Mamuju, Katinting.com – Musim kemarau di Sulawesi Barat membawa tantangan kesehatan yang membutuhkan kewaspadaan kolektif. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat memperkuat edukasi, layanan primer, dan kolaborasi untuk merespons ancaman tersebut.
Di Dialog Interaktif “Tanggap Bencana” RRI Mamuju, Rabu 22 Juli 2026, Ketua Tim Kerja Pengendalian Penyakit Menular DKPPKB, Ririn Handayani, mengingatkan risiko penyakit yang mengintai saat musim kering: infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare akibat keterbatasan air bersih, dan penyakit menular lain. Ia menegaskan langkah pencegahan sederhana namun penting—menjaga kebersihan diri dan lingkungan, mencukupi asupan cairan, menjaga kualitas air minum, serta segera memanfaatkan fasilitas kesehatan saat timbul keluhan.
Kepala DKPPKB, dr. Nursyamsi Rahim, menilai edukasi yang berkelanjutan melalui radio, media digital, dan media sosial penting agar pesan kesehatan terserap luas. “Masyarakat yang berpengetahuan baik lebih siap menghadapi risiko kesehatan, termasuk di musim kemarau,” katanya, menekankan peran media penyiaran publik dalam memperkuat promosi kesehatan.
Hasil upaya promotif itu tercermin pada capaian Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Periode 1 Januari–19 Juli 2026, Sulawesi Barat mencapai 27,1 persen dari total sasaran—mengantar provinsi ini ke kelompok 10 besar nasional—dengan rata-rata 31 pengunjung per Puskesmas per hari. Menurut dr. Nursyamsi, capaian itu adalah buah kerja lintas sektor: Dinas Kesehatan kabupaten, Puskesmas, tenaga kesehatan, kader, dan mitra kerja. DKPPKB berkomitmen memperkuat kapasitas Puskesmas, memperluas jangkauan layanan, dan mengintensifkan edukasi agar deteksi dini semakin meluas.
Dalam upaya memperkaya sumber daya dan jejaring, DKPPKB menerima kunjungan koordinasi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) terkait persiapan Bakti Sosial KKN di Desa Tapandullu, Kabupaten Mamuju. Pertemuan membahas sinergi bakti sosial kesehatan, penyuluhan KIE, dan penguatan perilaku hidup bersih dan sehat. Agustina Uta Tabang Kalua, Administrator Kesehatan Ahli Muda, memfasilitasi koordinasi tersebut.
dr. Nursyamsi menegaskan peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang membawa inovasi ke desa-desa, dan menyebut kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan pemerintahan desa sebagai kunci memperkuat pelayanan kesehatan primer.
Keseluruhan inisiatif ini selaras dengan Panca Daya ke-3 Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat di bawah Gubernur Suhardi Duka: membangun sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter. Di bawah payung visi “Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera”, upaya edukasi, layanan gratis, dan kolaborasi akademik menjadi rangkaian langkah nyata menjaga kesehatan masyarakat di musim kemarau. (*/FA)






