Mamuju, Katinting.com – Provinsi Sulawesi Barat mencatatkan penurunan angka stunting sebesar 4,7 poin pada tahun 2023, sebuah pencapaian yang dianggap signifikan dalam upaya percepatan penanganan masalah gizi buruk pada anak di Indonesia.
Penyuluh KB Ahli Utama BKKBN RI, drg Widwiono, memberikan apresiasi khusus kepada Pj. Gubernur Sulawesi Barat, Prof. Zudan Arif Fakrulloh, atas peran serta dan dedikasi yang tinggi dalam mengatasi masalah stunting di wilayahnya.
Apresiasi ini disampaikan dalam sambutan yang dibawakan oleh drg Widwiono atas nama Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo, pada pembukaan Rapat Kerja Daerah Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) serta Penurunan Stunting Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2024.
Acara tersebut berlangsung di Mamuju dari tanggal 26 hingga 28 April 2024, dengan tema Optimalisasi Bonus Demografi dan Peningkatan SDM Menuju Indonesia Emas 2045.
“Kami ucapkan terima kasih kepada Pj. Gubernur dan seluruh stakeholder karena di tahun 2023, Sulbar telah berhasil menurunkan angka stunting sebesar 4,7 poin. Ini merupakan prestasi yang membanggakan dalam rangka percepatan penyelesaian stunting di Sulbar,” kata drg Widwiono, Sabtu, 27 April 2024 malam.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa meskipun angka prevalensi stunting masih tinggi secara nasional, pencapaian di Sulbar merupakan langkah maju yang cukup signifikan.
Program Seleksi Dampingi dan Aksi (Sidak) yang telah dilaksanakan dianggap berperan aktif dalam mencapai target penurunan tersebut.
Namun, Widwiono juga menekankan bahwa masih ada tantangan yang harus diatasi, khususnya terkait Tingkat Fertilitas Total (TFR) dan prevalensi stunting yang masih berada dalam zona merah.
Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya lima kepastian dalam penanganan stunting, yaitu memastikan sasaran teridentifikasi, terdata, menerima program, terintervensi sesuai ketentuan, dan tercapai hasil yang diharapkan.
Penurunan stunting di Sulawesi Barat tidak hanya berdampak positif pada kesehatan dan kualitas hidup anak-anak di provinsi tersebut, tetapi juga menjadi model dan inspirasi bagi provinsi lain di Indonesia untuk meningkatkan upaya penanganan masalah stunting secara nasional. (adve)






