Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Sulbar Catat Deflasi di Tengah Kenaikan Harga Global, Waspadai Ancaman Akhir Tahun

Mamuju, Katinting.com – Dalam sebuah rapat koordinasi virtual yang digelar Kementerian Dalam Negeri dan Badan Pusat Statistik (BPS), Provinsi Sulawesi Barat membeberkan secercah prestasi di tengah tantangan ekonomi global. Provinsi ini berhasil mencatat deflasi atau penurunan tingkat harga umum sebesar 0,24% secara bulanan (month-to-month/m-to-m) pada November 2025.

Keberhasilan ini tidak lepas dari komitmen Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat, yang diwakili oleh Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida), dalam mengawal misi pengendalian inflasi untuk pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Rapat yang dipimpin Sekretaris Jenderal Kemendagri, Tomsi Tohir, dan Deputi BPS, Puji Ismartini, itu menggarisbawahi stabilitas harga nasional yang masih dalam koridor target 1,5–3,5%.

“Inflasi nasional November 2025 terkendali di angka 2,72% secara tahunan (year-on-year). Ini adalah buah dari kerja keras bersama,” tegas Tomsi Tohir dalam pemaparannya, seraya mengingatkan seluruh daerah untuk menjaga ketahanan pangan menjelang libur Natal dan Tahun Baru.

Puji Ismartini dari BPS memaparkan, inflasi nasional masih didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan yang telah berlangsung 27 bulan berturut-turut, serta tarif angkutan udara. Namun, di sisi lain, sejumlah komoditas pangan justru menjadi penahan inflasi, bahkan pembawa angin deflasi.

“Komoditas seperti daging ayam ras, cabai merah, telur ayam ras, dan beras menunjukkan tren penurunan harga di sebagian besar provinsi, termasuk Sulawesi Barat,” jelasnya.

Data yang dirilis dalam rapat tersebut menunjukkan kinerja positif Sulawesi Barat. Selain deflasi 0,24% secara bulanan, inflasi tahunan provinsi ini juga berada dalam zona aman di angka 2,56%, masih dalam rentang sasaran nasional.

“Penurunan harga bulan ke bulan ini terutama disumbang oleh koreksi harga beras, ayam ras, telur ayam, dan beberapa komoditas hortikultura,” jelas Aksan Amrullah, Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bapperida Sulbar, yang hadir mewakili pimpinan.

Pencapaian deflasi ini menjadi penanda bahwa tekanan inflasi jangka pendek di Sulbar sangat rendah dan langkah-langkah pengendalian harga daerah menunjukkan efektivitasnya.

Meski kinerja November menggembirakan, pemerintah daerah tidak boleh lengah. Peringatan dari pusat jelas: periode libur Natal dan Tahun Baru sering kali menjadi momentum naiknya harga-harga komoditas sensitif.

“Kami tetap mewaspadai potensi kenaikan harga, terutama untuk cabai rawit, bawang merah, telur, daging ayam, serta kebutuhan transportasi,” tandas Aksan, menyiratkan bahwa prestasi deflasi bulan ini harus dijaga agar tidak tergerus gelombang konsumsi akhir tahun.

Dengan demikian, capaian deflasi November 2025 bukan akhir perjalanan, melainkan modal sekaligus ujian bagi ketangguhan pengendalian inflasi Sulawesi Barat dalam menghadapi dinamika harga yang selalu berdenyut mengikuti irama waktu. (*/Fhatur Anjasmara)

Share:

Redaksi

Media Informasi Rakyat