oleh

Perempuan Penuh Candu

banner 728x90
Ilustrasi, Sumber Gambar : Klikdokter.com-Int

Oleh : Fhatur Anjasmara

(PART 1)

Siang itu, suasana kampus tampak berbeda dari suasana pendaftaran mahasiswa baru semasa sebelum Pandemi Covid-19 menyerang, dimana, setiap musim penerimaan mahasiswa baru (Maba), kampus selalu dipenuhi berjubel calon Maba, yang menyelesaikan administrasi pendaftarannya, dan itu berlansung biasanya, sejak pengambilan formulir hingga penyerahan kembali formulir pendaftaran, baik formulir pendaftaran awal maupun pendaftaran ulang.

Namun, semasa Pandemi Covid-19 dinyatakan sebagai wabah yang sedang berlansung di Indonesia, nyaris semua modul aktivitas kita berubah, dalam rangka penerapan protokol kesehatan, sehingga siang itu, kampus andalan di kota ini, meski sedang musim penerimaan Maba, tak sepadat dan seramai musim penerimaan Maba sebelumnya.

Alun alun kampus hingga koridor kampus yang biasanya diisi berjubel calon intelektual muda, pencari ilmu dengan berbagai jurusan pilihan,kini hanya tampak satu dua orang, lalu lalang, baik yang sedang menuju rektorat maupun yang sudah dari rektorat, tempat penerimaan berkas Maba secara offline.

Karena, lagi lagi alasan Pandemi Covid-19, yang mengharuskan jaga jarak, manajemen kampus mengambil keputusan penerimaan Maba kali ini, ditempuh dengan dua cara, dan tentu sangat memudahkan calon Maba, ini juga dilakukan agar, kampus ini, tetap menjadi pilihan para calon Maba, sebagai tempat menimba ilmu, karenanya, mudah dan simple menjadi prinsip pelayanan penerimaan Maba kali ini.

Untuk calon Maba yang berasal dari wilayah kota, bisa mendaftar Offline bisa Online, tapi untuk calon Maba diluar kota, bisa hanya mendaftar Online, tapi untuk calon Maba dalam wilayah kota, tidak ada keharusan bahwa pilihan Offline dan Online punya proporsi yang berbeda, semua sama. Artinya, kampus memberikan kesempatan sangat mudah, kalau ingin melihat suasana kampus lebih awal dari yang lain, ya silahkan mendaftar Offline, tapi kalau ingin barengan dengan yang diluar kota mengenal kampus, maka Online tak masalah.

Begitulah prinsip yang dianut pelayanan manajemen kampus ini, agar tak saling memberatkan, baik Offline maupun Online, standar pelayanannya tetap sama, Offline karena dibuka siang hari saja, maka pelayanan hanya hingga pukul 16.00 sore, dipotong Ishoma. Kalau Online karena bisa mobile, maka waktunya dipanjangkan setiap hari, yakni hingga pukul 22.00.

Di tengah berbedanya suasana pendaftaran dan penerimaan calon Maba, dikampus itu, membuat suasana kampus sedikit sepi, karena orang yang berlalu lalang, diantara koridor kampus hingga koridor rektorat, hanya satu dua orang, kalau bukan petugas kampus, ya pihak rektorat, meskipun kemudian yang berlalu lalang masih banyakan calon Maba.

Sedikit serta sepinya suasana kampus, tetiba kurang lebih pukul 10.30, sebuah roda empat, dilihat dari logo bamper depan melekat logo Toyota, yakni sebuah mobil Yaris keluaran terbaru, terlihat memasuki pelataran parkiran kampus.

Setelah, pengendaranya, memarkirkan kendaraannya dengan sempurna dari pintu depan, tepatnya posisi kursi sopir, turunlah seorang perempuan, yang memiliki postur tubuh tinggi semampai, kulit sawo matang, dengan kaca mata minus melekat, diwajahnya. Ia berjalan kearah rektorat, tentu saja, Ia adalah salah seorang calo Maba, dengan menenteng sebuah tas, didalamnya terselip map dengan warna hijau.

Disepanjang koridor menuju rektorat, sesekali Ia melempar senyumnya kepada tiap orang yang ditemuinya, namun belum perempuan tersebut tiba di rektorat, seseorang tiba tiba menghentikan langkahnya, saat Ia mendengar namanya dari sumber suara yang memanggilnya.

“Haiii Adelia… “teriak seorang pria dari atas lantai dua salah satu ruangan yang berada disebelah timur dari koridor tempat perempuan tersebut berjalan, kemudian terlihat pria itu berlari kecil menuruni anak tangga, menuju kearah perempuan yang diteriakinya.

Sementara perempuan itu menoleh kekiri, mencari sumber suara yang memanggilnya, dan ketika Ia melihat dari mana sumber suara yang memanggil dan menyebut namanya, perempuan tersebut juga sumringah, lalu, menuju kearah pria tersebut, sembari balik membalas panggilan orang menyebut namanya.

“Haiii Rico, kamu ngampus disini juga ya..” teriak kecil perempuan itu, begitu sudah berada dihadapan pria yang memanggil dan mendatanginya.

“Ia aku disini juga Del..” sambut pria itu, sembari menormalkan tarikan nafasnya selepas berlari kecil menuruni beberapa anak tangga.

“Oh… bisa satu kampus kalau gitu sama Bang Rico, Aku rencana daftar sini juga, nih udah mau balikin formulir” jelas Adelia kepada Rico.

“Malah Aku udah mau masuk semester tiga nih, tapi koq, kirain mau kuliah diluar negeri, kemarin kan bilangnya, kalau bokap luh, mau kuliahin Adel di luar negeri, dinegeri Kangguru sana, Australia, tapi malah pilih kampus lokal lagi ?” sambung Rico.

Mendengar pertanyaan dari Rico, Adelia terdiam sesaat, memalingkan pandangnya kesalah satu sudut halaman kampus, meski tersirat, tertangkap kerut berpikir, dari kening perempuan berdarah Jawa dan Pakistan itu, kemudian kepada Rico, Ia berujar dengan suara yang sedikit melandai dari sebelumnya yang terdengar girang.

“Iya awalnya, papa rencanakan, agar Saya kuliah di luar negeri, tepatnya di Universitas Melbourne, Australia, tapi tiba tiba banyak yang terjadi dikeluarga Saya dalam setahun ini, makanya, Saya juga terlambat satu tingkat dari Bang Rico, tapi ah sudah ah, aku mau ke sekertariat pendaftaran di rektorat, antar ini, nanti kita lanjutkan ya Bang” pinta Adelia, yang kemudian segera diiyakan oleh Rico.

“Baiklah Del, sampai ketemu ya, kalau butuh bantuan atau terkendala di kampus ini, segera hubungi Abang ya, gimana pun Abang senior kamu, meski kita nanti beda jurusan” jelas Rico, sembari mengangukan kepala, membiarkan Adelia beranjak dari depannya, namun didalam batinnya, berbisik… “Del, Saya masih sayang kamu, seperti dulu, masih merindukan pelukmu, mengecup keningmu ditiap kesempatan” batin Rico, selepas Adelia berlalu.

Bersambung ……

(Baru mulai nih, Bapernya disimpan dulu, masih panjang, baru Part 1 loh)

Bagikan
banner 728x90

Komentar