Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Rujab Wali Kota Bontang Bakal Disulap Jadi Kawasan Ikonik Mirip Malioboro, Hotel Mewah Masuk Perencanaan

Anggota Komisi B DPRD Bontang, Nursalam

Katinting.com, Bontang – Rumah Jabatan (Rujab) Wali Kota Bontang di Jalan Awang Long, Kelurahan Bontang Baru, direncanakan akan direvitalisasi secara menyeluruh. Area yang selama ini menjadi tempat tinggal kepala daerah itu akan diubah menjadi kawasan ikonik mirip Malioboro di Yogyakarta, dilengkapi ruang terbuka hijau (RTH) dan hotel berbintang.

Transformasi ini merupakan bagian dari rencana pengembangan wajah kota, sekaligus menghadirkan fasilitas akomodasi mewah yang selama ini dinilai masih minim di Bontang. Keberadaan hotel dengan fasilitas lengkap di pusat kota diyakini akan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal, khususnya dari sektor pariwisata dan jasa.

Anggota Komisi B DPRD Bontang, Nursalam, menyatakan dukungannya terhadap rencana tersebut. Menurutnya, pembangunan hotel berbintang sangat diperlukan agar Bontang mampu menampung tamu-tamu dari luar daerah yang selama ini hanya datang lalu pergi tanpa menginap.

“Selama ini kalau ada acara, banyak tamu dari luar datang dan langsung pulang. Kita tidak mendapatkan dampak ekonomi. Kalau ada hotel representatif di pusat kota, tentu bisa meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD),” ujarnya kepada media ini, Selasa (15/7/2025).

Ia menambahkan, posisi bekas Rujab sangat strategis dan dinilai menarik bagi investor yang ingin membangun hotel. Apalagi, hotel berbintang yang ada saat ini seperti Hotel Sintuk dinilai sudah lama dan kurang memadai.

“Kita butuh hotel yang benar-benar baru dan didesain khusus untuk perhotelan. Bukan seperti Grand Mutiara yang awalnya wisma atlet lalu disulap jadi hotel. Desain dan pengelolaannya tentu jauh berbeda,” jelasnya.

Lebih lanjut, Nursalam juga menilai keputusan wali kota memilih lokasi Rujab sangat tepat. Selain karena posisinya strategis dan dekat dengan pusat pemerintahan, ukuran dan kondisi bangunan saat ini dianggap sudah tidak lagi representatif sebagai rumah jabatan kepala daerah.

Ia juga menyarankan agar pembangunan hotel tidak menggunakan dana APBD, melainkan melibatkan investor atau pihak swasta. Hal ini agar tidak mengganggu prioritas pembiayaan program pembangunan lain.

“Kalau pemerintah yang bangun, pasti berat. Lebih baik melibatkan investor yang memang punya pengalaman di sektor perhotelan. Ini akan jauh lebih efisien dan profesional,” tegasnya.

Rencana ini pun disebut sebagai langkah cerdas dalam mempersiapkan Bontang sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). Dengan adanya hotel representatif dan kawasan terbuka yang ramah publik, daya tarik kota dinilai akan meningkat.

Pemerintah Kota Bontang saat ini tengah menyusun perencanaan awal proyek tersebut. Jika terealisasi, kawasan eks Rujab Wali Kota bukan hanya akan menjadi ikon baru, tetapi juga pusat kegiatan ekonomi dan ruang publik yang membanggakan masyarakat Bontang. (Re)

Share: