Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Riuh Pilkada Pasangkayu 2020

Catatan Arham Bustaman

Pasangkayu, Katinting.com – Pemilu kepala daerah Pasangakayu, Sulawesi Barat yang akan dihelat di bulan akhir tahun ini semakin riuh diperbincangkan.

Apalagi tiga pasangan bakal calon kepala daerah sudah hampir dipastikan siap mendaftar di KPU Pasangakayu untuk maju berbertarung seperti diprediksi sejak jauh hari.

Bahkan salah satu pasangan sudah melakukan pradeklarasi bulan lalu, yakni Yaumil Ambo Djiwa-Herny Agus (Yes Smart). Pasangan ini didukung mayoritas partai yang memiliki kursi di DPRD Pasangkayu.

Di hadapan warga dan para partai pendukung, pasangan ini sudah memaparkan sejumlah program dalam visi dan misi sebagai acuan dan landasan pembangunan pada pemerintahannya nanti.

Munculnya nama Herny Agus sebagai calon wakil bupati, sangat menarik di percaturan politik Pasangkayu. Dan juga memupus harapan sejumlah nama yang santer dikaitkan dengan Yaumil.

Sebut saja, Lukman Said, politisi PDIP dan juga anggota DPRD Pasangkayu empat periode. Kemudian kepala dinas PUPR Pasangkayu, Budiyansa. Ia merupakan birokrat juga kerab dihubungkan dengan Yaumil.

Dan, mimpi keduanya harus kandas setelah Yaumil memilih famili terdekat tak lain iparnya sendiri, Herny. Dia merupakan istri bupati Pasangkayu, Agus Ambo Djiwa. Pilihan ini diambil berdasarkan hasil suvei yang menyebut Herny yang tertinggi dari yang lain.

Karena keputusan ini, isu dinastipun muncul. Dan itu diakui Agus Ambo Djiwa saat menyampaikan sambutan pada acara pradeklarasi. Ia menyadari beberapa persen masyarakat tidak menyukai pasangan YES Smart.

Masalahnya, dianggap sebagai politik dinasti yang rakus akan kekuasaan. Padahal, kata bupati Pasangkayu dua periode ini, tidak demikian.

Berdasarkan bebagai sumber di media, selain di Pasangakayu, ada beberapa istri bupati di daerah lain yang mencalonkan diri pada pilkada serentak tahun ini.

Seperti Lisa Andriani Lubis, istri dari wali kota Binjai (Sumut) Muhammad Idham, kemudian ada istri bupati Banyuwangi (Jatim) Abdullah Azwar Anas, yakni Ipuk Fiestiandani, selanjutnya Yunita Asmara, istri bupati Batanghari (Jambi), Syahirsah, ada pula Eva Dwiana, istri Herman Hasanusi, wali kota Bandar Lampung, dan terakhir Winda Fitrika, ia merupakan istri Taufan Gama Simatupang, Bupati Asahan (Sumut).

Selain itu, ada pula anak presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka maju wali kota Solo dan menantunya Bobby Afif Nasution di pilkada kota Medan.

Dikutif dari tirto.id edisi 17 Agustus 2020, direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini, mengatakan satu alasan yang paling jelas mengapa orang-orang ini dicalonkan adalah karena mereka menguntungkan secara elektoral.

Politik dinasti atau lebih tepat disebut oligarki merupakan cara melanggengkan kekuasaan dengan memberikan ruang begitu besar kepada kaum kerabat.

Meski melalui mekanisme pemilihan langsung, tapi sebagian kalangan menganggap hal ini dapat mengikis demokrasi.

Sedang, dua pasangan lainnya, Abdullah Rasyid-Muhammad Yusri Nur dan Muhamma Saal-Musawir Aziz Isham sejak lama sudah mengukuhkan pasangan masing-masing.

Beda dengan Yaumil-Herny yang didukung mayoritas partai dan Saal-Musawir denga tiga partai, justru pasangan Abdullah Rasyid dan Muhammad Yusri Nur harus tertatih karena tak dapat partai sebagai kendaraan.

Selaku ketua Perindo Pasangkayu, Yusri bahkan mesti merelakan keputusan DPP yang memberikan rekomendasi kepada Yaumil-Herny.

Olehnya itu, keduanya terpaksa menempuh jalur alternatif, yaitu jalur perseorangan (independen). Melalui proses panjang, para pendukung pasangan ini rela mengumpulkan puluhan ribu KTP dukungan sebagai syarat untuk mendaftar.

Setelah melalui verifikasi faktual dan perbaikan, akhirnya KPU Pasangkayu menyatakan pasangan ini berhak lolos. Sebab, syarat dukungan melebihi target dari sepuluh persen dari total wajib pilih yang dipersyaratkan.

Pada pilkada Pasangkayu kali ini, bagi Yaumil Ambo Djiwa, ini yang kedua kalinya ia maju sebagai calon bupati setelah ia ikut pada pilkada pertama tahun 2005 dan absen dua pilkada berikutnya.

Sedangkan, bagi Abdullah Rasyid tidak pernah absen setiap gelaran pilkada Pasangkayu. Ia dan Agus Ambo Djiwa menang di pilkada pertama dan selanjutnya kalah dua kali secara beruntun.

Untuk Muhammad Saal, pilkada tahun ini merupakan ketiga kali keikitsertaannya. Tapi, pada dua pilkada sebelumnya ia sebagai calon wakil bupati berpasangan Agus Ambo Djiwa.

Bersama Amran Nuhung (Alm), Muhammad Yusri Nur, juga pernah mencoba keberuntungan kala ikut meramaikan menjadi calon bupati pada pilkada 2015 lalu. Dan periode ini Yusri maju tak ingin hanya menjadi pelengkap.

Beda dengan keempat nama tersebut, Musawir Aziz Isham dan Herny Agus justru belum pernah ikut pilkada. Menjelang pilkada tahun 2005, didampingi Aksan Yanbu (Alm), nama Musawir digadang ikut serta maju menjadi calon bupati, tapi itu diurung.

Hingga sekarang, belum ada hasil survei dari semua lembaga yang dibuka ke publik secara gamblang, kecuali klaim tertinggi masing-masing bakal kandidat.

KPU Pasangkayu mulai membuka pendaftaran pasangan bakal calon bupati dan wakil bupati mulai tanggal 4 hingga 6 September 2020.

Tapi, pilkada tahun ini beda dengan sebelumnya, karena kampanye akbar ditiadakan. Itu disebabkan Adanya pandemi corona yang melanda secara global.

 

Share:

Redaksi

Media Informasi Rakyat