oleh

Perempuan Penuh Candu

banner 728x90
Ilustrasi, Sumber Gambar ; id.depositphotos.com

Oleh : Fhatur Anjasmara

(PART 2)

Sabtu ceria jelang akhir pekan, di keluarga Mustaman Al Gifari, seperti biasa, keluarga ini mengisi libur akhir pekan, dengan  memanfaatkan waktu mereka untuk berkumpul bersama keluarga. Mustaman Al Gifari adalah salah seorang pengusaha ternama di Peropinsi Sulawesi Barat, beberapa investasi manufaktur di Sulbar, peropinsi ke – 33 di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), ditangani oleh perusahaan yang dipimpinnya, belum kemudian beberapa investasi perkebunan disejumlah kabupaten di Sulbar, sehingga menjadikan keluarga ini diketahui cukup mempuni soal keuangan.

 

Dari laporan salah satu akuntan publik nasional, diketahui jika pada tahun 2019 lalu, pendapatan perusahaan yang dipimpin dan dimiliki oleh Mustaman Al Gifari, memiliki laba bersih Rp.429 Miliar, ditambah kemudian perusahaan yang dipimpin oleh Isterinya, Nyonya Nurdaliah Mustaman tercatat dengan laba bersih Rp.243 Miliar, dari bisnis di pasar uang.

 

Penghasilan sedemikian besar itu, membuat keluarga ini, nyaris tak tertandingi nilai besaran kekayaan yang dimilikinya, keluarga Mustaman menempati sebuah rumah besar disalah satu bilangan jalan ternama di Sulbar. Rumah besar itu, dihuni oleh lima orang keluarga inti, Mustaman Al Gifari dan Isterinya, Nyonya Nurdaliah Mustaman, ditambah tiga anak mereka, dua orang perempuan, dan satu pria. Anak pertama dari keluarga Mustaman Al Gifari juga sudah bekerja di perusahan ayahnya, menjadi salah satu direksi dari bidang yang ada diperusahaan tersebut, anak kedua mereka seorang pria, bernama Rico Pratama Mustaman, masih kuliah disalah satu kampus di Sulbar, sementara anak bungsu pasangan ini, seorang perempuan sementara menyelesaikan pendidikan disalah satu SMU di Makassar, Sulsel.

 

Bisa dikatakan untuk pendidikan keluarga Mustaman, menjadi perhatian utama, sehingga meski sibuk, Mustaman selalu menyempatkan disela sela kumpul keluarga, mengecek anak anak mereka yang masih kuliah dan sekolah, pun yang memegang sebuah direksi diperusahaan, seperti yang dilakukannya pagi hari ini.

 

“Bagaimana bidang yang Rismawati pimpin, apa semua kelar dalam sepekan ini, atas tanggungjawab yang perusahaan berikan ??” pertanyaan ini ditujukan kepada anak pertamanya, yang diberikan kepercayaan memimpin satu bidang di perusahaan milik keluarga dimana Risma memimpin Bidang Perencanaan Investasi dan Jejaring Usaha.

 

Dengan pelan, Rismawati, yang dikalangan keluarga, meski anak pertama, tapi bertabiat seperti anak bungsu, Ia menjawab pertanyaan Ayahnya.

“Sip Ayah, semua lancar, beberapa perencanaan investasi sudah gol, dan pertambahan jejaring usaha dibeberapa daerah, pokoknya tak mengecewakan Ayahlah” jawabnya kepada Ayahnya sembari menjelaskan panjang lebar.

 

“Baiklah kalau demikian, Senin depan, dalam rapat awal pekan, Saya minta kamu dan tim kamu, menjelaskan detil keberhasilan apa saja, seperti yang kamu sudah klaim, Ayah ingin, meski kamu anak Ayah, kamu harus tetap bekerja di perusahaan itu, secara professional, seperti karyawan lain yang ada diperusahan itu” tegas Mustaman kepada anaknya.

 

“Iya Yah… Risma, pastikan, akan menjelaskan Senin nanti, dan tak mengecewakan Ayah” balasnya, sembari menggoda Ayahnya dengan kedipan mata, membuatnya makin Nampak terlihat manis.

 

Setelah Mustaman, mendapatkan apa yang diinginkan dari anak pertamanya, Ia lalu beralih ke anak keduanya, seorang pria, yang masih muda, kebetulan sedang asik menikmati sarapan paginya.

 

“Kamu, Rico, Ayah mau tahu, apa kabar kuliah kamu, Ayah tidak mau, kamu tidak serius kuliah, Ayah dengar kamu lebih banyak menghabiskan waktu, untuk kegiatan ekstrakulikulermu di kampus, apa itu tidak mengganggu waktumu untuk belajar ??..” sembari melekatkan tatapannya pada anak satu satunya pria dikeluarganya itu, dimana orang tua mereka memutuskan agar Rico kembali ke Sulbar setelah menamatkan SMA di Makassar, orang tua mereka ingin melihat perkembangan anak satu satunya, pria dikeluarga Mustaman, secara lansung menjalani pendidikannya semasa kuliah, dan bagi orang tua Rico, kampus di Sulbar juga sudah dapat bersaing dengan kampus ternama di Indonesia.

 

“Tidaklah Yah, Rico janji, semua berjalan berimbang, bahkan belajar Rico utamakan, meski belajarnya diluar kampus Yah, mana mungkin Rico mau kecewakan Ayah sih.. hehehehe” balas Rico, atas pertanyaan Ayahnya.

 

“Tapi kalau nanti mengecewakan, tentu Ayah akan murka, sebab Ayah tidak mau kalian kuliah tapi tidak serius, sehingga nanti hasilnya juga mengecewakan, maka Ayah pegang janji kamu” tegas Mustaman pada Rico. Selepas dari putranya, Mustaman kemudian mengalihkan pandangannya ke anak bungsunya, Sarita, yang sedang memelototkan matanya kelayar kaca televisi yang ada di ruang makan.

 

“Kalau anak Ayah yang bungsu ini, gimana sekolahnya, apa sering bolos atau tidak ?” tanya Mustaman ke Sarita, mendengar kalau pertanyaan itu untuknya, Sarita melepas pandangannya dari layar kaca, dan segera menghadap ke Ayahnya, yang sedang menikmati sarapan pagi, tapi menantikan jawaban dari anak bungsunya.

 

“Ita sekolahnya baik baik Ayah, malah uang jajannya tidak baik, dikurangin sama mama Yah” balas Sarita, menjawab pertanyaan Ayahnya, tapi justru menyalahkan Ibunya, sembari sumringah.

 

Mendengar jawaban Sarita, perempuan separuh bayah, Nyonya Nurdaliah Mustaman, kaget, dan belum sempat Mustaman merespon apa jawaban Sarita, Isterinya lansung menimpali.

 

“Bukan dikurangin Yah, Itanya yang boros, kan sekarang sekolah daring lebih banyak, jadi tentu tak perlu Mama ngasih tiap hari ke Ita, kan bisa kedapur saja cari makan, kalau lagi istirahat belajar daring, tapi Sarita, pengennya, setiap hari dapat uang jajan, gitu Yah masalahnya” adu Nyonya Mustaman ke Suaminya, sebagai pembelaan dari serangan tiba tiba Sarita.

 

“Hehehe.. jadi maksud kamu, Mamamu selalu ngasih uang jajan, meski belajar daringnya dirumah ya, kenapa tidak sekalian, suruh Simbok (pembantu dirumah keluarga ini) untuk buka warung makan disebelah, buat tempat kamu jajan” timpal Mustaman ke Sarita, setelah mendengar pembelaan istrinya.

 

Mendengar respon ayah mereka, semua tiba tiba riuh, membayangkan kalau benar benar simbok buka warung makan disebelah rumah mereka, hanya untuk tempat jajan anak bungsu dikeluarga ini. Tapi tidak demikian Sarita, Ia malah menampakkan wajah kesal, karena diledek saudaranya, setelah mendengar Ayah mereka.

 

Tapi, meski Sarita cemberut, seusai keriuhan pagi itu, karena ulah sibungsu yang protes uang jajannya berkurang akibat belajar daring, keakraban dikeluarga ini tak berkurang, setelah mereka sarapan, mereka meninggalkan tempatnya masing masing di sekeliling meja makan, mereka kembali ke kamarnya dengan kesibukan sendiri sendiri.

 

Bersambung…..

(Pasti nunggu kan, kenapa Adelia gak ada ?, sabar, nanti di Part 3)

Bagikan
banner 728x90

Komentar