
Oleh : Anton Ranteallo, SS, M.Pd – Penyuluh Agama Kemenag Mamuju
DEWASA ini banyak fenomena yang dihadapi guru dalam mendidik siswa. Fenomena tersebut misalnya siswa menjadi bosan mendengarkan cerita, pelajaran dari guru. Di masa pandemi ini siswa terkadang hanya diberi tugas tanpa penjelasan yang memadai setelah itu dikirim via WhastAPP atau dikumpul, anak menjadi tidak senang sehingga tidak semangat belajar, guru pun tidak kreatif.
Melihat fenomena tersebut, maka diperlukan diskresi dengan memikirkan secara tepatapa yang dibutuhkan siswa zaman ini, kita tidak hanya meneruskan apa yang dulu dan mengulangi yang ada, tetapi harus lebih dari itu sebab zaman berbeda. Lain dulu lain sekarang, lain lubuk lain ikannya.
Untuk itu hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam mengajar anak-anak dewasa iniyakni proses Pendidikan, situasi anak zaman z-alpha, dan situasi pandemic covid-19 saat ini. Guru tentu tahu bahwa proses pendidikan melibatkan banyak faktor yaitusiswa, guru, masyarakat, dan Tuhan itu sendiri yang berhubungan satu sama lain.
Siswa sebagai subyek terdidik harus aktif dalam menjalinrelasi dengan guru, masyarakat dan terlebih Tuhan sebagai sumber ketenangan jiwa karena di sanalah kita menemukan ajaran yang baik dan benar. Agar dimensi ini terlaksana, maka guru harus membantu dalam proses tersebut. Namun, prasyaratnyaadalah guru harus beriman terlebih dulu dan menjadi contohdalam hidup nyat, guru harus mengenal “dombanya”. Guru harus mampu membangun dialog dengan siswadan orantua siswa serta masyarakat dengan baik. Inilah dimensi diskretif dalam Pendidikan yakni terbangunnya relasi internal, eksternal, dan horizontal yang seimbang.
Guru tentu tahu bahwa prinsip siswa dalam belajar adalah joyful learning agar materi yang disampaikan mudah dipahami dan siswa dapat mengeskplore bakat dan kemampuannya secara maksimal. Pembelajaran yang diberikan harus menyenangkandan kontekstual sebagaimana generasi mereka: Z-Alpha.
Gererasi z dan Alpha adalahgenerasi multifacet. Dalam hal ini mereka mampu melakukan banyak kegiatan dalam suatu waktu (multi facet, multitasking), memang mereka kurang fokus namun lebih serba bisa, lebih individual, tapi berpikir lebih terbuka. Smartphone dan media sosial tidak lagi dilihat sebagia perangkat tetapi lebih sebagai cara hidup. Maka itu mereka mudah kacau bila dijauhkan dari perangkat smartphone. Mereka cepat bosan akan cara yang konvensional, yang tidak menarik, termasuk dalam pelajaran, sebagai akibat dari budaya pindah-pindah dalam main gadget.
Komunikasi generasi Z-Alpha sangat luas dengan banyak kalangan khususnya lewat jejaring sosial seperti FB, Twitter, WA, Ig, dsb. Mereka cenderung toleran dengan perbedaan kultur. Melalui media sosial, mereka lebih bebas berkreasi dengan apa yang dirasakan dan dipikirkan secara spontan. Mereka menerima berbagai informasi baik yang benar maupunyang tidakbenar. Mereka cenderung kurang berkomunikasi secara tatap muka dan verbal. “Dekat dengan yang jauh dan jauh dengan yang dekat”.
Tak hanya itu, generasi Z-A ini ingin diakui, dihargai, diterima, dilike sehingga cenderungingin mendapatkan pengakuan dalam bentuk reward senang bila dilike dan subcribe. Selain itu, generasi ini cinta akan kebebasan. Dalam berpendapat, berkreasi, berekspresi. Mereka tidak suka diperintah tanpa ada penjelasan yang logis. Memiliki kepercayaan diri yang tinggi, memiliki sikap optimis dalam banyak hal. Lebih mandiri daripada generasi sebelumnya. Tidak perlu menunggu orangtua untuk mangambil atau membuat keputusan. Menyukai hal detail, cenderung kritis dalam berpikir. Ini dipengaruhi oleh mudahnya mencari informasi.
Selanjutnya, generasi ini dominan memakai bahasa tulis, komunikasi tidak langsung. Mudah komentar yang menyakitkan atau kasar pada orang lain, karena tidak melihat wajah orang, mudah menaggapi tanpa pikir panjang bahwa tanggapannya dapat menyakitkaorang lain akibatnya kurang menghargai pribadi lain.
Generasi zaman now ini memiliki ambisi besar untuk sukses, karena semakinbanyaknya role model yang diidolakan. Ambisi ini didukung oleh kondisi dunia yang lebih baik dan kondisi orantua yang jauh lebih mapan. Ambisi sukses itu dapat memacu mereka untuk meraih cita-cita tinggi dan sebaliknya ambisi yang tidak realistik dan gagal bisa membuat mereka stress.
Memang dengan situasi pandemi Covid 19 membuat pembelajaran dari “face to face ke face to screen” dengan pembelajaran daring. Akibatnya anak menjadi bosan /jenuh karena tidak bersosialitas. Pembelajaran menjadi tidak ideal ditambahjaringn internet tidak stabil, pulsa habis membuat anak semakin lesu belajar.
Guru pun menghadapi banyak hambatan. Sebut sajaguru tidaktahu persis apa yang dibuat siswa di rumah dan siswa di rumah kesulitan menjawab tugas, guru kesulitan membantu secara tetap, guru mulai bosan kerena tidak bertemu siswa. Guru mengeluh, wecan’tteach from the grave. Semua pihak berharap back to school.
Kini guru ditantang mengajar sesuai kebutuhan dan situasi anak jaman now. Untuk ituguru perlu menjadi contoh yang baik dalam beriman, membangun rasa cinta. Gurujuga harus belajar terus mengikuti perkembangan zaman agar wawasan berkembang tidak gagab teknologi (Gabtek).
Bagaiaman langkah guru kedepan?Guru harus mampu membangun relasi yang hangat dengan penuh cinta, mampu mengoperasikan alat gadget dan computer, dapat mengajar dengan metode apa pun.Singakt kata, guru zaman now harus all round. Selamat menjadi guru bagi anak bangsa ini.Semoga.
(**)






