
Mamuju, Katinting.com – Korps PMII Putri (Kopri), PKC PMII Sulbar melaksanakan Sekolah Kader Kopri (SKK) 1, dimana pada saat pembukaan dirangkaikan dengan Dialog Publik yang mengusung tema, “Perempuan Sulbar Menjawab Tantangan Revolusi Industri 4.0”.
Hadir sebagai pembicara pada kesempatan tersebut, Ali Maryati Solihah, Wahidah Suaib, dan Nia Husniati.
Pembukaan yang berlangsung sore hari, Jumat (6/9), di aula Kanwil Kemenag Provinsi Sulbar dihadiri sejumlah besar alumni PMII yang beradi di Mamuju diantaranya, Yahya Hanafi, Dinar Faisal, Sukri Umar, Isra D Pramulya, Elmansyah, Masram, Rusding, Mustikawati, Munawir Arafat, Ahmad Amran Nur, Eva Wulandari, Busran Riandhy. Selain itu, juga hadir sebagai undangan dari sejumlah OKP dan BEM di Mamuju.
Dalam sambutannya, Ketua Korpri PKC PMII Sulbar, Sadriana mengatakan, SKK adalah jenjang pelatihan di Kopri setelah Sekolah Islam Gender (SIG). Dimana pada SKK yang pertama kali dilaksanakan di Mamuju tersebut juga hadir dari cabang PMII Gowa, Sulsel.
“Harapannya setelah menyerap ilmu, adalah implementasinya. Sehingga jadilah pelopor dicabang masing-masing,” kata Sadriana.
Sambung Sadriana Hasil SKK ini kemudian dilanjutkan dengan SKK tingkat nasional di Makassar, yang waktunya belum ditentukan pasti.
Yahya Hanafi, yang juga Sekertaris Ikatan Alumni (IKA) PMII Mamuju, mewakili Ketua Majelis Pembina Daerah (Mabinda) PMII Sulbar, Dr. H. Suhardi Duka, MM, mengatakan, SKK ini sangat penting menjawab kemajuan zaman. Karena kalau kita gagap menghadapi maka kita akan tertinggal.
“Kopri PKC PMII Sulbar saudah sangat tepat melaksanakan kegiatan ini, jangan sampai kita menjadi asing dengan Revolusi Industri 4.0, saat ini menjadi sesuatu yang sangat penting memahami perkembangan zaman sehingga kita bisa memposisikan diri dan mengambil peran yang strategis. Kami dari Mabinda sangat bergembira dengan adanya kegiatan ini,” kata Yahya Hanafi.
Dr. H. Muh. Muflih B Fattah, Kepala Kanwil Kementerian Agama RI dalam sambutannya, mengatakan, kita belum terlambat menjemput percepatan perkembangan teknologi, saya mengapresiasi kegiatan ini. Di era sekarang ini Kemenag selalu mengingatkan terkait moderasi dalam beragama, sehingga tidak terhasut atau ikut paham-paham radikal yang dabat memecah belah persatuan dan kesatuan. “Kami berharap Kader PMII menjadi perekat mempertahankan NKRI. Penting menjaga terhadap paham yang hanya kontekstual, atau paham liberal. PMII harus mempu bersinergi menjaga empat pilar kebangsaan (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan Undang-undang)”.
Ditempat yang sama, Ketua Kopri PB PMII, Septi Rahmawati, mengatakan, pelatihan ini bagian dari peningkatan kualitas kader PMII. Perkembangan teknologi yang semakin maju, Kopri harus maju. Perkembangan Revolusi Industri dari tahap satu sampai empat sekarang ini, jangan sampai masih kader jauh tertinggal kebawah. Di era Revolusi Industri 4.0, tidak adalagi perbedaan, Sulbar harus sudah sama dengan cabang-cabang lainnya, karena Revolusi Industri tidak membatasi lagi, ada disebut PMII Indonesia Timur, Tengah atau Barat. Semua sudah semakin mudah dengan perkembangan teknologi.
Sambung kata Septi Rahmawati, sudah sepatutnya kader-kader PMII yang usianya rata-rata dibawah 30 tahun harus mengeksploitasi diri. Semoga kedepan Kader Kopri menjadi kader militan, menjadi intelektual muda NU (Nahdlatul Ulama).
“Semoga pelatihan ini tidak hanya menjadi jenjang dari Mapaba, PKD, PKL, SIG (Sekolah Islam Gender) dan SKK tapi bagaimana Kontribusi sahabat-sahabat sebagai kader NU untuk bangsa dan Negara,” tutup Septi Rahmawati yang kemudian membuka acara.

(Anhar)






