Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Sugiyo: Edukasi Sampah dari Sekolah, Kurangi Beban TPA dari Hulu

Katinting.com, Sangatta – Menyikapi ancaman krisis sampah yang semakin nyata di Kutai Timur, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menggelar Sosialisasi Instruksi Bupati Nomor B.600.4.15.2/12157/BUP tentang Optimalisasi Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber, Selasa (18/11/2025), di Gedung Wanita Bukit Pelangi. Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang edukasi pemanfaatan sampah organik menjadi kompos yang melibatkan ratusan kepala sekolah dan guru dari berbagai jenjang pendidikan.

Sugiyo, ST., M.Si, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Kutim, menegaskan pentingnya peran pendidikan dalam mengubah perilaku pengelolaan sampah masyarakat sejak usia dini.

“Harapannya para guru dan kepala sekolah yang hadir di sini bisa meneruskan pemahaman ini ke siswa, staf sekolah, hingga kantin. Jadi sekolah bisa jadi pelopor lingkungan bersih yang tidak menambah timbunan sampah baru,” ujar Sugiyo.

Menurutnya, jika pengelolaan sampah dari sumber—seperti rumah dan sekolah—sudah berjalan dengan baik, maka beban pengangkutan oleh UPT Kebersihan akan semakin ringan. Hal ini juga menjadi salah satu langkah menjawab sanksi administrasi yang sebelumnya dikenakan pada TPA Batota akibat sistem open dumping.

Sugiyo menambahkan bahwa pengelolaan sampah harus menyentuh dua sisi sekaligus: perbaikan di hilir (TPA) dan edukasi di hulu (masyarakat). Ia mendorong pemanfaatan sampah organik menjadi kompos, pakan ternak, atau maggot, yang selain menciptakan lingkungan bersih, juga berpotensi menambah penghasilan keluarga.

“Sampah organik bisa jadi pupuk atau pakan maggot, sedangkan botol plastik dan sampah anorganik lainnya bisa dijual ke bank sampah. Jadi selain lingkungan bersih, ada keuntungan ekonomi juga,” jelasnya.

Data DLH mencatat timbulan sampah harian di Kutim mencapai 228 ton. Namun, hanya 27 ton yang dikelola dengan baik, sisanya masih dibuang terbuka atau ke lingkungan sekitar. Karena itu, instruksi Bupati dan kegiatan edukatif seperti ini menjadi kunci dalam menekan jumlah sampah sejak dari sumbernya.

Sugiyo berharap program ini tidak berhenti di ruang sosialisasi, tapi diterapkan secara konkret di sekolah-sekolah dan menyebar ke rumah tangga. “Kalau kita tangani dari sumbernya, volume sampah ke TPA akan berkurang drastis,” pungkasnya. (ADV).

Share: