Mamasa, Katinting.com – Warga Desa Tabang, Kecamatan Tabang, Kabupaten Mamasa, menyambut antusias kedatangan Pj Gubernur Sulawesi Barat Bahtiar Baharuddin di wilayah perbatasan antara Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan, Minggu (9/2).
Kunjungan ini sudah lama dinantikan warga karena sejak bertugas di Sulbar, Bahtiar telah berencana bertemu langsung dengan masyarakat Tabang, daerah terpencil yang berjarak sekitar lima jam perjalanan dari Mamuju.
“Saya senang mendengar arahan Pak Gubernur. Luar biasa sekali, beliau datang mengunjungi kami dan memberikan solusi pertanian. Kami belum pernah mendapat arahan dan solusi seperti ini dari penyuluh maupun pejabat sebelumnya,” ungkap Tandebinanga, warga setempat.
Dalam kunjungannya, Pj Bahtiar membawa sejumlah program Pemprov Sulbar, termasuk Gerakan Pangan Murah (GPM), pembagian gratis bibit nangka dan sukun, serta penanaman pohon sukun. Dalam pidatonya, Bahtiar menekankan pentingnya memanfaatkan keunggulan alam untuk kesejahteraan masyarakat.
“Tugas pemimpin adalah memadukan kelebihan yang Tuhan berikan kepada warga melalui alam. Seperti di Mamasa dan Tabang,” katanya.
Bahtiar kemudian menekankan tiga komoditas utama yang bisa dikembangkan di Tabang, yaitu:
Bahtiar menyoroti potensi kopi di Mamasa, yang memiliki kemiripan dengan Toraja sebagai salah satu penghasil kopi terbaik di Indonesia. Namun, menurutnya, masih sedikit lahan kopi yang dibudidayakan di Tabang.
“Saya belum melihat hamparan kopi sepanjang perjalanan saya. Padahal, alam kita sangat mendukung untuk produksi kopi dalam skala besar,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi Sulbar akan mengalokasikan bibit kopi gratis kepada warga sebagai bagian dari upaya mengembangkan komoditas unggulan ini.
Selain kopi, Bahtiar juga mendorong warga untuk menanam cabai rawit atau cabai Katokkon, yang banyak dibudidayakan di Tana Toraja.
“Tabang ini sangat cocok untuk menanam cabai. Kita harus mengusahakan lahan ratusan hektare agar daerah ini menjadi pusat cabai yang bisa menarik pembeli dalam jumlah besar,” ujarnya.
Menurut Bahtiar, beberapa warga sudah mulai menanam cabai, dan Pemprov akan membantu dalam pengembangannya.
Bahtiar juga menekankan pentingnya memanfaatkan aliran sungai di Tabang untuk budidaya ikan nila dan pengembangan sistem bioflok serta irigasi kolam ikan.
“Saya melihat sungai di Tabang ini mengalir tanpa henti, dan sumber airnya melimpah. Warga bisa mulai membuat kolam ikan nila atau sistem bioflok,” katanya.
Untuk mendukung program ini, Bahtiar memerintahkan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Sulbar agar segera berkoordinasi dengan camat Tabang terkait pembagian bibit ikan nila gratis bagi warga.
Menanggapi arahan Bahtiar, Pj Bupati Mamasa Muh. Zain menyatakan bahwa program ini memang layak mendapat perhatian khusus dari Pemda Mamasa dan masyarakat Tabang.
“Beliau (Bahtiar) dinobatkan oleh Majalah Tempo sebagai tokoh penggerak ketahanan pangan. Jika gagasan dan ide ini dilaksanakan oleh bupati dan wabup terpilih, Insya Allah Mamasa akan jauh lebih maju,” katanya.
Sementara itu, Wakil Bupati Mamasa terpilih 2024, H. Sudirman, menilai konsep yang diusung oleh Bahtiar telah mengubah cara berpikir masyarakat Sulbar, khususnya Mamasa.
“Pak Bahtiar adalah pemimpin yang berhasil mengubah mindset masyarakat. Yang dulu hanya mimpi, kini beliau menunjukkan kenyataan tentang apa yang harus dilakukan warga Sulbar,” ujarnya.
(ADV)






