banner 728x90

Potong 2,5 Persen, Herman Yunus Sebut PT Toscano Culas

banner 728x90

Pasangkayu, Katinting.com – Pabrik pengolah buah sawit PT Toscano diduga mencurangi para suplayer (penimbang/pemasok) dan petani sawit terkait potongan 2,5 persen per sekali timbang.

Itu terungkap saat RDP dengan pihak PT Toscano dan pemasok atas undangan komisi II DPRD Pasangkayu, di ruang aspirasi gedung DPRD Pasangkayu, Sulawesi Barat, 27 Juli 2021.

Menurut salah satu pemasok TBS dari Baras, Randi, masalah ini sudah lama dipraktekkan oleh PT Toscano. Namun, pihaknya tidak bisa berbuat banyak. Akhirnya persoalan ini disampaikan ke DPRD Pasangkayu guna tindak lanjut.

Selain itu, kadang pemasok harus menelan pil pahit karena TBS sebagian dikembalikan alias tidak laku. Alasanya karena tidak lolos grading dan sortiran pihak pabrik.

Dan parahnya lagi, berdasarkan aduan warga yang disampaikan kepada Mahmud Kabo, anggota DPRD Pasangkayu, bahwa pihak perusahaan juga melakukan pemotongan hingga 5 persen jika TBS masuk di luar jam operasional.

Berdasarkan jawaban manajemen PT. Toscano yang diwakili Ahmadi Yusri (KTU) dan Benhy (marketing), bahwa pemotongan 2,5 persen tersebut sudah sesuai dengan kesepakatan antara pihak Toscano dengan pemasok.

“Jika kondisi buah bagus maka tak ada pengembalian sesuai dengan grading, hanya pemotongan 2,5 persen tetap diberlakukan,” terang KTU PT Toscano, Ahmadi Yusri.

Terdapat potongan 2,5 persen dari setiap penimbangan TBS, itu sudah ada kesepakatan dengan pemasok buah (suplayer). Selain 2,5 juga 1,5 persen pemotongan lain-lain.

Secara tekhnikal, dua orang utusan PT Toscano tersebut mengaku tak punya kapasitas menjawab sebagian pertanyaan. Namun, bersedia mencatat untuk disampaikan kemudian kepada pimpinan.

Herman Yunus yang memimpin rapat ini, menilai PT Toscano tak memiliki dasar hukum terkait pemotongan 2,5 persen dari petani, meski pun itu ada kesepakatan kedua belah pihak. Pasalnya, itu bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Meski ada perjanjian, tapi tetap harus sesuai peraturan perundang-undangan. Ini bisa dikategorikan sebagai penggelapan karena memiliki standar ganda,” sebut anggota Komisi II DPRD Pasangkayu ini.

Dasar pemotongan 2,5 persen itu tidak jelas, sebab sudah dilakukan grading. Itu artinya sudah terpotong secara sistematis. Dan, kadang masih banyak sisa buah petani yang dikembalikan.

Ada proses transaksional yang terjadi, bagi Herman, itu merugikan masyarakat. Ia pun meminta PT Toscano agar tidak melakukan praktek sesuka hati. Pasalnya, semua sudah diatur sesuai ketentuan yang berlaku.

“Silakan berbisnis, tapi jangan culas (curang). Karena, pemerintah sudah memberikan ruang untuk berusaha,” tutup Herman.

Arham Bustaman

Bagikan
Satu Respon
  1. Ichal3 bulan ago

    Dinantikan tindak lanjutnya

Tinggalkan pesan "Potong 2,5 Persen, Herman Yunus Sebut PT Toscano Culas"