Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Pasangkayu Tergenang Lagi, Warga Beberkan Masalah Dasar Infrastruktur dan Pengawasan

Pasangkayu, Katinting.com – Sejumlah titik di Pasangkayu kembali terperangkap dalam rutinitas tahunan yang memilukan: banjir. Hujan deras yang mengguyur sejak Sabtu (11/1) dini hari kembali menggenangi kawasan permukiman, fasilitas umum, dan melumpuhkan jalan-jalan utama.

BACA JUGA: Gedung UTD RSUD Pasangkayu Senilai Rp4,1 Miliar Belum Rampung, Pekerjaan Masih Dikebut

Genangan air dengan ketinggian 30 hingga 50 sentimeter melumpuhkan aktivitas warga. Ruas-ruas vital seperti Jalan Moh Hatta, Jalan Poros Ir Soekarno, dan Jalan Sultan Hasanuddin tak bisa dilalui. Bagi masyarakat, banjir kali ini hanyalah pengulangan dari skenario yang sama yang terjadi setiap musim hujan tanpa adanya perbaikan berarti.

Pantauan langsung menunjukkan penyebab utama banjir, karena kapasitas minim: Saluran drainase yang sempit dan dangkal tidak mampu menampung debit air hujan. Sedimentasi dan sampah: Banyak saluran tersumbat akibat pendangkalan dan tumpukan sampah. Pembiaran pelanggaran: Sejumlah saluran bahkan tertutup oleh bangunan liar dan timbunan material tanpa adanya penertiban dari otoritas terkait.

Aidin, seorang warga Kelurahan Pasangkayu, menyuarakan kekecewaan yang mewakili banyak pihak. “Ini bukan kejadian baru. Setiap tahun sama. Hujan agak lama saja, air langsung naik. Seolah tidak pernah ada evaluasi serius dari pemerintah,” ujarnya dengan nada kesal. Ia menambahkan, pembiaran terhadap saluran yang tertutup adalah bentuk pengabaian yang memperparah penderitaan masyarakat.

Banjir yang berulang ini telah mengikis kepercayaan publik. Masyarakat menilai kehadiran pemerintah saat banjir dalam bentuk tanggap darurat sudah tidak memadai. Yang dituntut sekarang adalah:

  1. Pembenahan menyeluruh sistem drainase kota.
  2. Penegakan hukum tegas terhadap pelanggaran yang menyumbat saluran air.
  3. Perencanaan tata ruang yang berwawasan lingkungan dan antisipatif terhadap banjir.
  4. Program pemeliharaan berkala, bukan sekadar respons saat genangan sudah terjadi.

Tanpa langkah-langkah fundamental tersebut, banjir tahunan akan tetap menjadi takdir permanen yang terus melumpuhkan Pasangkayu setiap kali hujan turun. Masyarakat menunggu komitmen nyata, bukan janji, untuk memutus mata rantai masalah yang telah berlangsung bertahun-tahun ini. (Udi)

Share:

Redaksi

Media Informasi Rakyat