Katinting.com, Bontang – Rencana pembangunan pelabuhan di Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Bontang Lestari kembali menegaskan perlunya sinkronisasi lintas instansi dalam penyediaan lahan dan infrastruktur pendukung. Meskipun kajian Feasibility Study (FS) telah selesai, tahapan realisasi belum bisa bergerak karena belum adanya keputusan final terkait lokasi yang dapat digunakan.
Kepala Bidang Penanaman Modal DPMPTSP Bontang, Karel, menyebutkan bahwa Pelindo merupakan pihak yang menunjukkan minat paling kuat untuk berinvestasi dalam pembangunan pelabuhan tersebut. Namun, untuk membuka jalan bagi investor, pemerintah daerah membutuhkan kejelasan batas dan status lahan dari PT Kawasan Industri Bontang (KIB).
“Diperlukan komunikasi yang benar-benar solid dengan KIB agar ada lokasi yang jelas dan tidak berbenturan dengan area yang sudah mereka bebaskan sebelumnya,” terangnya, Jumat (28/11/2025).
Namun, persoalan lokasi bukan satu-satunya faktor penentu. Karel menilai kesiapan infrastruktur transportasi turut menjadi penahan laju percepatan proyek. Akses dari Samarinda menuju Bontang dinilai belum mampu mendukung aktivitas logistik pelabuhan secara optimal.
Karena itu, pembangunan jalan tol Samarinda–Bontang dan jalur industri menuju KPI menjadi prioritas yang tidak bisa ditunda.
“Selama infrastruktur strategis belum tersedia, investor akan melihat proyek ini sebagai risiko tinggi,” ujarnya.
Ia menambahkan, minat investasi dari sektor swasta pun masih minim karena skema pengembalian modal dinilai tidak menarik. Menurutnya, hanya BUMN seperti Pelindo yang memiliki kapasitas dan keberanian untuk menjalankan proyek dengan struktur biaya besar namun potensi balik modal jangka panjang.
Meski tantangannya berlapis, DPMPTSP Bontang memastikan akan terus memperkuat koordinasi dengan KIB, Pelindo, dan pemerintah provinsi untuk menemukan titik temu terbaik. Sinkronisasi kebijakan dan percepatan pembangunan infrastruktur dinilai menjadi kunci agar proyek pelabuhan dapat segera memasuki tahap berikutnya. (Re)






