Ilustrasi sepasang kekasih dibawah purnama. (Dok Int)
banner 728x90

Oleh : Fhatur Anjasmara

 

Melewati tanjakan panjang dan curam, yang mampu memacu adrenalin rombongan, akhirnya rombongan tiba menjelang Mahgrib di atas puncak Marano, masih ada kesempatan menikmati ciptaan yang Maha Kuasa, sore menjelang petang, sehingga kami pun berenam tak menyia nyiakan momen sore menjelang petang, untuk berfose dengan latar kaki langit bagian barat tanpa jingga.

Tertangkap oleh Saya, sumringah pertanda bahagia tampak di wajah Aline, saat mencari titik terbaik untuk berfose di depan kamera ponselnya, dengan spot latar sore menjemput petang….

“Kak Irvan… sini bantuin Aline foto, pengen sekali Aline punya foto background kaki langit dari atas puncak.. sekalian foto sama Aline ya kak…?” pintanya merajuk, saat menemukan titik yang baik untuk berfose.

Saya pun lansung menghampirinya, yang tadinya rencana mau mendirikan tenda lebih awal, Saya batalkan, lalu menemu Aline yang siap di foto dengan fose terbaiknya sore ini.

Ceklek …. Ceklek…. Ceklek…

Beberapa gambar dirinya sudah terpajang di dalam penyimpanan ponsel Aline, setelah memeriksanya, Ia pun sangat senang, dan tetiba melompat ke arah Saya yang tak siap, lansung memeluk kemudian mengecup pipi Saya…

Brukkkkkk……..

Serasa seperti tertimpa hujan salju, dingin dan sejuk, menjalari seluruh saraf tubuhku, usai mendapatkan kecupan dari Aline… belum sempat Saya bertanya, ini ada apa, tiba tiba Aline menarikku, untuk berfose bersama, tentu sikapku yang kebingungan justru membiarkanku mengikuti semua keinginan Aline di sore itu, kami pun berfose swafoto bersama, Aline merapatkan pipi kanannya ke pipi kiri Saya, sembari melempar senyum, lalu ceklek ceklek ceklek.

Alhasil beberapa kutipan hasil swafoto kami tersimpan rapi di ponselnya seketika, dan usai berfoto foto, kami pun segera bergabung rombongan membantu satu dengan lainnya mendirikan tenda, ternyata kami berenam membawa tiga tenda yang bisa di isi tiga orang, olehnya ketiga tenda itu kami dirikan semua, satu untuk Saya dan Aline, satu untuk Hasyim dan Rere kemudian satu lagi untuk Maskur dan Linda, jadilah kami pasangan berbeda tenda bersama pasangan masing masing.

Saya tentu yang belum menganggap Aline sebagai pasangan khusus, membuat agak canggung, namun Hasyim dan Rere menyampaikan, bahwa meski kalian baru saling mengenal, tapi keakraban kalian tak bisa berbohong, kalian seperti kekasih lama yang baru di pertemukan, membuat Saya dan Aline tersipu malu.

Usai tenda di rapikan, kami segera bersama sama menyiapkan rencana santap malam, beberapa bahan mentah yang mudah di olah, segera kami keluarkan, untuk kami olah bersama, dan Aline pun juga membawa empat potong ayam goreng tanpa bumbu, sehingga malam ini, tugas Rere dan Linda hanya menyiapkan bumbu buat santap ayam goreng yang di bawa oleh Aline.

Di bawah cahaya unggun api, yang kami letakkan di tengah di kelilingi oleh tenda kami, kami gunakan sebagai penerang, untuk mengolah dan menyiapkan santap malam, sembari Aline, Rere dan Linda menyiapkan santap malam, Saya memilih menepi di dalam tenda, melepas penat tubuh akibat guncangan perjalanan dari bawah.

Saat santap malam sudah siap, Aline masuk tenda membangunkan Saya….

“Kak Irvan.. bangun yuk, santap malam sudah siap… yuk makan malam dulu, nanti kelar makan malam baru istirahat” cecar Aline yang membangunkan Saya dengan menggoyang goyang tubuh Saya.

Saya pun membelalakan mata, tampak wajah Aline samar samar tersapu tamparan cahaya dari unggun api di luar tenda, Ia merunduk tepat di atas wajah Saya, dan mengamit samping Saya, agar segera bangun. Namun, entah mengapa bukannya Saya terbangun dan bangkit dari pembaringan, Saya malah menaikkan tangan, untuk menggapai wajah Aline, dan Aline pun hanya terdiam….

Angin dari mana tanpa perlawanan Aline, Saya pun menarik wajahnya dan tepat beberapa senti, wajah kami sudah nyaris bersentuhan, Saya merasakan nafas dari Aline mulai tak teratur mungkin karena suhu puncak Marano mulai terasa, perlahan lahan, bibir Saya menyentuh kelopak bibir Aline…

Seperti siap menunggu pagutan Saya, Aline pun juga membuka kedua bibirnya yang basah, sehingga Saya pun lansung menggamit kedua kelopak bibirnya, menyerangnya dengan ciuman yang dalam, hingga tubuh Aline rubuh tepat di atas Saya.

“uhhhhh ahhhhh…..” suara dari Aline semakin memberiku ransangan untuk meneruskan memagut bibirnya, perlawanan dari Aline juga mulai terasa.

Aline mulai memainkan lidahnya dalam rongga mulut Saya, dan Saya pun juga menyambutnya dan tak memberikan kesempatan untuk lepas, namun lagi lagi Aline justru memberikan ransangan kecil.

“Kakkkkk….. teruskan, jangan berhenti, Aline suka cara kakak…” ujarnya di tengah jeda kami sepersekian detik. Bahkan Aline lebih berani mengaktualisasikan birahinya… Ia menarik tangan Saya ke arah dadanya… entah mengapa tangan Saya pun mengikuti keinginannya, sehingga tangan Saya sudah tepat di atas buah dadanya, dan perlahan lahan Saya mulai meremas buah dadanya.

Saya hanya menangkap desahan memburu dari bibir Aline, desis suara bak suara ular mendesis, memberi isyarat kalau Aline sedang menuju puncak birahinya meski tetap berusaha mengendalikannya, hingga kemudian, kami di kejutkan oleh teriakan Maskur dari luar tenda, meminta kami bergabung untuk santap malam.   BERSAMBUNG COYYYY…. !!!

(Hemhemhem… tunggu episodenya lagi ya ?. Tapi jangan membayangkan yang aneh aneh.. nanti malam minggunya jadi malam penuh birahi…)

Bagikan

Comment