Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Gubernur Sulbar Kunjungi Makam Maraqdia to Kape di Pacitan, Jatim

Gubernus Sulbar, Ali Baal Masdar bersama rombogan kunjungi makam Maraqdia to Kape di Pacitan, Jatim. (Dok. Istimewa)

Pacitan, Katinting.com – Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar), Ali Baal Masdar bersama Ketua TP PKK Sulbar, Andi Ruskati Ali Baal dan rombongan berkunjung ke Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Di Pacitan, Gubernur disambut oleh Bupati Pacitan, Indarto dan Wakil Bupati Pacitan, Yudi Sumbogo di Pendopo Rujab Bupati Pacitan, Minggu, (9/2).

Usai melakukan silaturahim dengan Bupati dan Wakil Bupati Pacitan, Gubernur Ali Baal Masdar beserta rombongan berkesempatan mengunjungi makam Maraqdia to Kape.

Disana, lengkap dengan songkok hitam duduk bersilah diatas karpet di hadapan makam. Makam seorang leluhur yang berjasa pada bangsa ini.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulbar, Arifuddin Toppo yang ikut mendampingi Gubernur Sulbar dalam kunjungan tersebut menyampaikan, kunjungan tersebut untuk mencari tahu jejak-jejak kerajaan I Baso Boroa, bergelar Maraqdia to Kape.

Ditelusurinya jejak to Kape ini memiliki alasan. Salah satunya dikenal sebagai pahlawan tanah Mandar. Beberapa catatan yang diketahui, to Kape telah melakukan kebijakan menentang Belanda dalam monopoli sumber daya alam serta menolak sistem dagang yang diberlakukan Belanda.

Sikap penolakan dan tidak tunduk atas perintah Belanda itulah sehiangga ia disebut ‘I Baso Boroa’, yang berarti tidak penurut. Bahkan sikap menentang itu ditunjukkan dengan tidak menyerahkan hasil bumi ke Belanda, melainkan mengirimnya ke Singapura.

Dalam hal perang, I to Kape, juga telah beberapa kali melakukan perlawanan dan memukul mundur serangan Belanda di Samasundu dan Campalagian.

Singkat cerita, I to Kape kemudian terbuang ke Pulau Jawa, tepatnya di Pacitan. Karena itulah, untuk mejejaki sejarah i To Kape, Pemprov Sulbar melakukan kunjungan guna mengunjungi kuburan I to Kape di Pacita, sekaligus mencari keturunannya.

Kunjungan itu juga mengikutkan beberapa tim ahli, Salah satunya Prof Gufran Darmawan. Tujuannya, untuk mengumpulkan seluruh dokumen terkait I Tokape, dirancang sebagai usulan Pahlawan Nasional.
“Bagaimana penelusuran ini kita lengkapi untuk kita dorong menjadi pahlawan Nasional,” ujar Arifuddin.

Nama lain dari I Tokape adalah Ki Ahmad Yahya, begitu disebutkan Kepala Dinas Pariwisata Farid Wajdi, yang juga ikut serta pada kunjungan itu. “Disana kita juga bertemu dengan anak cucu,” tutur Farid Wajdi.

Selain itu, dibeberkan Farid, bahwa I to Kape pernah menjadi Raja Balanipa (Salah satu kerajaan besar di wilayah Mandar atau Sulawesi Barat), disebutkan pula telah berhasil mengembangkan sektor pertanian di Tanah Mandar.

“Saat ini sudah ada tim pengkaji yang akan mendalami dan mencari tahu sejarahnya. Sudah ada tim, salah satunya itu Prof Gufran, yang bisa menjelaskan bagaimana I to Kape ini layak menjadi Pahlawan Nasional,” tutur Farid.

Jelasnya, kata Farid, I to Kape dikuburkan di Pacitan usai menjalani hukuman vonis Belanda.

Selain Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Arifuddin Toppo dan Kepala Dinas Pariwisata, Farid Wajdi, ada juga Kepala Dinas Sosial, Bau Akram, Sekwan, Abd. Wahab Hasan Sulir, Kepala ULP Hamdani, Prof. Idham Kholid Body, DR. Muhlis Panei, Dr. Suradi Yasil dan budayawan lain.

(Advertorial Diskominfo Sulbar)

Share:

Redaksi

Media Informasi Rakyat