik negosiasi yang dilakukan oleh Kabinet Sjahrir. Dalam ideologi, Persatuan Perjuangan sejalan dengan ideologi Tan Malaka yang menolak politik negosiasi, bahkan ada sebuah kutipan Tan Malaka yang sangat terkenal “Tuan rumah tidak akan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya”, itu menjadi salah satu bukti bahwa Tan Malaka sangat menolak politik negosiasi. Selain itu, sebagai bentuk manifestasi dari sikapnya yang menolak politik negosiasi dan selalu menginginkan kemerdekan 100% melalui kekuatan senjata, Tan Malaka menghimpun kekuatan bersenjata dan melakukan perlawanan secara aktif terhadap Belanda saat agresi militer Belanda II.
Tetapi sejatinya bukan perjuangan dan sikapnya yang membuat Tan Malaka melegenda, melainkan saat menjalani masa pembuangan dan pelariannya, di masa-masa itu, Tan Malaka justru banyak belajar, mulai dari mengikuti Kongres Internasional Partai-partai Komunis (Kominform) di Moskow pada tahun 1922 dan kemudian diangkat sebagai Wakil komandan Kominform untuk Asia Tenggara sehingga dianggap berbahaya dan diburu di berbagai negara, sebut saja negara seperti Jerman, Beijing, Filipina dan Thailand, bahkan Tan Malaka dalam bukunya Dari Penjara ke Penjara menyatakan bahwa dirinya pernah ditangkap oleh agen rahasia Inggris di Hongkong dan sempat ditahan selama 6 bulan, hingga akhirnya Tan Malaka dibebaskan karena pemerintah Hongkong mendapat tekanan dari salah satu sahabat Tan Malaka yang merupakan anggota parlemen Inggris dari partai komunis.
Dalam pelariannya yang penuh penyamaran itu justru Tan Malaka banyak menuliskan buah pikirannya mengenai kemerdekaan bangsa Indonesia, bahkan jauh sebelum proklamator Mohamad Hatta dan Ir. Soekarno mengemukakan gagasannya. Sebut saja bukunya Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) yang terbit tahun 1926, dua tahun sebelum Sumpah Pemuda, ini menunjukan bahwa Tan Malaka sudah jauh-jauh hari memikirkan mengenai kemerdekaan bangsa Indonesia. Bahkan buku tersebut jauh lebih dulu terbit daripada tulisan Mohamad Hatta Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) sebagai pledoi di pengadilan Den Haag tahun 1928, bahkan jauh lebih dulu daripada pledoi Soekarno yang sangat terkenal yaitu “Indonesia Menggugat” tahun 1930. Lagi-lagi ini membuktikan bahwa Tan Malaka lebih dulu memperkenalkan konsep Republik Indonesia sehingga tidak heran, sosok sastrawan dan sejarawan Indonesia sekelas Mohamad Yamin memberinya gelar sebagai “Bapak Republik Indonesia”.
Meskipun berlatar belakang sebagai seorang komunis, tapi dalam beberapa hal, sikap Tan Malaka justru bertentangan dengan kebijakan komunis, seperti sikapnya yang kontra terhadap pemberontakan di Partai Komunis Indonesia di Banten pada tahun 1926 dan Sumatera Barat pada tahun 1927, bahkan Tan Malaka menulis buku Massa Actie dalam persembunyiannya di Singapura pada tahun 1926 sebagai bentuk penolakan terhadap pemberontakan PKI pada masa itu, karena Tan Malaka beralasan bahwa hal itu akan menjadi bumerang bagi PKI, karena saat itu kekuatan perjuangan dianggap belum mampu melawan kekuatan Belanda sehingga oleh PKI Tan Malaka dianggap penghianat dan penyebab kegagalan pemberontakan itu.
Tan Malaka memang berideologi komunis yang kadang dianggap ekstrem oleh sebagian kalangan, tetapi dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia, Tan Malaka menunjukan konsistensinya melalui perjuangan fisik, bukan lagi hanya menulis gagasan dan membangun relasi diberbagai negara untuk mendukung kemerdekaan Indonesia. Tetapi saat melakukan perjuangan fisik itu justru Tan Malaka dibunuh oleh bangsa yang ia perjuangkan sendiri. Saat menghimpun dan melakukan perlawanan bersenjata pada agresi militer Belanda, Tan Malaka justru dituduh melakukan agitasi terhadap pemerintahan Sjahrir karena Tan Malaka sangat menolak politik negosiasi yang selalu dilakukan oleh Sjahrir, sehingga aparat militer melakukan penindakan terhadap Tan Malaka dan pasukannya. Tan Malaka akhirnya dieksekusi mati di sekitaran Sungai di Desa Selopanggung, Kediri pada 21 Februari 1949. Tan Malaka tewas ditangan bangsa yang sedang gandrung kemerdekaan dan Republik yang ia cita-citakan jauh sebelum tokoh pergerakan yang lain bercita-cita mengenai kemerdekaan. Maka sangatlah pantas, seorang Mohamad Yamin menyebutnya sebagai “Bapak Republik Indonesia”.
Meskipun Tan Malaka sudah tiada, mati ditangan bangsanya sendiri tapi, hari ini ungkapannya yang sangat melegenda “Ingatlah!, Bahwa suara saya dari alam kubur akan lebih keras daripada diatas bumi” telah terbukti. Saat Tan Malaka mati, barulah gagasan dan pemikirannya banyak dikagumi dan digaungkan oleh orang lain, padahal semasa Tan Malaka hidup, sebagian hidupnya dinikmati dalam penjara dan pelarian. Dipenjara oleh bangsanya sendiri, yang bertentangan ideologi dan sikap politik dengannya.
*Daftar Rujukan
Isnaeni, H.F. 2015. Seputar Proklamasi Kemerdekaan: Kesaksian, Penyiaran dan Keterlibatan Jepang. Jakarta: Kompas.
Malaka, T. 2015. Dari Penjara ke Penjara. Yogyakarta: Penerbit Narasi
Santosa, K.O. 2015. Tan Malaka dan Sjahrir dalam Kemelut Sejarah. Bandung: Sega Arsy.






