Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

AHY dan Menteri Transportasi Rusia Bahas MRT, Kereta Cepat, hingga Pelayaran Langsung Indonesia-Rusia

Moskow, Katinting.com – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, melakukan pertemuan dengan Andrey Nikitin di Moskow, Senin (1/6/2026), guna membahas berbagai peluang kerja sama strategis di sektor transportasi dan konektivitas antara Indonesia dan Rusia.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan bilateral antara Indonesia dan Rusia, khususnya dalam pengembangan sistem transportasi yang modern, efisien, berkelanjutan, dan berdaya saing.

Dalam pertemuan itu, AHY menegaskan bahwa transportasi memiliki peran vital bagi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri atas lebih dari 17 ribu pulau dan dihuni sekitar 280 juta penduduk.

“Bagi Indonesia, transportasi bukan sekadar sarana mobilitas, tetapi urat nadi yang mempersatukan bangsa dan menghubungkan seluruh wilayah Nusantara,” ujar AHY.

Berbagai peluang kerja sama yang dibahas meliputi pengembangan transportasi darat, perkeretaapian, transportasi laut, pelabuhan, keselamatan transportasi, hingga pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan sektor transportasi.

AHY menjelaskan, di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, pemerintah menargetkan penurunan biaya logistik nasional menjadi 12,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2029. Target tersebut dinilai penting untuk meningkatkan efisiensi ekonomi dan memperkuat daya saing nasional.

Selain itu, Indonesia juga terus mendorong transformasi sektor transportasi yang sejalan dengan target Net Zero Emissions pada 2060 atau lebih cepat. Dalam konteks tersebut, Rusia dinilai memiliki pengalaman dan keunggulan dalam pengembangan teknologi transportasi rendah karbon.

“Pengalaman Rusia dalam pengembangan teknologi propulsi alternatif dan bahan bakar rendah karbon, termasuk LNG dan amonia, dapat menjadi nilai tambah penting bagi upaya dekarbonisasi sektor transportasi Indonesia,” kata AHY.

Di sektor perkeretaapian, Indonesia membuka peluang bagi perusahaan-perusahaan Rusia untuk berpartisipasi dalam pengembangan sejumlah proyek strategis nasional, termasuk jalur Trans-Sumatera, Trans-Sulawesi, dan Trans-Kalimantan.

Kerja sama yang ditawarkan tidak hanya mencakup pembangunan jaringan kereta api, tetapi juga pengembangan teknologi perkeretaapian, manufaktur sarana dan prasarana, rekayasa kereta berkecepatan tinggi, angkutan berat (heavy-haul rail), peningkatan standar keselamatan, hingga penguatan riset dan kapasitas sumber daya manusia.

AHY juga menyoroti pengalaman Rusia dalam mengelola transportasi perkotaan modern, khususnya sistem Moscow Metro, yang dinilai dapat menjadi referensi penting dalam pengembangan MRT, LRT, dan kereta komuter di berbagai kota di Indonesia.

Selain transportasi darat, kedua negara turut membahas penguatan konektivitas udara dan laut guna mendukung perdagangan, logistik, serta mobilitas masyarakat.

Pemerintah Indonesia, kata AHY, berkomitmen mempercepat proses ratifikasi perubahan Perjanjian Angkutan Udara Indonesia–Rusia yang telah ditandatangani pada 2023.

Di sektor maritim, Indonesia juga melihat peluang untuk membuka layanan pelayaran langsung yang menghubungkan pelabuhan utama kedua negara. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat rantai pasok, meningkatkan efisiensi logistik, dan membuka koridor perdagangan maritim yang lebih kompetitif.

Menurut AHY, kerja sama internasional harus diarahkan pada manfaat konkret yang dapat dirasakan masyarakat.

“Tujuan kami sederhana, bagaimana biaya logistik semakin efisien, konektivitas antardaerah semakin kuat, investasi dan lapangan kerja semakin tumbuh, serta distribusi barang dan layanan publik dapat menjangkau masyarakat dengan lebih baik,” ujarnya.

Selain pembangunan infrastruktur, Indonesia juga mendorong kerja sama dalam pengembangan sumber daya manusia, transfer teknologi, serta penguatan industri transportasi nasional agar mampu menghadapi tantangan masa depan.

Menutup pertemuan, AHY menegaskan bahwa diplomasi harus menghasilkan dampak nyata bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

“Bagi kami, diplomasi harus menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. Karena itu, setiap pembahasan selalu diarahkan untuk mendukung pembangunan, memperkuat konektivitas, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat,” tutupnya. (*/Zk)

Share:

Redaksi

Media Informasi Rakyat