
Katinting.com, Sangatta – Dalam menghadapi era digital yang kian masif, Dinas Pariwisata Kutai Timur (Kutim) mengambil langkah strategis lewat pelatihan konten kreatif digital bertajuk “Membangun Branding Destinasi Melalui Konten Kreatif Digital”. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, dari 26 hingga 28 November 2025, di Hotel Royal Victoria Sangatta, dan menyasar seluruh lapisan masyarakat untuk menjadi bagian dari promosi pariwisata daerah.
Kepala Dinas Pariwisata Kutim, Nasrullah, memimpin langsung agenda ini dan menegaskan bahwa pelatihan ini lebih dari sekadar transfer ilmu teknis. Ia menyebut program ini sebagai gerakan pemberdayaan digital untuk membangun narasi Kutim melalui suara-suara lokal.
“Era digital memberi kita peluang besar. Siapa pun bisa jadi juru bicara daerahnya sendiri melalui konten. Inilah kekuatan yang ingin kita bangun di Kutim,” kata Nasrullah, Rabu (26/11/2025).
Menurutnya, pendekatan ini bukan hanya efisien, tetapi juga efektif karena konten yang lahir dari masyarakat memiliki daya tarik otentik. Dengan menggandeng peserta dari kalangan ibu rumah tangga, pelaku UMKM, hingga tokoh komunitas, Nasrullah berharap promosi wisata tidak lagi bergantung hanya pada pemerintah.
Pelatihan ini mendapat dukungan dari akademisi sekaligus narasumber utama, Febby Veronica Ola Deo, yang melihat besarnya potensi pelatihan ini membentuk gerakan komunitas kreatif lintas kecamatan.
“Outputnya luar biasa banyak. Selain menghadirkan konten kreator dari berbagai wilayah, pelatihan ini membangun koneksi antar peserta yang ke depan bisa membentuk komunitas kreator daerah,” jelas Febby.
Ia menyebut, pelatihan ini bukan sekadar latihan membuat video, tetapi memantik lahirnya karya nyata. Banyak potensi wisata, budaya, dan kuliner di Kutim yang belum tergarap maksimal, dan pelatihan ini menjembatani warga untuk mulai menampilkan potensi itu ke dunia luar.
Febby menekankan bahwa kendala utama bukan pada peralatan. “Semua orang hari ini punya gadget dan kamera. Tapi yang sering jadi kendala adalah mindset: malas, nggak konsisten, atau belum tahu tools. Dan di sini kita bekali itu dari dasar,” terangnya.
Yang mengejutkan, mayoritas peserta justru berasal dari kalangan ibu rumah tangga. Bagi Febby, ini adalah peluang besar yang perlu terus didorong.
“Saya ingin ibu-ibu juga bisa jadi konten kreator dari rumah. Masak bisa jadi konten, tanam sayur pun bisa dikemas menarik. Ini bukan hanya promosi, tapi pemberdayaan,” ujar Febby penuh semangat.
Semangat ini senada dengan yang disampaikan Kadispar Kutim. Nasrullah menyebut bahwa konten dari rumah, dari desa, dari dapur, justru memiliki nilai yang tidak bisa direkayasa: kejujuran dan kedekatan emosional dengan penonton.
“Pelatihan ini bukan berhenti di ruang kelas. Ini langkah awal membentuk gerakan digital dari desa, dari halaman rumah, demi Kutai Timur yang lebih dikenal luas,” tegas Nasrullah.
Dinas Pariwisata berencana menjadikan konten-konten hasil pelatihan ini sebagai bagian dari strategi promosi resmi Kutai Timur. Dengan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan warga, program ini membuka jalan bagi promosi pariwisata berbasis komunitas dan teknologi yang berkelanjutan.
Di tangan para kreator lokal, Kutai Timur bukan hanya dikenal lewat brosur wisata, tapi melalui cerita nyata dan visual dari warganya sendiri—menjadikan promosi wisata lebih manusiawi, dekat, dan berdampak luas. (ADV).






