“Ini langkah kecil, tapi penting untuk menghidupkan ingatan kolektif kita, akan kepahlawanan Maraqdia (Raja) Tokape Arajang Balanipa ” Gubernur Sulbar, Suhardi Duka.
Pacitan, Katinting.com – Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar) Suhardi Duka menyambangi makam KH. Ahmad Yahya, seorang tokoh perlawanan Mandar yang juga Maraqdia (Raja) Tokape Arajang Balanipa ke-46, di Pacitan, Jawa Timur, Kamis (03/07). Kunjungan ini bukan sekadar ritual penghormatan, melainkan upaya menyambung sanad perjuangan melawan kolonialisme.
“Saya sengaja datang ke makam pejuang yang wafat pada 1872 ini,” kata Duka.
Di antara derap kesibukan politiknya, ia menyisir waktu untuk mengenang keteguhan Tokape, gelar sebelum sang pejuang diasingkan Belanda dan berganti nama menjadi KH. Ahmad Yahya.
“Beliau ditangkap setelah terkepung di Istana Lekopa’dis, lalu dibuang ke sini (Pacitan) hingga akhir hayat,” papar Duka.
Sebagian literatur menyebut Tokape sengaja menyerahkan diri demi menyelamatkan pasukannya.
Tokape, simbol perlawanan Mandar abad ke-19, memimpin Kerajaan Balanipa pada 1871-1873. Ia dikenal keras menentang Belanda, hingga akhirnya ditahan di Makassar (1893), diadili di Batavia, lalu dibuang ke Pacitan. Kematiannya di tanah rantau mengubur jasanya dalam sunyi, sebuah ironi sejarah bagi pahlawan yang menolak kompromi dengan penjajah.
Duka menekankan, ziarah ini adalah pengingat, warisan kepahlawanan tak boleh lapuk dimakan zaman.
“Ini langkah kecil, tapi penting untuk menghidupkan ingatan kolektif kita, akan kepahlawanan Maraqdia (Raja) Tokape Arajang Balanipa ” tegasnya.
Di balik napak tilas ini, terselip pertanyaan kritis, seberapa besar negara hadir memulangkan martabat pejuang yang terkubur jauh dari tanah kelahiran. (Adve/Fhatur)






