Mateng, Katinting.com – Warga petambak yang memanfaatkan Sungai Kampaja, sebagai ruas distributor air untuk kebutuhan air tambak mereka, saat ini di buat resah, karena, petambak menduga air pada Sungai Kampaja, tercemar oleh rembesan limbah dari pabrik pengolahan minyak sawit tak jauh dari tepi sungai.
Petambak resah, karena sepekan lalu, tiba tiba ditemukan beberapa ekor mati tiba tiba, sehingga petambak menduganya, bahwa itu adalah akibat tercemarnya air dalam sungai, bahkan warna air juga hitam pekat.
Untuk itu, Sabtu (29/01), Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Mamuju Tengah, lansung menerjunkan anggotanya, ke lokasi melihat lansung kondisi Sungai Kampaja, yang menjadi pilar penghubung muara dengan kawasan tambak warga di wilayah Kabarang dan Kambunong.
Saat dihubungi sepulang dari lapangan, Kepala Bidang Penanganan Limbah DLHK Mamuju Tengah, Muhtar, menjelaskan bahwa merespon apa yang menjadi keluhan warga, pihaknya atas izin pimpinan lansung kelokasi Sungai Kampaja, melihat kondisi air sungai yang di duga tercemar.
Dalam kunjungannya, Ia di dampingi oleh perwakilan PT. Primanusa Global Lestari, Kepala Desa Kambunong serta beberapa aparat dusun dan desa lainnya, dan lansung melakukan investigasi kepada beberapa pihak.
“Jadi pada kunjungan kami beberapa saat lalu di lokasi, pertama kami tidak menemukan adanya ikan mati tiba tiba sebagaimana di sampaikan oleh warga dalam laporannya beberapa waktu lalu, sementara soal warna air hitam pekat, kami juga mendapatkan informasi, bahwa airnya sudah demikian warnanya, sebelum perusahaan ada di sana, sehingga dua hal yang subtansi terbantahkan” jelas Muhtar.
Selain melakukan investigasi pada Sungai Kampaja, tim yang di pimpinnya juga melakukan penelitian di sekitar Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) secara teliti, namun pihaknya juga tidak menemukan adanya kebocoran IPAL dari PT. Primanusa Global Lestari.
“Kami periksa IPALnya, kami tidak menemukan adanya rembesan dari IPAL itu, yang menjadi dugaan awal kami, kemungkinan IPAL bocor, tapi kami tidak menemukan adanya rembesan dari IPAL, sehingga tentu terbantahkan juga kalau ada pencemaran bersumber dari IPAL” beber Muhtar.
Akan tetapi, kesimpulan yang didapatkan di lapangan, tentu belum final, tapi gambarannya seperti itu, hasil dari lapangan ia akan laporkan lansung ke pimpinannya, untuk kemudian mengambil kesimpulan lebih lanjut, termasuk kemudian akan di lakukan uji klinis di laboratorium pada air Sungai Kampaja.
“Nah karena kami di Mamuju Tengah, tak punya laboratorium, tentu ini sudah ranah pimpinan nantinya, mengajukan permohonan bantuan ke laboratorium yang ada di Mamuju untuk mengambil sampel airnya, guna mengetahui lebih jauh penyebab ikan mati, namun demikian pihak PT Primanusa Global Lestari juga sudah mengambil sampel airnya” pungkas Muhtar.
(Fhatur Anjasmara)






