Katinting.com, Bontang – Program cek kesehatan gratis yang diluncurkan sebagai bagian dari 100 hari kerja Wali Kota Bontang tidak terbatas hanya bagi warga yang berulang tahun. Puskesmas Bontang Utara I memastikan layanan ini terbuka untuk kelompok usia produktif dan para lansia yang menjadi prioritas utama.
Kepala Puskesmas Bontang Utara I, dr. I Wayan Santika menjelaskan bahwa program ini telah berjalan sejak Februari 2025. Warga yang berulang tahun diimbau datang langsung ke Puskesmas pada hari ulang tahun mereka, membawa identitas diri, lalu mendaftar untuk pemeriksaan. Setelah terverifikasi oleh petugas, pemeriksaan akan dilakukan sesuai kategori usia dan faktor risiko.
“Namun tidak hanya yang ulang tahun, warga lansia dan usia produktif juga kami prioritaskan, karena potensi risiko kesehatannya lebih tinggi,” kata dr. Wayan saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (21/5/2025).
Hingga 19 Mei 2025, capaian wilayah kerja Puskesmas Bontang Utara I menunjukkan angka partisipasi yang cukup tinggi. Dari total sasaran 19.547 orang, sudah ada 1.906 warga yang mendaftar, dan 1.884 di antaranya hadir melakukan pemeriksaan. Target partisipasi masih berada di angka 9,64%.
Hasil skrining kesehatan menunjukkan sejumlah temuan penting. Tekanan darah tinggi atau hipertensi terdeteksi pada 442 dari 1.854 orang (23,84%), sementara obesitas teridentifikasi pada 579 dari 1.849 orang (31,31%). Obesitas sentral—yang dilihat dari ukuran lingkar perut—bahkan mencapai 59,17% dari peserta yang diperiksa.
Selain itu, 85,36% peserta dinilai kurang beraktivitas fisik, dan 20,52% masih aktif merokok. Dari pemeriksaan EKG, 10,63% menunjukkan kelainan jantung, dan 35,97% dari 831 peserta mengalami dislipidemia atau gangguan lemak darah, yang merupakan faktor risiko stroke.
Ada pula temuan terkait potensi penyakit serius lainnya. Sebanyak 6,32% dari peserta pemeriksaan paru menunjukkan risiko tinggi kanker paru. Untuk kesehatan jiwa, 4,85% menunjukkan kemungkinan depresi dan 3,54% menunjukkan gejala kecemasan.
Namun, pelaksanaan program ini masih menghadapi beberapa kendala. Salah satunya adalah keterbatasan alat pemeriksaan, terutama EKG, yang hanya tersedia satu unit dan tidak bersifat portable.
“Pemeriksaan jadi tidak maksimal. Alat EKG kami hanya satu, dan setelah digunakan untuk sekitar 10 orang sudah mulai error. Kami berharap pemerintah dapat menambah alat agar layanan bisa berjalan optimal,” harap dr. Wayan.
Ia juga menyebut masih banyak warga belum mengunduh aplikasi SATUSEHAT dan tidak melakukan skrining mandiri sebelum datang, sehingga proses pemeriksaan sering terkendala di lapangan.
Penulis : Manda Wulandari






